PG Madukismo, Warisan Sultan HB IX yang Tetap Bertahan Berkat Kemitraan Petani
Bantul, Nawacita – Di tengah berkurangnya jumlah pabrik gula di Indonesia, PT Madubaru PG-PS Madukismo masih berdiri kokoh sebagai satu-satunya pabrik gula yang beroperasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdiri sejak 1955 di Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, pabrik ini menyimpan sejarah panjang yang tidak hanya berkaitan dengan industri gula, tetapi juga upaya menyelamatkan lapangan pekerjaan masyarakat pascakemerdekaan.
Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru PG-PS Madukismo, Mahmud Safrudin, mengungkapkan bahwa pendirian pabrik tersebut merupakan gagasan visioner Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk mengatasi tingginya angka pengangguran setelah 19 pabrik gula peninggalan masa kolonial Belanda dibumihanguskan.
“Dulu di Yogyakarta ada 19 pabrik gula yang dibumihanguskan karena digunakan sebagai markas tentara Belanda. Sepuluh tahun setelah kemerdekaan, dibangunlah PG Madukismo dengan tujuan utama memberikan kembali lapangan pekerjaan bagi para pekerja yang kehilangan mata pencaharian,” ujar Mahmud.
Menurutnya, langkah Sultan Hamengku Buwono IX saat itu bukan semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis, melainkan mengutamakan kesejahteraan masyarakat Yogyakarta yang terdampak hilangnya industri gula.
Bertahan dengan Kemitraan Petani
Memasuki era modern, PG Madukismo tetap harus menjalankan usaha secara profesional dan berorientasi pada keberlanjutan bisnis. Namun, perusahaan mempertahankan nilai-nilai awal yang menempatkan petani sebagai bagian penting dalam rantai produksi.
Mahmud menjelaskan, keberlangsungan perusahaan hingga saat ini tidak lepas dari pola kemitraan yang kuat dengan petani tebu. Dalam konsep tersebut, petani tidak diposisikan sebagai buruh, melainkan sebagai mitra strategis.
“Kami memiliki slogan ‘Petani adalah Mitra Sejati’. Hubungan yang saling menguntungkan inilah yang membuat perusahaan tetap bertahan dan berkembang,” katanya.
Ia menambahkan, kondisi industri gula memang mengalami pasang surut dari waktu ke waktu. Namun, kemitraan yang terjalin dengan baik menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas usaha.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan petani, sekitar 66 persen hasil produksi dibagikan kepada petani mitra. Skema tersebut dinilai mampu menciptakan hubungan yang lebih adil sekaligus mendorong petani untuk terus meningkatkan produktivitas.
Menjaga Warisan Industri DIY
Lebih dari sekadar pabrik gula, PG Madukismo menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara pemerintah daerah, perusahaan, dan petani dalam menjaga keberlangsungan industri berbasis kerakyatan. Warisan pemikiran Sultan Hamengku Buwono IX yang mengutamakan penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan masyarakat masih terasa hingga kini.
Di usia lebih dari tujuh dekade, PG Madukismo tidak hanya menjadi saksi sejarah perjalanan industri gula di Yogyakarta, tetapi juga bukti bahwa kemitraan yang kuat dengan petani dapat menjadi fondasi utama keberlanjutan sebuah usaha.


