2025, Bukalapak Prediksi Uang Beredar di Bisnis Digital USD 130 M

0
269
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Padang,Nawacita – Associate Vice President of Public Policy and Government Relations Bukalapak, Bima Laga, memperkirakan jumlah uang yang beredar dalam bisnis digital pada tahun 2025 bakal mencapai US$  130 miliar. Angka itu sesuai dengan peta perjalanan bisnis di era digital pada enam tahun yang akan datang.

Besarnya nilai uang yang beredar itu, menurut Bima, bisa menjadi daya tarik peluang usaha dalam perdagangan digital bagi generasi muda. “Generasi muda harus ikut serta dan mengambil peluang yang ada untuk menjadi pengusaha secara digital karena banyak kemudahan yang didapatkan,” kata Bima saat memberikan arahan kepada ribuan mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) di Padang, Rabu, 27 Februari 2019.

Bima menjelaskan, dari hasil survei yang ada, sekitar 15 persen populasi di Indonesia adalah pengguna internet. Mereka ada yang menggunakan internet hanya sekedar media sosial, namun masih sedikit yang melakukan transaksi dalam jaringan (online).

“Kami mengajak mahasiswa untuk terlibat aktif menjadi pengusaha dalam bisnis digital. Mulailah dari hal yang kecil dan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usaha yang dimiliki,” katanya.

Menurut Bima, sistem digital ini mampu menyebar informasi terkait produk yang dihasilkan kepada banyak orang terutama kepada kalangan pengguna ponsel pintar yang kerap berselancar di dunia maya.

Lebih jauh Bima mencontohkan perusahaannya sendiri, Bukalapak, yang didirikan pada Januari 2010 oleh tiga anak muda. Awalnya mereka bertujuan untuk memfasilitasi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) menjual produk mereka secara online.

“Seiring perkembangan teknologi, Bukalapak juga memperbaiki sistem dan pelayanannya hingga saat ini. Banyak produk menarik yang ditawarkan mulai bayar tagihan listrik, air, telepon, hingga investasi emas. Beberapa waktu ke depan kami akan menyediakan layanan pembayaran pajak secara online,” ujar Bima.

Sementara itu, Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Kemendag RI I Gusti Ketut Astawa mengatakan e-commerce atau perdagangan digital hanya mengubah sistem penjualan dari tradisional dengan jangkauan terbatas menjadi penjualan dalam jaringan dengan jangkauan yang luas. “Namun kami memastikan perdagangan digital ini tentu tidak boleh merusak tatanan yang telah ada dan kami tentu membuat regulasi untuk melindungi hal tersebut,” ujarnya.

Astawa menargetkan melalui kegiatan sosialisasi e-commerce di 46 perguruan tinggi ini mampu melahirkan 1.000 pelaku usaha berbasis digital dan membuat perekonomian bangsa semakin kuat. “Kami membuat aturan untuk mendorong pelaku bisnis digital lebih nyaman dalam bekerja dan memberikan kepastian hukum atas usaha mereka,” katanya.

 

tmpo

LEAVE A REPLY