BI Dukung Industri Produk Halal di Indonesia

0
431

Surabaya, Nawacita.co – Memasuki Hari ke empat penyelengaraan The 5th Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) , yaitu mengupas serba serbi industri dan gaya hidup halal. kali ini mengangkat tema “Strengthening National Economic Growth : The Creation of Halal Value Chains and Innovative Vehicles”

Dengan Memperhatikan hal tersebut, kebutuhan terhadap produk yang memiliki jaminan halal kian lama kian diperlukan oleh sebab itu Setiap perusahaan yang tidak mempertimbangkan bagaimana melayani segmen konsumen tersebut, akan kehilangan kesempatan yang signifikan dari hulu sampai ke hilir.

Bank Indonesia bekerjasama dengan LPPOM MUI, Disperindag Dan Dinkop UMKM Provinsi Jatim menginisiasi program sertifikasi halal yang diberikan pada 100 UMKM yang tersebar di seluruh Jawa Timur.

Saat ini, masyarakat mulai memiliki kesadaran terhadap aspek halal suatu produk, tidak hanya di Indonesia, namun juga di luar negeri. Oleh karena itu, halal value chain menjadi aspek yang penting dalam peningkatan kualitas produk, termasuk produk ekspor Indonesia,” tutur Difi A.Johansyah

Sementara itu, Sukoso, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) mengatakan “Sejarah sertifikasi halal di Indonesia diawali pada tahun 1988, ketika Prof. Dr. Tri Susanto dari Universitas Brawijaya menemukan produk turunan dari babi seperti gelatin maupun lemak babi dalam makanan dan minuman. Saat itu, penjualan produk mengalami penurunan sebesar 20-30%, hal ini disampaikan dalam talkshow “Sertifikasi Halal untuk UMKM Indonesia” di ISEF 2018 (14/12).

Ditambahkan pula proses mengeluarkan sertifikasi halal, BPJPH melibatkan berbagai pihak, antara lain LPPOM MUI yang bertugas Mengawasi Proses Produk Halal (PPH) ” kami ingin memastikan tersertifikasi dan telah mendapat jaminan halal,” tutur Suroso

Ditempat yang sama Bambang Sudibyo selaku Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengatakan “Saat ini realisasi pengumpulan dana zakat nasional baru sekitar 6,2 triliun atau 2,92% dari total potensi zakat yg seharusnya bisa mencapai sekitar 235,16 triliun. Karenanya, optimalisasi pemanfaatan zakat sebagai salah satu instrumen keuangan syariah sangat penting dilakukan,” tuturnya.

Pada hari kempat ini ada sejumlah kesepakatan senilai total lebih dari Rp 6,7 trilyun Diantaranya, kesepakatan kerjasama senilai Rp 10 Milyar antara Unit Usaha Syariah (UUS) Bank DKI dengan KSPS BMT UGT Sidogiri, kerjasama senilai Rp 13 Miliar antara PT Food Station Tjipinang dengan UD Sahabat

(Dny)

LEAVE A REPLY