Harga LPG Non Subsidi Naik sampai Rp2.600 per Kg

0
378
Kebijakan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga LPG non subsidi secara bertahap sebesar Rp1.600-Rp2.600 per kilogram (kg) sejak Sabtu (25/12) lalu membuat masyarakat menjerit.

Jakarta, Nawacita – Kebijakan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga LPG non subsidi secara bertahap sebesar Rp1.600-Rp2.600 per kilogram (kg) sejak Sabtu (25/12) lalu membuat masyarakat menjerit.

Sri Hartati (53) misalnya. Ibu rumah tangga asal Bogor mengatakan kebijakan itu berpotensi menekan kehidupannya. Pasalnya, ia merupakan salah satu konsumen tabung gas LPG 12 kg.

Sebelum kenaikan, ia mengaku harus mengeluarkan Rp160 ribu untuk membeli gas untuk kebutuhan satu hingga dua bulan. Dengan asumsi kenaikan harga Rp2.600 per kg yang diberlakukan Pertamina sekarang, pengeluaran itu bisa membengkak jadi Rp191.200.

“Jangan kemahalan lah, itu menindas masyarakat, ini kita lagi usaha. Lagi terpuruk gini keadaan,” ujarnya, Senin (27/12).

Perempuan yang sehari-hari membuka usaha laundry itu mengatakan pembengkakan pengeluaran itu sangat terasa baginya. Apalagi di saat yang sama, harga bahan pokok juga naik.

“Sekarang telur naik, ayam naik, cabe naik. Berat banget, kalau bisa jangan semuanya naik lah,” imbuhnya.

Segendang sepenarian dengan Sri, keluhan juga disampaikan Yeni Agustini (36). Ibu rumah tangga asal Kabupaten Bandung Barat merasa keberatan dengan kenaikan LPG non subsidi tersebut.

“Keberatan lah, terlebih harga bahan pokok juga naik. Masa gas harus naik juga,” ujarnya.

Yeni biasa membeli LPG 12 kilogram (kg) dengan harga Rp150 ribu. Namun, jika dengan kenaikan Rp2.600 per kg, maka diasumsikan kini Yeni harus membayar Rp181.200.

Menurut Yeni kenaikan harga juga bisa lebih tinggi kalau sudah sampai ke agen-agen pengecer gas. Karena itu ia pun berharap pemerintah bisa lebih mengontrol kenaikan harga tersebut agar tidak terlalu drastis.

Senada, Andini Siwi Pratiwi (33) seorang ibu rumah tangga asal Bekasi juga merasa keberatan dengan kenaikan LPG non subsidi. Keluhannya pun sama seperti Sri, yakni kebutuhan yang kian meningkat karena kenaikan juga terjadi pada bahan pokok seperti minyak, telur dan lainnya.

“Jujur kalau ibu rumah tangga sangat keberatan karena kan berasa. Apa lagi sekarang kenaikan bukan hanya LPG kan. Tapi serentak dari mulai minyak dan lain lain. jadi berasa banget,” katanya.

Ia mengaku biasa membeli LPG 12 kg seharga Rp145 ribu hingga Rp165 ribu bergantung agen tempat ia membeli. Gas tersebut biasa ia gunakan untuk kebutuhan selama enam bulan. Kini jika diasumsikan dengan kenaikan Rp2.600 per kg, Andini harus membayar Rp196.200 untuk gas 12 kg dari yang sebelumnya Rp165 ribu.

Sebelumnya, Pertamina menaikkan harga LPG non subsidi secara bertahap sebesar karena lonjakan harga di level internasional.

“Besaran penyesuaian harga LPG non subsidi yang porsi konsumsi nasionalnya sebesar 7,5 persen berkisar antara Rp1.600-Rp2.600 per Kg. Perbedaan ini untuk mendukung penyeragaman harga LPG ke depan serta menciptakan fairness harga antar daerah,” jelas Pjs Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Sub Holding Pertamina Commercial & Trading Irto Ginting kepada CNNIndonesia.com.

Irto menyebut kenaikan harga LPG non subsidi dilakukan guna merespons tren peningkatan harga Contract Price Aramco (CPA) LPG yang terus meningkat sepanjang 2021.

Ia mencatat pada November 2021 harga mencapai US$847/metrik ton, itu harga tertinggi sejak 2014 atau naik 57 persen sejak Januari 2021.

CNN.

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY