Tips Menghindari Dosa Dusta dan Ghibah

0
396
Ilustrasi.
Ilustrasi.

JAKARTA, Nawacita Setiap manusia pasti pernah terjerumus dalam perbuatan maksiat. Kemaksiatan yang paling mudah menjerumuskan seseorang adalah maksiat mata dan maksiat lisan. Dan di antara kemaksiatan lisan adalah dusta dan ghibah. Padahal, kedua kemaksiatan ini (ghibah dan dusta) adalah kategori dosa-dosa besar.

Ustadz Rikza Maulan, Dai yang juga Dewan Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat menjelaskan, dusta adalah dosa besar yang disejajarkan dengan syirik dan durhaka pada orang tua. Sementara ghibah diumpamakan seperti memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah mati. Atau seperti orang yang melakukan riba yang paling berat dan berbahaya. Betapa besarnya dosa jika setiap hari kita ‘mengkonsumsi’ dusta dan ghibah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap penyakit tentu ada obatnya. Demikian juga penyakit hati dan lisan, seperti dusta dan ghibah. Allah Ta’ala memberi berbagai jalan untuk manusia agar dapat mengobati dirinya dari penyakit-penyakit seperti ini.
Berikut cara agar bisa menghindari dusta dan ghibah sebagaimana disampaikan Ustadz Rikza Maulan:

1. Meningkatkan rasa ‘muraqabatullah’’ yaitu sebuah rasa dimana kita senantiasa tahu bahwa Allah mengetahui segala tindak tanduk yang kita lakukan, baik ketika seorang diri maupun di saat bersama-sama. Baik ketika orang yang kita bicarakan ada di antara kita ataupun tidak ada. Allah pasti mengetahuinya.

Baca Juga: Biar Cepat Kaya, Kerja Keras Saja Tidak Cukup Tambahkan Amalan Ini

2. Meningkatkan keyakinan kita bahwa setiap orang yang kita bicarakan, pasti akan dimintai pertanggung jawabannya dari Allah Ta’ala kelak. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman: “Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.”

3. Menahan emosi dan mencegah amarah. Karena keduanya merupakan faktor yang dapat membawa seseorang pada ghibah dan dusta.

4. Tabayyun (mengecek) terhadap informasi yang datang dari seseorang, sebelum membicarakannya pada orang lain. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

5. Beramal dan berusaha untuk dapat menciptakan suasana yang ‘Islami’, di lingkungan kerja, rumah, dan sebagainya dengan membuat kesepakatan dan keteladanan untuk tidak membicarakan kejelekan orang lain, apalagi berbohong. Di samping itu juga keharusan adanya teguran, kepada orang yang secara sengaja atau tidak dalam membicarakan orang lain.

6. Jika kita merupakan orang yang menjadi obyek pembicaraan, kita pun harus menanggapinya dengan akhlak yang baik dan bijaksana. Kita mencek kembali, mengapa mereka membicarakan kita, siapa saksinya kemudian diselesaikan dengan baik.

7. Imbauan secara khusus kepada orang-orang yang menjadi panutan, baik dalam kantornya, masyarakatnya atau di mana saja, untuk menjauhi hal ini (ghibah dan dusta), supaya mereka yang berada di bawahnya dapat mencontoh. Karena apabila para panutan ini memberikan keteladanan yang buruk, maka para bawahannya pun akan mengikutinya.
Baca Juga: Nabi Muhammad SAW, Guru Paling Baik di Muka Bumi

8. Mengajak orang lain untuk menghindari diri dari penyakit ini dengan cara tidak membicarakan orang lain. Tidak mendengarkan jika ada orang yang membicarakan orang lain, memberikan teguran dan lain sebagainya.

9. Mengingat-ingat kembali tentang hukum dusta dan ghibah serta akibat yang akan ditimbulkan dari adanya hal seperti ini.

Karena itu, hendaknya kita memperbaharui taubat kita kepada Allah Ta’ala dan berjanji untuk tidak terjerumus kembali pada ghibah dan dusta, semampu kita. Apalagi jika kita merenungi bahwa salah satu sifat mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (رواه البخاري)

Dari Abdullah bin Amru RA, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah seseorang yang menjadikan muslim lainnya selamat (terjaga) dari lisan dan tangannya. Sedangkan muhajir adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah Ta’ala. (HR. Al-Bukhari).

sdnws.

LEAVE A REPLY