Wednesday, February 11, 2026

Ratusan Kepala Sekolah dan Guru di Surabaya Ikuti Sosialisasi Penggunaan Gawai bagi Murid

Ratusan Kepala Sekolah dan Guru di Surabaya Ikuti Sosialisasi Penggunaan Gawai bagi Murid

SURABAYA, Nawacita – Ratusan kepala sekolah dan guru Negeri atau pun Swasta SD sampai SMP Se-Surabaya Berkumpul guna menghadiri Sosialisasi penggunaan Gawai bagi Murid, kegiatan dilaksanakan di Convention Hall Arif Rahman Hakim, rabu (13/01/2026).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam mengawasi penggunaan telepon genggam (HP) pada anak-anak. Menurutnya, penggunaan HP tanpa kontrol dapat berdampak serius, mulai dari paparan pornografi hingga penyebaran paham radikalisme yang berujung pada kekerasan.

Eri mengungkapkan, dirinya pernah berdiskusi langsung dengan Detasemen Khusus (Densus) terkait kasus terorisme yang melibatkan anak-anak usia sekolah. Dari pertemuan tersebut terungkap bahwa sebagian anak yang terpapar paham kekerasan terdeteksi berasal dari Surabaya.

- Advertisement -

“Saya kemarin bertemu dengan Densus. Salah satu kejadian pengeboman di Jakarta yang dilakukan anak-anak sekolah, itu terdeteksi juga ada di Surabaya. Anak-anak ini belajar ingin menyakiti, bahkan membunuh, dari mana? Dari HP,” ujar Eri.

Baca Juga: Walikota Eri Cahyadi Terapkan Sistem Rapor Kinerja Pejabat, Hasilnya Dipublikasikan ke Masyarakat

Ia menilai, akar persoalan tersebut adalah kurangnya komunikasi dan pengawasan dari orang tua. Kesibukan bekerja membuat sebagian orang tua menyerahkan HP sepenuhnya kepada anak tanpa pendampingan yang memadai.

“Orang tuanya sibuk bekerja, anaknya dicekeli HP, tidak pernah ada komunikasi. Akhirnya anak belajar menyakiti temannya, belajar kekerasan,” jelasnya.

Ratusan Kepala Sekolah dan Guru di Surabaya Ikuti Sosialisasi
Ratusan Kepala Sekolah dan Guru di Surabaya Ikuti Sosialisasi Penggunaan Gawai bagi Murid.

Selain radikalisme, Eri juga menyoroti tingginya akses konten pornografi pada anak-anak melalui HP. Berdasarkan hasil pengecekan, penggunaan konten pornografi pada HP anak dinilai cukup besar dan memprihatinkan.

“Ini bukan anak orang tidak mampu, loh. Ini anak orang menengah ke atas. Artinya kasih sayang orang tua sudah tergadaikan dengan HP,” tegasnya.

Ia pun meminta para orang tua untuk menjadikan HP sebagai sarana kemaslahatan, bukan sumber mudarat. Namun hal itu harus diiringi dengan pengawasan rutin terhadap penggunaan HP anak.

Sebagai langkah konkret, Eri meminta Dinas Pendidikan Surabaya untuk mengumpulkan orang tua siswa sejak kelas 1 sekolah dasar. Para orang tua akan diberikan edukasi tentang cara mengecek HP anak, termasuk riwayat penggunaan dan konten yang diakses.

“Orang tua akan diajari cara mengecek HP anaknya, termasuk histori penggunaan. Tidak semua orang tua tahu cara itu,” ujarnya.

Di lingkungan sekolah, Eri menegaskan kebijakan pembatasan penggunaan HP. Siswa diperbolehkan membawa HP, namun harus disimpan di loker dan hanya digunakan saat pembelajaran digital atas instruksi guru.

“Kalau tidak dibutuhkan, HP tidak boleh digunakan. Guru juga harus memberi contoh dengan tidak menggunakan HP di kelas,” katanya.

Menurutnya, disiplin dan karakter anak sangat dipengaruhi oleh keteladanan orang dewasa di sekitarnya.

Pemerintah Kota Surabaya juga menyiapkan skema pembinaan bagi anak-anak yang kedapatan mengakses konten negatif. Pembinaan tersebut akan melibatkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispenduk) serta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), mulai dari peringatan bertahap hingga pembentukan karakter di shelter pendidikan.

“Kalau kita tidak mulai hari ini, kita menghancurkan masa depan anak-anak bangsa,” tegas Eri.

Selain itu, Pemkot Surabaya berencana membentuk Kampung Pancasila dengan menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai upaya memperkuat karakter dan interaksi sosial anak.

“Sekarang anak main game isinya kekerasan. Dulu kita main permainan yang menyatukan. Ini yang harus kita kembalikan,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Eri menekankan pentingnya keseimbangan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia dalam membentuk karakter anak.

“Kalau orang tua hanya melahirkan tapi tidak menjaga dan mengawasi, jangan salahkan anaknya. Masa depan Surabaya ada di tangan anak-anak kita hari ini,” pungkasnya.

Semeñtara itu Ayu intan mustika ratna selaku Perwakilan Komite Maryam SD Islam menyampaikan.

Kami mendukung penuh pelaksanaan sosialisasi penggunaan gawai bagi murid sebagai upaya membangun kesadaran akan penggunaan teknologi secara bijak. Gawai harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan pengembangan diri, bukan sekadar hiburan yang berpotensi menimbulkan dampak negatif.

” Melalui sosialisasi ini, murid diharapkan memahami batasan, etika, dan tanggung jawab dalam menggunakan gawai. Peran orang tua dan guru sangat penting dalam mendampingi serta mengawasi penggunaan gawai agar anak tumbuh cerdas secara digital dan berkarakter positif ” pungkasnya. (Deni)

RELATED ARTICLES

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Terbaru