Antisiapasi kasus longsor Garut BPBD Jatim Pasang 64 Alat Pemantau Longsor

0
504
KONDISI PASCA LONGSOR GARUT JAWA BARAT
SURABAYA, NAWACITA Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur akan memasang 64 alat pemantau longsor (ekstensometer). Pemasangan alat pendeteksi longsor dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau basah yang masih terjadi serta jelang masuknya musim penghujan.
Hal ini dilakukan agar kasus longsor di Garut yang memakan banyak korban jiwa tidak terjadi di wilayah Jatim. “Kita tidak ingin peristiwa seperti di Garut itu terjadi di Jawa Timur. Oleh sebab itu kita harus mengantisipasi sedini mungkin sebelum longsor terjadi,” kata Kepala BPBD Jatim Sudarmawan, kemarin.
Sebanyak 64 ekstensometer, ini akan dipasang di 22 kabupaten/kota diantaranya Kabupaten Nganjuk, Pacitan, lantas Bondowoso, Kabupaten Kediri, Lumajang, Ponorogo, Kabupaten pasuruan, Kabupaten Tulungagung, serta Kota Batu.
Lebih lanjut diterangkan, ekstensometer merupakan perangkat elektronika yang berfungsi mengukur parameter pergeseran tanah. Sensor ini menggunakan potensiometer multiturn sebagai komponen utama disertai dengan rangkaian penguat dan pengkondisi sinyal.
Kata Sudarmawan, sistem kerja dari ekstensometer ini, akan mendeteksi pergerakan tanah, curah hujan dan sudut kemiringan permukaan tanah. Jika tiga indikator ditangkap ekstensometer, maka otomatis membunyikan alarm dengan sirine yang telah dipasang.
“Alat ini diciptakan oleh peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dengan adanya alat ini lebih memberikan rasa aman pada masyarakat. Sebab sebelum longsor terjadi, masyarakat sudah bisa mengantisipasinya,” ujar dia.
Sebelumnya, Gubernur Jatim Soekarwo pernah menyatakan untuk menghindari terjadi korban jiwa tanah longsor, pihaknya mengajak masyarakat memanfaatkan alat komunikasi massal untuk menyampaikan tanda bahaya.
Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini menerangkan, titik rawan longsor di Jawa Timur jauh dari pemukiman padat penduduk. “Penduduknya sedikit sekali karena belum ada infrastruktur, sehingga kita diuntungkan dengan kelambatan infrastruktur juga,” kilah dia.
Dilanjutkan, hanya ada di daerah Wonosolam Kabupaten Jombang, yang banyak penduduknya dan dinilai membahayakan terjadi rawan longsor.
Untuk itu ia menyarankan kepada masyarakat untuk memanfaatkan kentongan untuk memberitahukan bahaya. “Ketongan itu ‘kan alat komunikasi massal tradisional yang masih bisa dimanfaatkan untuk mengabar bencana yang akan terjadi, kepada masyarakat secara cepat,” pungkas dia.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Jatim Eddy Paripurna mengaku sangat mendukung langkah yang dilakukan BPBD. Ia mengakui kondisi di Jawa Timur tidak sama dengan Garut. “Di Jatim ini wilayah-wilayah rawan longsornya memang jarang penduduk. Namun demikian, langkah antisipastif wajib dilakukan, agar jangan sampai jatuh korban jiwa. Stakeholder terkait harus terus melakukan koordinasi,” ujar Eddy Paripurna. (Arbil)

LEAVE A REPLY