Ada di Garda Depan, Profesionalisme Perawat sangat Dibutuhkan

0
148
Revina Anisandra, Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang.

Nawacita – COVID-19 atau corona virus pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China  Desember 2019 dan kemudian menjadi pandemi global yang berkelanjutan saat ini. Virus tersebut telah meluas di 114 negara hingga 12 Maret 2020, termasuk Indonesia (WHO, 2020). Virus tersebut dipastikan telah menginfeksi penduduk Indonesia pada Maret 2020 (Pusat, 2020).

Hingga 30 November 2021, virus tersebut telah menyebar ke 34 provinsi di Indonesia, dengan total 4.256.409 kasus terkonfirmasi, 4.104.657 kasus sembuh, dan 143.830 kasus kematian (covid19.go.id). Sayangnya, angka kematian (3,4%) di Indonesia dan berada di peringkat kedua se-Asia Tenggara (covid19.kemkes.go.id). Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menurunkan angka kematian tersebut.

Upaya yang telah dilakukan di Indonesia antara lain pembatasan sosial berskala besar, tinggal di rumah atau bekerja dari rumah, dan kampanye media sosial terkait cuci tangan, physical distancing, dan penggunaan masker wajah secara baik dan benar. Namun, progres penurunan jumlah kasus COVID-19 relatif lambat. Hal ini karena sebagian masyarakat mungkin tidak bisa berdiam diri di rumah karena masalah ekonomi, dan sebagian mungkin masih belum memahami kebenaran kasus COVID-19 di Indonesia.

Karena COVID-19 adalah penyakit yang baru diidentifikasi, vaksin dan perawatan yang efektif masih dalam pengembangan. Dengan demikian, dalam menangani penyakit menular yang baru diidentifikasi ini, perawat menghadapi potensi risiko infeksi serta potensi kecemasan terkait pekerjaan dan masalah kesehatan mental. Penting untuk menerapkan pengetahuan terbaru untuk melindungi profesional kesehatan dan staf perawat yang merawat pasien dengan COVID-19. Penyedia layanan kesehatan harus dididik tentang bahaya penyakit menular, termasuk penggunaan alat pelindung diri yang tepat, praktik kebersihan pribadi yang tepat, dan tindakan lingkungan terkait.

Seperti yang telah dilakukan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang (RSSA) selaku rumah sakit rujukan COVID-19. RSSA mengadakan beberapa pelatihan dan pemberian edukasi kepada perawat dalam rangka menghadapi COVID-19 dan tuntutan profesionalisme.

Bagong Priyantono, Kepala Bagian Keperawatan RSSA mengungkapkan, beberapa pelatihan  telah diikuti perawat RSSA adalah pelatihan Pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) secara baik dan benar dengan dipandu seorang ahli di bidang tersebut. Pelatihan dilakukan mulai dari pemasangan sampai pelepasan APD, sehingga diharapkan tidak terjadi penularan pada tenaga kesehatan yang lainnya.

Selanjutnya, RSSA juga mengadakan edukasi (penyuluhan) tentang Burn Out yang ditujukan agar perawat tidak sampai mengalami jenuh ataupun putus asa karena terlalu lama menangani pandemi COVID-19. Kegiatan dilakukan dalam penyuluhan tersebut antara lain, jalan santai sambil mendengarkan musik, melakukan pemanasan, senam aerobik, serta berdansa ria. Dari segi spiritual, para perawat diajak untuk mendengarkan pengajian serta memberikan motivasi pada pasien untuk bersama-sama saling menguatkan dalam rangka memerangi COVID-19.

Menurut Bagong Priyantono, COVID-19 membuat tatanan pelayanan kesehatan di RSSA menjadi berubah total dari kebiasaan yang normal menjadi kebiasaan baru (new normal). Segala kebijakan yang dikeluarkan RSSA perlu dipikirkan dengan matang sehingga Standar Prosedur Operasional (SOP) juga harus dibuat dengan menyesuaikan panduan dari Kementerian Kesehatan. Hampir setiap bulan pemerintah mengeluarkan panduan – panduan yang digunakan RSSA sebagai dasar dalam penyusunan SOP. Antara lain Prosedur Pengobatan, Prosedur Perawatan dengan Oxygenasi, dll. Penyampaian SOP kepada seluruh perawat dilakukan melalui zoom meeting atau penyuluhan langsung dengan tetap menerapkan social distancing.

Tidak berhenti disitu, awal tahun 2021 di Indonesia sudah mulai diterapkan vaksin sebagai bentuk proteksi terhadap virus COVID-19. Perjuangan perawat masih berlanjut untuk memasikan apakah vaksin telah sampai ke seluruh daerah-daerah yang terpencil. Masih banyaknya pola pikir masyarakat yang menganggap vaksin menakutkan menjadikan sasaran vaksin tidak selalu terpenuhi. Hal ini menjadi tugas perawat sebagai vaksinator yang terjun langsung ke lapangan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya vaksin bagi kekebalan tubuh. Pemberian wawasan kepada perawat salah satunya dilakukan dengan kegiatan webinar gratis, yang selanjutnya ilmu yang diperoleh dapat disalurkan kepada masyarakat awam.

Walaupun pandemi COVID-19 belum berakhir, RSUD Dr. Saiful Anwar Malang akan berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik didukung dengan tenaga kesehatan yang profesional dan kompeten.

Penulis         : Revina Anisandra

Pendidikan      : Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY