Harga Cabai Rawit Melonjak Akibat Tingginya Curah Hujan

0
139
Salah satu pedagang cabai di Surabaya.

Surabaya, Nawacita – Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur, Nanang Triatmoko, mengungkapkan, terjadinya peningkatan harga cabai rawit, menjelang natal dan tahun baru (Nataru). Di tingkat petani saja, kata dia, harga cabai rawit mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim harga rata-rata cabai rawit di wilayah setempat Rp 78.327 per kilogram.

Di Kota Surabaya, harga cabai rawit di Pasar Genteng sebesar Rp 60.000. Kemudian di Pasar Keputran mencapai Rp 100.000, di Pasar Pucang Anom Rp 90.000, di Pasar Tambahrejo Rp 78.000, dan di Pasar Wonokromo Rp 90.000. “Meningkatnya harga ini disebabkan stok dan produksinya yang mulai berkurang akibat curah hujan yang cukup tinggi,” kata Nanang, Selasa (14/12).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo, mengatakan, berdasarkan perkembangan tanaman tegakan pada kuartal ketiga 2021, potensi luas panen komoditas cabai rawit pada November seluas 1.441 hektar dan Desember seluas 8.764 hektar. Sesuai kondisi tersebut, potensi produksi komoditas cabai rawit di November mencapai 7.347 ton dan potensi produksi Desember sebesar 16.583 ton.

“Potensi ketersediaan cabai rawit pada  November surplus sebesar 1.816 ton dan  Desember diprediksi surplus 11.052 ton,” ujar Hadi.

“Untuk mempertahankan ketersediaan cabai ini, beberapa hal menjadi perhatian. Antara lain mengantisipasi adanya dampak La Nina berupa bencana hidrometeorologi banjir yang berpotensi mengancam sektor pertanian. Selain itu optimalisasi pewaspadaan terjadinya peningkatan serangan organisme penganggu tumbuhan, karena musim hujan memiliki kelembaban tinggi,” ujar Hadi.

Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji mengatakan Pemerintah Kota Surabaya telah menggelar operasi pasar di seluruh kecamatan di Kota Pahlawan dan upaya menstabilkan harga kebutuhan menjelang Nataru. Salah satu komoditas yang dijual dalam operasi pasar tersebut adalah cabai.

“Memang menjadi siklusnya saat pergantian musim dan bertepatan dengan natal dan tahun baru. Selain itu, turunya level PPKM menyebabkan permintaan cabai tinggi karena restoran sudah buka kembali,” kata Armuji.

Rpblk.

LEAVE A REPLY