Pengamat: Independensi Indonesia Tidak Masalah jika Rusia Datang di KTT G20

0
115
Presiden Rusia, Vladimir Putin

Jakarta, Nawacita | Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Maritim Raja Ali Mohammad Riza Widyarsa mengatakan independensi politik luar negeri Indonesia tidak terpengaruh dengan mengundang Rusia datang ke KTT G20 di Bali pada November 2022. Sikap Indonesia tegas tidak ada yang mengatur.

“Indonesia tegas bahwa tidak ada yang bisa mengatur. Ketika ada aksi walkout dari delegasi Kanada, AS, dan Inggris, (Menteri Keuangan RI) Sri Mulyani menegaskan tidak masalah, terpenting diskusi mengenai forum tercapai. Itu menunjukkan sikap independensi politik luar negeri Indonesia tetap tidak masalah jika Rusia datang,” kata Riza dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.

Ketegangan antara Rusia dengan Ukraina berpengaruh terhadap jalannya KTT G20. Meskipun demikian, sebagai anggota Gerakan Non-Blok, Indonesia akan semakin kuat dalam menerapkan politik bebas aktif terkait urusan internasional, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina.

Baca Juga: Negara Barat Sepakat Walk-Out dari KTT G20, Jika Rusia Hadir

Indonesia akan selalu bersikap independen dan aktif dalam pemerintahan global, katanya.Oleh karena itu, dengan mengundang Rusia untuk hadir di G20 menjadi bukti dari sikap independensi sekaligus menegaskan posisi politik luar negeri Indonesia yang tidak mengikuti blok mana pun.

Dia menilai langkah yang dilakukan Indonesia sudah tepat dan menunjukkan netralitas sekaligus ketegasan sebagai pemegang Presidensi G20 2022 yang didominasi oleh negara-negara barat. G20 sebenarnya sama dengan Gerakan Non-Blok yang merupakan organisasi politis.

“G20 merupakan wujud implementasi paradigma liberalisme di dalam Ilmu Hubungan Internasional untuk mencapai kerja sama ekonomi demi terwujudnya perdamaian dunia,” jelasnya.

Baca Juga: Inilah Alasan Rusia Ingin Kuasai Ukraina

“Seperti India, mereka memiliki hubungan dagang yang erat dengan Rusia. Jadi, apa yang dilakukan Indonesia akan sangat didukung oleh India. Yang menarik adalah sikap Prancis, karena termasuk anggota NATO dan Uni Eropa; tetapi di satu sisi Prancis masih berusaha membina hubungan baik dengan Rusia karena banyak mengimpor gas dari Rusia, apalagi Rusia sudah mengancam akan menghentikan ekspor gas ke negara-negara Uni Eropa,” katanya.

Sikap setiap negara akan menjadi pragmatis dalam memberi dukungan atau apresiasi. Ia berpendapat kunjungan Menlu Indonesia ke beberapa negara, untuk menegaskan sikap Indonesia yang tidak menolak Presiden Rusia Valdimir Putin datang, akan berdampak pada kepercayaan bahwa G20 tetap akan netral.

“Jika G20 mendapatkan tekanan keras dan ‘disetir’ oleh AS dan NATO, dikhawatirkan hubungan dagang Rusia dan seluruh negara di G20 akan semakin memperkeruh suasana,” ujarnya. rpblk

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY