Sunday, June 21, 2026

Pekerja Muda Rentan Burnout, Dokter Bagikan Tips agar Tetap Sehat dan Produktif

Pekerja Muda Rentan Burnout, Dokter Bagikan Tips agar Tetap Sehat dan Produktif

JAKARTA, Nawacita — Burnout menjadi masalah serius di kalangan tenaga kerja muda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan secara resmi telah mengklasifikasikan burnout dalam revisi ke-11 Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11) sebagai fenomena okupasional. Artinya, kondisi ini diakui secara global sebagai masalah serius yang berkaitan dengan pekerjaan.

Dokter di Harley of London, dr Yogesh Nain, menilai burnout telah mencapai tingkat yang dapat disebut sebagai epidemi diam-diam (silent epidemic). Menurutnya, kondisi ini tidak selalu tampak seperti penyakit fisik, tetapi memiliki dampak besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan individu.

“Epidemi diam-diam ini telah menyebar di kalangan pekerja akibat kombinasi jadwal kerja yang padat, paparan teknologi digital yang berlebihan, serta tekanan terus-menerus untuk mencapai target dan mempertahankan performa,” kata dr Nain dilansir laman Hindustan Times, Jumat (19/6/2026).

la menjelaskan bahwa kehadiran ponsel pintar dan laptop membuat banyak profesional tetap terhubung dengan pekerjaan mereka bahkan setelah pulang ke rumah. Kondisi ini memicu stres kronis dan kelelahan mental yang secara perlahan mengurangi daya tahan psikologis seseorang.

Dokter Ungkap Cara Mengatasi Burnout yang Kerap Menyerang Generasi Muda.

“Berbeda dengan stres jangka pendek yang dapat membantu meningkatkan fokus, stres kronis justru mengikis kemampuan otak untuk berfungsi secara optimal, sehingga seseorang menjadi kelelahan secara emosional dan mengalami gangguan kognitif,” kata dr Nain.

Apa saja tanda awal kelelahan kerja (burnout)? Menurut dr Nain, burnout jarang muncul secara tiba-tiba atau dengan gejala yang mencolok. Sebaliknya, kondisi ini berkembang perlahan dan memberikan sejumlah tanda peringatan dinì yang sering kali diabaikan karena dianggap sebagai stres biasa.

Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain rasa lelah yang terus-menerus meski sudah beristirahat, sulit berkonsentrasi, serta gangguan daya ingat atau mudah lupa. Selain itu, penderita juga dapat menjadi lebih mudah tersinggung, marah, dan mengalami perubahan suasana hati. Burnout juga kerap ditandai dengan menurunnya kinerja di tempat kerja, gangguan tidur, hingga sakit kepala yang terjadi berulang kali.

“Gejala-gejala ini sering diabaikan sebagai stres biasa. Padahal mengabaikan gejala justru memperparah kondisi burnout,” kata dr Nain.

Selain memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas, burnout juga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan dalam jangka panjang. Risiko yang dapat muncul antara lain hipertensi, diabetes, penurunan sistem kekebalan tubuh, depresi, serta gangguan kecemasan.

“Dalam kasus yang lebih berat, burnout juga dapat berkontribusi terhadap munculnya penyakit kardiovaskular dan ketergantungan terhadap zat tertentu,” kata dr Nain.

Baca Juga: Burnout Meluas! 52% Karyawan Kelelahan Kerja, Gen Z di Urutan Teratas

Dia menekankan bahwa semakin lama otak mengalami beban berlebih, semakin sulit proses pemulihannya. Karena itu, pencegahan menjadi langkah terbaik untuk menghindari burnout.

la menyarankan beberapa langkah praktis untuk mencegah pekerja mengalami burnout. Di antaranya mengambil jeda atau istirahat terstruktur selama bekerja untuk memulihkan fokus, lalu menerapkan disiplin digital dengan membatasi penggunaan perangkat dan layar di luar jam kerja.

“Selain itu, pekerja juga bisa melakukan fisik secara rutin guna membantu menyeimbangkan hormon stres, dan memprioritaskan tidur berkualitas selama tujuh hingga delapan jam setiap malam,” kata dia.

Dia menyebut burnout bukanlah bentuk kelemahan, melainkan kondisi medis yang memiliki dasar neurobiologis. Oleh karena itu, burnout perlu dikenali dan ditangani sejak dini sebagaimana penyakit kronis lain seperti diabetes dan hipertensi.

“Burnout bukanlah kelemahan, melainkan kondisi medis yang berakar pada neurobiologi. Sama seperti kita mengobati diabetes atau hipertensi, burnout membutuhkan pengenalan dan intervensi dini,” kata dia. rpblk

- Advertisement -
RELATED ARTICLES
Bank Jatim Jconnect

Terbaru