Mengenal Bipolar Disorder, Gangguan Mental Dengan Perubahan Suasana Hati yang Ekstrim

0
553
Ilustrasi Bipolar Disorder.
Ilustrasi Bipolar Disorder.

SURABAYA, Nawacita Manusia mempunyai berbagai emosi dan perasaan seperti rasa senang, sedih, gembira, dan murung. Kita akan merasa bahagia  saat merespon sesuatu yang menyenangkan, tetapi setelah beberapa saat, perasaan itu akan menghilang atau mereda. Kita dapat merasakan kesedihan, tetapi tetap akan hilang setelah beberapa waktu. Perasaan manusia datang silih berganti tergantung suasana yang ada.

Tapi tidak dengan orang yang mengidap bipolar disorder. Orang dengan kondisi mental ini, suasana hatinya bisa berubah dengan ekstrim. Tiba-tiba senang, lalu sepersekian detik lainnya bisa menjadi sangat sedih tanpa pandang suasana. Apa itu bipolar? Kupas tuntas penjelasannya di sini.

Apa itu gangguan bipolar?

Bipolar disorder atau yang juga dikenal sebagai gangguan bipolar adalah suatu kondisi mental yang menyebabkan terjadinya perubahan mood yang ekstrem. Hal ini membuat orang yang memiliki gangguan ini dapat berubah perasaan secara tiba-tiba dari sangat bahagia (mania) menjadi sangat sedih (depresi). Sering kali, di antara perubahan keduanya, pasien tetap mengalami kondisi mood yang normal.

Saat pasien merasa sedih, ia akan merasa tertekan, kehilangan harapan, dan bahkan dapat kehilangan keinginan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Tetapi saat merasa senang, pasien akan merasa sangat bersemangat dan penuh gairah. Perubahan mood tersebut dapat terjadi beberapa kali dalam setahun. Kondisi jiwa ini dapat menyebabkan rusaknya hubungan pribadi, rendahnya motivasi dan produktivitas di tempat kerja, dan yang lebih buruk lagi dapat menyebabkan perasaan ingin melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, orang-orang dengan bipolar disorder sangat disarankan untuk menghubungi bantuan medis saat mengalami perubahan mood yang signifikan

Apa saja tanda-tanda bipolar disorder?

Berdasarkan  pengertian dari The American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar dapat dibedakan menjadi dua yaitu gangguan Bipolar I dan II.

Gangguan Bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu mania dan depresi. Gangguan Bipolar II ditandai dengan hipomania dan depresi. Selain kedua tipe kondisi mental tersebut, masih ada lagi yang disebut cyclotimia.

Baca Juga: Mengenal Gejala Gangguan Jiwa Manusia di Sekitar Anda

Perilaku mania dan hipomania adalah kondisi pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menunjukkan ekspresi kegembiraan berlebihan. Misalnya orang dengan kondisi ini  merasa banyak ide, paling pintar, menggampangkan permasalahan, yang kemudian menciptakan pikiran positif berupa perasaan bahagia berlebihan, tingkah laku terlalu gembira, dan terlihat menonjol. Pada tingkat perilaku hipomania, orang dengan bipolar disorder masih dapat mengendalikan diri, sementara mereka yang berperilaku mania sudah tidak dapat mengendalikan diri. Fase mania dialami selama 2 minggu sampai 4 – 5 bulan (rata-rata sekitar 4 bulan)

Sementara itu,  perilaku depresi adalah kondisi pikiran yang negatif, putus asa, dan tidak ada ide. Orang dengan depresi diliputi perasaan sedih, tidak bersemangat yang berlebihan, cenderung bertingkah laku pendiam, pemalas, dan tidak mau bersosialisasi dengan lingkungannya. Bahkan terkadang pada tingkat depresi yang sangat tinggi, timbul perasaan ingin bunuh diri. Fase depresi dialami lebih lama daripada fase mania yaitu sekitar 6 bulan, tetapi pada orang yang berusia lebih tua dapat dialami lebih dari setahun.

Berikut merupakan ciri-ciri orang yang mengalami bipolar:

Selama episode mania, beberapa ciri dan gejala lain yang dapat muncul, antara lain:

  • Merasa terlalu bahagia dan bersemangat.
  • Sangat sensitif dan mudah tersinggung.
  • Banyak makan.
  • Tidak terasa mengantuk karena merasa sangat berenergi
  • Bersikap gegabah dan melakukan kegiatan-kegiatan yang berisiko.
  • Berbicara dengan sangat cepat dan mengubah topik pembicaraan dari satu topik ke yang lainnya.
  • Mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan penilaian atau pembuatan suatu keputusan.
  • Anda bisa juga dapat melihat hal-hal aneh dan mendengar suara-suara misterius.

Sedangkan, dalam episode depresi ada beberapa tanda dan gejala gangguan mental ini adalah:

  • Merasa sangat bersedih dan kehilangan harapan pada jangka waktu yang panjang.
  • Kehilangan ketertarikan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
  • Nafsu makan menurun
  • Merasa ngantuk dan malas.
  • Merasa terlalu sadar diri dan minder.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Memiliki pemikiran untuk bunuh diri.

Apakah kondisi mental ini merupakan penyakit menular?

Bipolar bukanlah penyakit menular karena tidak ada agen yang menjadi penyebab (etiologi) seperti bakteri, kuman, virus, dan sebagainya. Di dunia psikiatri, meskipun organ yang terkena adalah otak, tetapi tidak dapat ditunjuk satu atau beberapa agen yang menjadi penyebab. Dengan demikian, terjadinya gangguan jiwa tidak dapat ditularkan dari satu individu ke individu lain.

Apa penyebab kondisi ini terjadi?

Ada berbagai faktor yang menyebabkan seseorang menderita gangguan bipolar, yaitu:

  • Faktor biologis

Adanya gangguan disebabkan oleh kelainan pada zat kimiawi di sel saraf otak. Ketidakseimbangan ini ditunjukkan antara lain oleh respon penderita terhadap obat-obatan yang bekerja pada sistem saraf tersebut.

  • Faktor genetik

Individu yang salah satu orang tuanya menderita kondisi mental ini , memiliki risiko 15 – 30% untuk juga menderita gangguan bipolar. Jika kedua orangtuanya menderita bipolar, kemungkinan 50 – 75% anaknya akan menderita kondisi ini uga. Pada kembar identik, risiko 33 – 90% saudara kembar akan menderita juga. Sebanyak 10 – 15% keluarga dari pasien yang mengalami gangguan bipolar pernah mengalami satu episode gangguan mood.

  • Faktor psikososial

Peristiwa dalam kehidupan yang penuh tekanan akan menyebabkan perubahan dalam biologi di otak maupun perubahan signal dalam saraf. Informasi yang dialami akan disimpan di dalam otak yang akan terpanggil kembali pada satu kejadian yang membangkitkan memori. Proses memori terjadi meskipun tidak ada sesuatu yang berasal dari luar yang memicunya.

Saya mengalami gejala-gejala di atas. Apakah saya mengidap bipolar disorder?

Seseorang dapat mendeteksi dirinya mengalami gangguan jiwa hanya dalam tahap deteksi awal saja. Namun, diagnosis hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional seperti dokter ahli kedokteran jiwa. Selain diagnosis kedokteran, profesi lain yang berkaitan dengan kesehatan jiwa juga mempunyai diagnosis atau penamaan sendiri.

Baca Juga: Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental Dengan Perubahan Perilaku

Diagnosis dibuat berdasarkan kriteria yang ada dengan melakukan pemeriksaan klinis, tanda dan gejala lewat hasil pengamatan, wawancara pada pasien atau orang lain yang terdekat dengannya seperti orangtua, anak, suami/istri, teman, dan lainnya. Pasien akan diminta menceritakan kisahnya dan psikiater akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan mengenai hal yang digambarkan.

Apa beda antara depresi dan gangguan bipolar?

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai apa saja beda depresi dan bipolar disorder, berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda perhatikan:

1. Penyebab depresi dan gangguan bipolar berbeda total

Meskipun hingga saat ini para peneliti belum menemukan secara pasti apa penyebab bipolar, mereka meyakini bahwa faktor genetik lebih berperan penting dalam menyebabkan bipolar. Dua zat kimia di otak, serotonin dan norepinephrine, menjadi berantakan pada seseorang yang mengalami bipolar. Sedangkan depresi lebih dipengaruhi oleh beragam hal, mulai dari faktor genetik, perubahan hormon, penggunaan obat-obatan, hingga stress kronis.

2. Depresi menyebabkan sedih berkelanjutan, bipolar menyebabkan seseorang bolak-balik merasa bahagia dan sedih

Gangguan bipolar menyebabkan seseorang mengalami dua fase berbeda, yaitu fase ‘’mania’’ dan ‘’depresi’’ yang bisa muncul bergantian. Gejolak perubahan mood ini bisa terjadi drastis, dan  seringkali muncul tidak sesuai dengan situasi-kondisi yang sedang terjadi. Misalnya, pada saat sedang hangout hura-hura bersama teman, pengidap bipolar malah merasa sedih tanpa sebab.

Ketika seseorang berada pada fase ‘’mania’’ maka seseorang akan berada pada puncak mood, sangat bersemangat, tidak bisa tidur, banyak bicara dibanding biasanya, berbicara sangat cepat, gampang teralihkan konsentrasinya, dan berpikir jangka pendek tanpa berpikir akibatnya. Fase ‘’mania’’ biasanya berlangsung selama 7 hari. Di antara fase ‘’mania’’ dan ‘’depresi’’, terdapat fase ‘’psychosis’’ yang merupakan suatu kondisi dimana seseorang akan merasa asing terhadap dunianya dan berhalusinasi –atau memiliki ide-ide yang tidak masuk akal. Sementara ketika seorang bipolar berada pada fase ‘’depresi’’, ia cenderung mengalami gejala yang sama seperti orang yang mengalami depresi.

Biasanya, seseorang dapat mengembangkan kecenderungan kondisi mental ini pada rentang usia remaja hingga 30an.

3, Beda penyakit, beda pula gejala yang ditimbulkan

Beda depresi dan bipolar disorder seringkali sulit untuk dibuat diagnosis resminya karena kedua gangguan mental ini sering menunjukkan gejala yang sama. Namun, ada beberapa hal yang dapat menjadi pembeda untuk menentukan diagnosis apakah seseorang mengalami depresi atau gangguan bipolar. Pada dasarnya, orang dengan bipolar akan mengalami episode mania. Namun tidak demikian pada orang dengan gangguan depresi.

Baca Juga: Mengenal Fobia Sosial, Gangguan Mental yang Diidap Sulli F(X)

Depresi dapat ditandai dengan gejala fisik seperti munculnya perasaan sakit nyata di tubuhnya (baik yang dapat dijelaskan sebabnya ataupun tidak), munculnya perasaan sedih/cemas, putus asa, marah, kehilangan ketertarikan terhadap sesuatu hal atau kehilangan ketertarikan untuk berinteraksi dengan lingkungan, kehilangan nafsu makan, kesulitan untuk tidur atau insomnia, kesulitan untuk berkonsentrasi, membuat keputusan, mengingat, halusinasi, dan munculnya pikiran untuk melukai diri sendiri.

Sedangkan ciri orang yang mengidap gangguan ini dapat diamati dengan kecenderungan untuk melukai diri sendiri, suasana hati yang tidak stabil atau berubah secara drastis, dan lebih sensitif terhadap sesuatu.

4. Beda depresi dan bipolar bisa dilihat dari obatnya

Beda depresi dan bipolar, maka pengobatannya pun juga berbeda. Depresi bisa berlangsung singkat, dan pada kasus depresi klinis yang berlangsung lama, pilihan pengobatan termasuk mengikuti konseling CBT dengan psikoterapis atau menggunakan resep obat antidepresan. Sedangkan pada pengidap bipolar biasanya akan mendapatkan pengobatan yang lebih intens, karena bipolar merupakan kondisi yang dapat berlangsung seumur hidup dan lebih kompleks tergantung dari tingkat keparahan fase yang dialaminya.

Oleh karena itu waspadai juga gejala-gejala depresi pada diri sendiri, terutama kelelahan, sakit kepala, dan rasa mual yang terus berkelanjutan. Segera konsultasikan dengan dokter untuk menemukan perawatan dan obat yang tepat untuk diri Anda.

hsenws.

LEAVE A REPLY