Caption : Petugas Dishub Kota Pasuruan Yang Langsung Memungut PAD Parkir Di Lapangan. (Foto: Rahmat/Nawacita)
Pasuruan, Nawacita — Bau sangit kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor parkir sudah lama menjadi penyakit kronis di banyak daerah, tak terkecuali di Kota Pasuruan. Menyadari lumbung pendapatan daerah yang rawan susut akibat sistem yang usang, Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pasuruan, Hermanto, memilih turun gelanggang. Ia tak mau lagi birokrasinya sekadar duduk manis di balik meja menunggu setoran.
Hermanto meluncurkan gebrakan taktis: sistem jemput bola. Kini, petugas Dishub tak lagi menanti itikad baik juru parkir (jukir) untuk datang ke loket, melainkan memburu langsung retribusi dari tangan para jukir di bibir-bibir jalan raya.
Selama bertahun-tahun, sistem konvensional yang mengandalkan para jukir untuk menyetorkan hasil parkir secara mandiri terbukti tumpul. Celah manipulasi menganga lebar, dan potensi pendapatan kerap menguap entah ke mana.
“Kita ubah paradigmanya. Kalau birokrasi hanya pasif menunggu bola, PAD akan terus bocor. Petugas harus hadir di lapangan, pungut langsung di titik parkir pada waktu yang presisi,” ujar Hermanto di Pasuruan, Rabu (13/5/2026).
Gebrakan Hermanto ini bukan sekadar perkara memungut uang receh di jalanan. Skema proaktif ini dirancang sebagai instrumen pengawasan melekat (built-in control). Saban hari, petugas Dishub berseragam lengkap menyisir kantong-kantong parkir di sepanjang jalan protokol hingga sudut-sudut pusat perbelanjaan Kota Pasuruan.
Di lapangan, petugas tidak hanya bertindak sebagai ‘kasir keliling’. Mereka melakukan audit seketika: mencocokkan volume kendaraan yang terparkir dengan bonggol karcis yang tersobek. Pendekatan ini efektif memutus rantai ‘kucing-kucingan’ yang acap terjadi antara oknum jukir nakal dan pengawas.
Di lapangan, kebijakan ini memunculkan reaksi beragam dari para ujung tombak perparkiran. Sebut saja Wawan (48) bukan nama sebenarnya-seorang jukir resmi di kawasan Alun-Alun Kota Pasuruan, menyambut baik efisiensi waktu dari sistem ini.
“Dulu repot harus ninggalin lahan parkir buat setor ke pos atau kantor. Kalau sekarang petugas yang datang, kita bisa terus jaga motor pelanggan,” kata Wawan.
Menurut Hermanto, terapi kejut (shock therapy) ini langsung membuahkan transparansi. Pemetaan potensi parkir yang selama ini buram di atas kertas, kini menjadi terang benderang.
Begitu sistem jemput bola ini berjalan, pihaknya langsung tahu anatomi parkir di Pasuruan. Dari sini tahu mana titik yang potensinya raksasa tapi setorannya selama ini kerdil. Ia memastikan, titik-titik anomali tersebut akan langsung dievaluasi dan ditindak.
“Tidak ada lagi ruang untuk alasan sepi, jika fakta di lapangannya padat merayap,” tegasnya.
Sektor perparkiran memang selalu menjadi ‘lahan basah’ yang menantang nyali pemerintah kota mana pun. Langkah progresif Hermanto menuai apresiasi sebagai bentuk nyata kehadiran negara di jalanan, memastikan tidak ada satu rupiah pun uang rakyat yang masuk ke kantong pribadi.
Ke depan, Dishub Kota Pasuruan memproyeksikan sistem jemput bola manual yang agresif ini sebagai jembatan transisi. Begitu kedisiplinan dan pemetaan titik parkir telah mapan, pemerintah kota bersiap melakukan lompatan besar menuju digitalisasi retribusi parkir secara komprehensif. “Demi mewujudkan tata kelola kota yang modern, transparan, dan bersih dari pungutan liar,” pungkasnya.
Penulis : Rahmat


