Pengrajin Tenun Limbungan Bangkit Lestarikan Budaya Sekaligus Perkuat Ekonomi Keluarga Bersama
Pekanbaru, Nawacita – Semangat para pengrajin tenun di Kelurahan Limbungan, Kecamatan Rumbai Timur, Pekanbaru, tidak padam meski sempat dihantam pandemi Covid-19 dan banjir yang merusak seluruh perlengkapan produksi. Kini, tradisi menenun kembali hidup dan menjadi harapan baru untuk memperkuat ekonomi keluarga sekaligus menjaga warisan budaya Melayu.
Kelompok Tenun Srikandi Serumpun Limbungan Gemilang yang sempat berhenti berproduksi kini kembali aktif dengan 15 anggota. Kebangkitan tersebut didukung melalui program pengembangan UMKM Ekonomi Pemuda dan Perempuan Crafting dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) yang membantu menghidupkan kembali aktivitas para penenun.
Melalui program tersebut, PHR mengajak para pengrajin yang sempat vakum untuk kembali berkarya, memperbaiki fasilitas produksi, menyediakan kebutuhan benang, menyelamatkan alat tenun yang masih layak digunakan, serta memberikan pendampingan agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Dukungan tersebut menjadi angin segar bagi kami untuk kembali berkarya dan menghidupkan potensi lokal yang sempat nyaris tenggelam,” kata Salma Betty yang sekaligus penggerak kelompok tenun.
Komitmen mengembangkan keterampilan para penenun juga diwujudkan melalui pelatihan rutin sejak Juni 2026. Kegiatan berlangsung dua kali setiap pekan dengan target 10 sesi pelatihan. Antusiasme seluruh anggota yang selalu hadir menunjukkan tekad mereka untuk terus meningkatkan kualitas hasil tenun.
“Menenun menjadi ruang bagi kami para ibu untuk terus berkarya dan lebih produktif. Setiap kain yang nantinya akan menghasilkan membawa harapan besar, karena selain menjadi kebanggaan, juga membuka peluang untuk meningkatkan perekonomian kami,” ujar Salma Betty.
Pendampingan tersebut turut mendorong peningkatan kualitas produksi. Kelompok Tenun Srikandi Serumpun kini memiliki standar produksi dengan target setiap alat tenun mampu menghasilkan 15 lembar kain berkualitas yang tetap mempertahankan identitas budaya Melayu.
Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal, menilai kebangkitan aktivitas menenun tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat pelestarian budaya lokal.
“Kebangkitan aktivitas tenun di Limbungan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat upaya pelestarian warisan budaya di tengah arus modern,” kata Manager CID PHR Iwan Ridwan Faizal.


