Kebaikan Disalahpahami? Ini Rahasia Tetap Ikhlas dan Tenang
JAKARTA, Nawacita — Surah Az Zukhruf ayat 84–89 merupakan penutup yang lembut, tetapi sekaligus sangat dalam. Ayat-ayat ini seperti suara yang menenangkan hati manusia yang lelah menghadapi kehidupan, penolakan, dan kebingungan dunia.
Di dalamnya ada penegasan tentang kebesaran Allah, ada kesedihan seorang nabi, dan ada pelajaran tentang bagaimana tetap tenang ketika kebenaran tidak diterima manusia.
Allah membuka rangkaian ayat ini dengan memperkenalkan diri-Nya sebagai satu-satunya Tuhan di seluruh alam semesta:
وَهُوَ ٱلَّذِى فِى ٱلسَّمَآءِ إِلَٰهٌ وَفِى ٱلْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚ وَهُوَ ٱلْحَكِيمُ ٱلْعَلِيمُ
wa huwallażī fis-samā`i ilāhuw wa fil-arḍi ilāh, wa huwal-ḥakīmul-‘alīm
“Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini terasa begitu menenangkan. Kadang manusia merasa hidup berjalan kacau. Ada ketidakadilan, ada kehilangan, ada doa-doa yang terasa lama dijawab. Tetapi Allah mengingatkan bahwa langit dan bumi ini tidak berjalan tanpa arah. Semua berada dalam kekuasaan-Nya. Tidak ada tempat yang luput dari pengawasan-Nya. Tidak ada air mata yang tidak diketahui-Nya.
Allah lalu melanjutkan:
وَتَبَارَكَ ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
wa tabārakallażī lahụ mulkus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, wa ‘indahụ ‘ilmus-sā’ah, wa ilaihi turja’ụn
“Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nya-lah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
Baca Juga: Tiap Pagi Malaikat Mengamini Kebaikan dan Keburukan, Ini Penjelasannya
Ada sesuatu yang sangat menyentuh dalam ayat ini: pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah. Dunia yang hari ini terasa begitu besar, begitu gaduh, begitu melelahkan, suatu hari akan selesai. Jabatan selesai. Kekuasaan selesai. Pertengkaran selesai. Kesombongan selesai. Yang tersisa hanyalah perjalanan kembali kepada Tuhan.
Ketika manusia terlalu bergantung kepada selain Allah, ayat berikutnya datang seperti peringatan yang lembut:
وَلَا يَمْلِكُ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ ٱلشَّفَٰعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِٱلْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
wa lā yamlikullażīna yad’ụna min dụnihisy-syafā’ata illā man syahida bil-ḥaqqi wa hum ya’lamụn
“Sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at…”
Manusia sering menggantungkan hati kepada banyak hal:kepada manusia, kepada kekuasaan, kepada harta, bahkan kepada simbol-simbol dunia. Padahal pada akhirnya tidak ada yang benar-benar bisa menyelamatkan selain Allah. Ayat ini mengajarkan ketergantungan yang paling murni: bersandar kepada Tuhan, bukan kepada makhluk.
Lalu Alquran menggambarkan satu paradoks besar manusia:
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
wa lain saaltahum man khalaqahum layaqụlunnallāhu fa annā yu`fakụn
“Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka?’ niscaya mereka menjawab: ‘Allah’…”
Betapa sering manusia sebenarnya tahu kebenaran di dalam hati mereka. Mereka tahu siapa yang menciptakan mereka. Mereka tahu siapa yang memberi napas dan kehidupan. Tetapi dunia, ego, kesibukan, dan hawa nafsu membuat manusia perlahan menjauh dari Tuhan yang sebenarnya mereka kenal.
Lalu datang ayat yang sangat manusiawi. Sangat lembut. Sangat menyentuh.
وَقِيلِهِۦ يَٰرَبِّ إِنَّ هَٰٓؤُلَآءِ قَوْمٌ لَّا يُؤْمِنُونَ
wa qīlihī yā rabbi inna hāulāi qaumul lā yu`minụn
“Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.”
Ini adalah keluhan Nabi Muhammad SAW kepada Allah. Bukan kemarahan, melainkan kesedihan. Nabi sudah menyampaikan kebenaran dengan cinta, dengan kesabaran, dengan air mata. Tetapi banyak manusia tetap menolak.
Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi pun pernah merasa sedih menghadapi manusia. Pernah kecewa. Pernah lelah. Dan Allah mendengar semuanya.
Kemudian penutup surah ini datang dengan nada yang begitu tenang:
فَٱصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَٰمٌ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
faṣfaḥ ‘an-hum wa qul salām, fa saufa ya’lamụn
“Maka berpalinglah dari mereka dan katakanlah: ‘Salam’. Kelak mereka akan mengetahui.”
Kadang hidup tidak memberi kita kemenangan secepat yang diinginkan. Tidak semua orang akan memahami niat baik kita. Tidak semua perjuangan akan langsung dihargai manusia.
Tetapi Allah mengajarkan satu sikap yang sangat indah: tetap tenang, tetap bermartabat, tetap membawa kedamaian.
“Salam.” Bukan balas dendam. Bukan kebencian. Bukan amarah yang meledak-ledak.
Ayat ini seperti mengajarkan: tidak semua pertarungan harus dimenangkan dengan suara keras. Ada saatnya seseorang cukup berjalan pergi dengan hati yang tetap bersih, lalu menyerahkan semuanya kepada Allah.
Mungkin di situlah letak keindahan penutup Surah Az-Zukhruf: ketika manusia tidak lagi sibuk membuktikan dirinya di hadapan dunia, tetapi memilih tenang karena tahu bahwa Allah mengetahui seluruh isi hatinya. rpblk

