Antara Nikotin dan TAR: Mana yang Lebih Berbahaya?

0
141
rokok ilegal
Ilustrasi.

Jakarta, Nawacita – Publik masih belum sepenuhnya mengetahui perbedaan mendasar antara nikotin dan TAR pada rokok. Banyak yang beranggapan bahwa nikotin dan TAR memiliki bahaya yang sama terhadap kesehatan manusia, termasuk sebagai penyebab kanker. Bagaimana fakta sebenarnya?

Ahli Toksikologi dari Universitas Airlangga, Sho’im Hidayat, menjelaskan nikotin tidak memiliki efek karsinogenik, zat yang dapat menyebabkan pertumbuhan sel kanker. Efek penggunaan nikotin adalah dapat memberikan rasa ketenangan, tapi dapat menyebabkan ketergantungan.

Sebelumnya, UK Royal College of Physicians, institusi medis di Inggris melakukan tinjauan penelitian yang mengonfirmasi bahwa nikotin menyebabkan ketergantungan, namun risiko penyakit disebabkan oleh kandungan lain yang berbahaya dari asap rokok akibat pembakaran.

“Jadi, tidak benar jika nikotin dianggap sebagai komponen paling berbahaya pada rokok dan menjadi pemicu utama dari berbagai macam penyakit kronis. Efek negatif nikotin dapat menciptakan ketergantungan,” terang Sho’im kepada media.

Nikotin memiliki persamaan dengan kafein, zat alkaloid yang secara alami terkandung dalam kopi. Saat dikonsumsi, keduanya merangsang sistem saraf pusat, yang bisa memiliki manfaat kognitif jangka pendek, namun efek samping dari nikotin maupun kafein adalah ketergantungan.

Adapun TAR, Sho’im menjelaskan, adalah zat kimia berbahaya yang dihasilkan dari proses pembakaran, termasuk rokok. Berdasarkan data National Cancer Institute Amerika Serikat, TAR mengandung berbagai senyawa karsinogenik yang dapat memicu kanker. Dari sekitar 7.000 bahan kimia yang ada di dalam rokok, 2.000 diantaranya terdapat pada TAR.

“Pada rokok, subtansi membahayakan itu adalah TAR, yang di dalamnya mengandung ribuan bahan kimia. Kami mendefinisikannya sebagai zat beracun,” ujar Sho’im.

Ketika asap rokok dihirup, Sho’im mengatakan, TAR akan terpapar ke bagian dalam paru-paru, yang selanjutnya dapat menyebabkan kanker, stroke, penyempitan pembuluh darah, dan kehancuran kantung udara paru-paru (emfisema).

“Jadi bukan nikotin yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, melainkan TAR. Publik masih keliru tentang perbedaan antara nikotin dan TAR, jadi pemerintah harus aktif memberikan informasi yang akurat serta edukatif kepada masyarakat,” ucapnya.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, metode penghantaran nikotin telah dimodifikasi, sehingga perokok memiliki substitusi yang dapat membantu berhenti merokok. Mengingat pembakaran menghasilkan TAR, maka proses inilah yang dieliminasi oleh para peneliti.

Hasil perkembangan teknologi tersebut beragam jenisnya, mulai dari Nicotine Replacement Therapy (NRT) seperti koyo nikotin, maupun produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik. Produk-produk tersebut tetap mengandung nikotin yang dibutuhkan oleh para perokok, namun tanpa pembakaran sehingga penggunanya tidak terpapar TAR.

Sejumlah negara sudah memperkenalkan produk tembakau alternatif, seperti Inggris. Data dari studi merokok nasional Public Health England menunjukkan penurunan jumlah perokok dewasa sebesar 2,2 persen dari Januari hingga Juli 2019, atau setara dengan sekitar 200 perokok setiap jam.

“Pemerintah Inggris melalui Public Health England menyarankan penggunaan produk tembakau alternatif yang dibarengi dengan obat-obatan dan pendampingan konseling. Hasilnya, di Inggris tingkat kesuksesan berhenti merokok meningkat pesat dibandingkan dengan metode berhenti merokok secara mendadak atau cold turkey,” jelas Sho’im.

Ahli Biomedik dari Universitas Brawijaya, Masdiana Chendrakasih Padaga, menambahkan bahwa berdasarkan kajian Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention), merokok menyebabkan 80 persen kasus kematian akibat kanker paru-paru pada wanita.

“Sementara para pria, bisa mencapai sebesar 90 persen kasus kematian akibat kanker paru-paru. Ini disebabkan oleh TAR pada rokok,” katanya.  Untuk mengurangi bahaya dari rokok, Masdiana menyarankan perokok untuk berhenti merokok.

Jika mengalami kesulitan untuk berhenti, perokok bisa beralih ke produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan dan rokok elektrik. “Produk tembakau alternatif memiliki risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan rokok karena tidak ada proses pembakaran, sehingga tidak menghasilkan TAR,” ujarnya.

Produk tembakau alternatif hanya menghasilkan uap (aerosol) dari penggunaannya. Hal ini dikarenakan tidak adanya proses pembakaran, melainkan proses pemanasan yang terkontrol, sehingga tidak menghasilkan asap yang mengandung TAR serta abu sisa pembakaran.

Produk tembakau alternatif memang tidak sepenuhnya bebas risiko. Namun, produk ini memiliki risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok, sehingga dapat menjadi alternatif bagi perokok dewasa untuk beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko daripada terus merokok yang lebih berbahaya.

“Selain itu, mereka juga tetap mendapatkan nikotin yang dicari oleh para perokok. Upaya tersebut telah terbukti dapat mengurangi angka perokok di sejumlah negara, seperti di Inggris dan Jepang,” tutup Masdiana.

lp6

LEAVE A REPLY