JK Minta BUMN RI Bersaing

0
462
Kementerian BUMN
Kementerian BUMN

JAKARTA, NAWACITA – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diharapkan menjadi pilar dan bagian penting dari permbangunan ekonomi Indonesia.

Sebagai negara yang menganut paham ekonomi terbuka, perekonomian nasional RI tidak terlepas dari pengaruh global yang berkembang sangat pesat.

Konsekuensinya adalah kebijaksanaan pembinaan BUMN senantiasa mengalami penyesuaian-penyesuaian mengikuti kondisi dan perkembangan perekonomian nasional.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan perusahaan apapun yang ingin berkembang dengan baik, harus siap dengan persaingan. Dan persaingan harus siap dengan efisiensi.

“Karena persaingan adalah siapa yang paling efisien. Keterbukaan itu persaingan luar dan dalam. Kalau dulu persaingannya lebih banyak di dalam. Sekarang persaingan antar perusahaan juga terjadi. Contohnya, tentu bersaing dengan perusahaan swasta, antara BUMN juga bersaing, antara BUMN Indonesia dengan BUMN Singapura, dengan Malaysia. Di (pameran) sini ada Khazanah, tentu juga ada Temasek, di Indonesia diwakili bank-bank yang ada. Artinya, persaingan itu secara level terjadi di bangsa kita,” ujarnya saat membuka acara Indonesian Business Development (IBD) di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (8/9/2016).

Lanjut JK, selain kontribusi BUMN yang terus diharapkan sebagai agen pembangunan, BUMN juga harus terus berinovasi agar dapat bersaing dengan segala perkembangan ekonomi yang sangat cepat terjadi di masa ini.

“Bersaing di segala level. Tentu dibutuhkan kecepatan, hal yang profesional dibanding dahulu. Kalau dulu, kita dipaksa membaca bukan terpaksa membaca Antara karena tidak ada sumber lain. Sekarang tiap detik ada sumber lain. Oleh karena itu tingkat persaingan makin besar. Kita tidak bisa dipaksa lagi seperti zaman dahulu, membaca, melihat, menonton TVRI. Ada sumber lain. Begitulah dunia,” tutur dia.

Peningkatan daya saing melalui inovasi dan peningkatan efisiensi guna menyediakan produk yang berkualitas dengan harga yang kompetitif serta pelayanan yang baik pun menjadi keharusan menghadapi tantangan tersebut.

“Jadi apabila kemajuan itu didukung oleh suatu dorongan kuat, tingkat efisiensi kalau dulu selalu dianggap swasta lebih efisien dari BUMN. Terbukti pada saat krisis 98 ternyata tidak benar. Lebih banyak perusahaan swasta yang jatuh dibanding BUMN. Tapi tergantung siapa yang menjalankan perusahaan itu. Bukan siapa perusahaan itu,” pungkasnya.

Sumber : detik.com

LEAVE A REPLY