Wednesday, May 13, 2026

Gubernur Koster Kobarkan Semangat Pendidikan di HUT SMK Negeri 3 Kintamani

Gubernur Koster Kobarkan Semangat Pendidikan di HUT SMK Negeri 3 Kintamani

Bangli, Nawacita | Gubernur Bali Wayan Koster menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-17 SMK Negeri 3 Kintamani yang berlangsung di Desa Dausa, Kintamani, Bangli, Senin (11/5/2026).

Kehadiran Gubernur Koster didampingi Sang Nyoman Sedana Arta serta dua mantan Bupati Bangli, I Nengah Arnawa dan Made Gianyar, disambut hangat ribuan siswa, guru serta masyarakat setempat.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, Wayan Koster tidak hanya memberikan arahan sebagai kepala daerah, tetapi juga membagikan kisah hidupnya yang penuh perjuangan sejak kecil. Di hadapan para siswa, Koster mengenang masa kecilnya yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi di desa.

Baca Juga: Gubernur Koster: Pelaku Usaha Pariwisata Wajib Kelola Sampah Mandiri demi Jaga Masa Depan Wisata Bali

Ia mengaku sejak duduk di bangku Kelas 4 SD sudah bekerja membantu orang tua, mulai dari meburuh nyangkul, membajak sawah, hingga mengangkut bata merah dan bahan bangunan dengan berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Kehidupan keluarga saat itu sangat sederhana, bahkan makanan sehari – hari hanya ubi, talas dan singkong.

“Waktu SD Kelas 4 saya sudah bekerja membantu keluarga. Semua hasil kerja tidak pernah saya pakai sendiri, langsung diserahkan ke ibu untuk biaya sekolah,” ungkap Koster.

Koster mengatakan kehidupan keras yang dijalaninya sejak kecil justru membentuk karakter disiplin dan mental kuat. Dari lima bersaudara, hanya dirinya yang mampu menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi karena keterbatasan biaya keluarga.

Baca Juga: Buka Musprov INKINDO, Gubernur Koster Ajak Konsultan dan Kontraktor Lokal Terlibat dalam Pembangunan Bali

Namun keterbatasan itu tidak mematahkan semangatnya. Berbekal kemampuan akademik di bidang matematika, fisika dan kimia, Koster diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) meski harus berangkat dengan bekal hasil menjual ayam, anak sapi serta bantuan kerabat.

Untuk bertahan hidup di Bandung, ia mengajar les privat matematika sambil kuliah. Dari penghasilan itulah ia membiayai hidupnya, bahkan membantu keluarganya di kampung.

“Kalau hidup susah jangan menyerah. Saya bisa sampai di titik ini karena kerja keras, disiplin dan ditolong banyak orang baik,” ujarnya disambut tepuk tangan para siswa. lcn

- Advertisement -
RELATED ARTICLES

Terbaru