Mengenal Fetish, Terkait Kasus Pelecehan Seksual Kain Jarik yang Viral

0
1052
Mengenal Fetish, Terkait Kasus Pelecehan Seksual Kain Jarik yang Viral.
Mengenal Fetish, Terkait Kasus Pelecehan Seksual Kain Jarik yang Viral.

JAKARTA, Nawacita Jagat Twitter dihebohkan dengan utas pengakuan seorang warganet yang menjadi korban pelecehan seksual. Pelecehan ini dilakukan oleh seorang pria predator fetish kain jarik dengan modus riset tugas akhirnya. Lalu apa arti fetish?

Fetish kain jarik viral di Twitter

Pelecehan yang geger karena dibongkar di Twitter ini dilakukan oleh seorang pria predator fetish kain jarik dengan modus riset tugas akhirnya. Pengakuan tersebut diungkapkan oleh akun Twitter @m_*****s.

Melalui aplikasi chat WhatsApp, pelaku meminta korban untuk membantu menjadi objek riset tentang bungkus membungkus. Nantinya, objek harus dibungkus menggunakan selotip dan kain jarik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Risetnya dilakukan dengan dalih untuk melihat respon alami objek yang dibungkus.

Pelaku bernama Gilang, mengaku sebagai mahasiswa angkatan 2015 di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ia mencari korban dengan cara mengajak berkenalan lewat Instagram. Korban lainnya yang pernah dihubungi, ikut mengungkapkan kisahnya di utas tersebut.

Setelah semakin viral, warganet menyimpulkan bahwa Gilang memiliki fetish terhadap orang yang dibungkus kain jarik. Menyadur dari Psychology Today, fetish adalah daya tarik seksual pada benda mati atau bagian dari tubuh yang secara tradisional tidak dipandang sebagai seksual.

Baca Juga: Mengenal Nymphomania, Kelainan Seksual Yang Dialami Oleh Wanita

Fetish sebenarnya normal bagi seksualitas manusia. Tetapi, apabila tingkat gairahnya mengganggu fungsi seksual dan sosial, fetish dikatakan bermasalah. Individu yang memiliki fetish akan memiliki ketergantungan dan fokus yang sangat spesifik pada hal yang menurutnya menarik dan bisa mendapatkan gairah dan kepuasan seksual.

Fetish disebut gangguan fetishistic apabila ada tekanan pribadi dan mengganggu fungsinya dalam bidang sosial, pekerjaan atau fungsi lainnya. Mereka yang mengidentifikasi dirinya memiliki fetish tetapi tidak melakukan pengaduan ke psikolog, akan dianggap hanya memiliki fetish dan bukan gangguan fetishistic. Sementara gangguan fetishistic lebih banyak diidap pria daripada wanita.

Benda fetish yang umum di antaranya pakaian dalam, kaos kaki, barang dari karet, dan pakaian dari kulit. Sedangkan bagian tubuh yang berhubungan dengan fetish termasuk kaki, jari kaki, dan rambut. Tak jarang, beberapa orang juga memadukan benda mati dan bagian tubuh seperti penggunaan kaos kaki di kaki.

Gambar benda fetish bisa meningkatkan gairah pada beberapa orang, meskipun lebih membutuhkan objek yang sebenarnya. Selain itu, orang dengan fetish biasanya akan memegang, menggosok, mengecap, atau mencium objek fetish untuk mencapai kepuasan seksual. Bisa juga meminta pasangannya untuk mengenakan objek fetishnya selama berhubungan seksual.

Penyebab Fetishism

Penyebab fetish pada dasarnya belum dapat dipastikan dengan jelas, namun bisa dipastikan bahwa kebanyakan fetishist adalah kaum pria. Dilansir dari Psychology Today, fetisisme bisa berkembang pada masa remaja, maupun sebelum masa remaja. Banyak ahli yang percaya bahwa ketertarikan pada objek fetish berkaitan dengan pengalaman di masa kanak-kanak, di mana suatu benda dihubungkan dengan gairah seksual yang kuat.

Sebuah studi lain menunjukkan bahwa anak yang menjadi korban atau pengamat dari perilaku seksual menyimpang cenderung akan meniru atau bahkan akan mengalami penyimpangan yang lebih parah. Dalam kasus lainnya, fetisisme disebabkan oleh rasa minder pria pada potensi dan maskulinitasnya yang sehingga menimbulkan rasa takut akan penghinaan dan penolakan. Objek fetish dijadikannya sebagai pelampiasan dari perasaan tidak mampunya tersebut.

Apakah Fetishism Berbahaya?

Bahaya atau tidaknya fetish bisa diukur dari tingkatan dan juga jenis fetisisme yang dialami. Fetisisme baru bisa dianggap sebagai sebuah gangguan jika perilaku ini sudah merugikan dan mengganggu kegiatan sehari-hari fetishist. Berikut adalah tingkatan fetisisme yang perlu Anda ketahui:

  • Desires atau pemuja, pada tahap ini fetisisme tidak berbahaya. Meskipun terdapat objek fetish yang bisa membangkitkan gairahnya, pada tingkatan ini seseorang tidak terganggu aktivitas seksualnya jika objek fethisnya tidak ada.
  • Cravers atau pecandu, pada tahap ini seseorang akan mulai terganggu aktivitas seksualnya jika tidak mendapatkan objek fetish yang diinginkannya.
  • Fetishist menengah, pada tahap ini seseorang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan objek fetish yang diinginkannya. Tindakan yang mungkin dilakukan adalah seperti mencuri benda fetish atau menculik seseorang yang memiliki bagian tubuh yang menjadi fetish baginya.
  • Fetishist tingkat tinggi, pada tahap ini penderita semakin sadis dan tidak peduli terhadap sekitarnya. Ia hanya akan peduli pada objek fetishnya. Jika objek fetishnya adalah anggota tubuh, fetishist hanya akan peduli terhadap anggota tubuh tersebut, tidak pada pemilik tubuhnya ataupun hal lainnya.
  • Fetishistic Murderers, tahap ini merupakan tahap terparah pada fetisisme. Fetishist tidak akan segan untuk membunuh atau memutilasi untuk mendapatkan objek fetish yang diinginkannya.

Selain bahaya fetish bergantung pada tingkatannya, fetisisme juga bisa berbahaya bergantung pada objek fetishnya. Beberapa jenis fetish yang cukup berbahaya adalah seperti Blood Fetish, Necrofilia (fetish mayat), Teratofilia (mendapatkan kepuasa seksual dengan menjadi cacat), Anthropophagolagnia (mendapatkan kepuasan seksual dengan memerkosa).

Jika muncul pertanyaan tentang bahaya atau tidaknya fetish, tentunya jawabannya adalah bisa iya dan bisa juga tidak. Fetisisme pada tahap desires adalah satu-satunya fetish yang aman karena tidak akan terlalu mengganggu kehidupan seksual seseorang. Pada seseorang yang benda fetishnya berupa pakaian dalam, alas kaki, atau benda sejenisnya dan masih dalam tahap desires, tentunya tidak akan menjadi masalah, apalagi jika pasangannya telah mengetahui dan memaklumi fetish tersebut.

Baca Juga: Mengenal Bipolar Disorder, Gangguan Mental Dengan Perubahan Suasana Hati yang Ekstrim

Terdapat juga beberapa situasi yang dianggap sebagai fetisisme, padahal hanya berupa fantasi seks. Memiliki fantasi seks merupakan hal yang wajar bagi pria maupun wanita. Umumnya fantasi seks hanya didorong oleh rasa penasaran saja dan jika dilakukan belum tentu menimbulkan efek kecanduan.

Sedangkan pada fetish benda tak lazim dan juga sudah mulai menyakiti orang lain, dibutuhkan penanganan oleh ahli untuk dapat mengembalikan perilaku seksual yang normal.

Menangani Fetishism

Terdapat beberapa cara untuk menangani fetisisme atau gangguan fetisistik. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi fetisisme:

1. Psikoterapi

Cara pertama yang bisa dilakukan seseorang untuk terlepas dari objek fetish adalah dengan psikoterapi. Jenis terapi yang satu ini memang ampuh untuk menyembuhkan gangguan jiwa, termasuk juga berbagai gangguan parafilia (gangguan terkait dengan ketertarikan seksual).

2. Terapi kognitif perilaku

Cara kedua yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan fetisisme adalah terapi kognitif perilaku atau yang disebut juga dengan cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini merupakan perpaduan dari psikoterapi dan juga terapi perilaku. Umumnya CBT berfokus dengan satu masalah spesifik dalam hidup pasien, dalam hal ini tentunya adalah tentang fetish.

3. Hipnoterapi

Cara kedua untuk dapat terlepas dari objek fetish adalah dengan hipnoterapi. Hipnosis sendiri pada dasarnya adalah keadaan di mana Anda berkonsentrasi penuh hingga kemampuan menerima sugesti Anda meningkat. Hipnoterapi terbilang ampuh untuk mengatasi berbagai masalah psikologis seperti kecemasan, pikiran, hingga membantu pemulihan dari trauma.

Hipnoterapi juga bahkan bisa menyembuhkan atau membantu meredakan rasa sakit pada fisik. Karena keunggulan dari hipnoterapi ini maka hipnoterapi juga bisa membantu menangani fetisisme dan gangguan ketertarikan seksual lainnya.

4. Terapi obat

Cara selanjutnya adalah dengan menggunakan terapi obat. Pemberian obat umumnya diberikan sebagai pendamping dari terapi. Obat yang diberikan biasanya bertujuan untuk menurunkan gairah seksual dari penderita sehingga frekuensi dari ereksi, fantasi seksual, keinginan untuk melakukan hubungan seksual, hingga masturbasi juga berkurang.

Penanganan untuk fetisisme tentunya tidak akan cukup dengan satu atau dua kali sesi terapi, tapi membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tapi layaknya gangguan atau penyimpangan mental lainnya, dengan penanganan yang tepat, penderita bisa menjalani hidup dengan normal dan pulih secara perlahan.

drshtnws.

 

LEAVE A REPLY