Produk Indonesia Bebas Biaya Masuk ke UEA

0
87
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witcaksono

Jakarta, Nawacita | Pemerintah Indonesia menyepakati perjanjian dagang Indonesia – United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA). Dengan perjanjian dagang tersebut, Indonesia akan mendapatkan keuntungan saat Ekspor ke Uni Emirat Arab (UEA).

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witcaksono mengatakan, salah satu keuntungannya yaitu produk Indonesia bebas biaya masuk ke UEA.

Menurut dia, selama ini eksportir harus melalui Singapura sebelum ekspor produk ke UEA.

Baca Juga: Perjanjian Dagang RI-UEA, Mendag: Pintu Masuk Ekspor ke Timur Tengah

“Karena singapore sudah bebas biaya untuk masuk ke UEA. Walaupun itu dititik terakhir ya biasa negosiasi, ya akhirnya kita bisa mendapatkan penghapusan (bea masuk),” ujar Djatmiko dalam konferensi pers virtual, Senin (4/7/2022).

Adapun, lanjut dia, produk yang akan terbebas biaya masuk ekspor ke UEA dintaranya, emas, sawit, otomotif, hingga produk besi dan baja.

“Dulu produk kertas kita di UEA cukup memiliki pangsa pasar yang bagus, tapi beberapa tahun terakhir agak menurun dengan berbagai alasan. Sehingga, ini jadi perhatian saya, dalam perundingan ini jadi emas, kertas, produk baja sawit, itu harus dapat preferensi yang maksimal, artinya diberikan eliminatif dalam kesempatan pertama,” ucap Djatmiko.

Baca Juga: Kerja Sama Indonesia–UEA Prioritaskan Pembangunan IKN, Transisi Energi, dan Perdagangan

Selain itu, dia menuturkan, produk alas kaki, batu bara, bahan baku bubur kayu, elektrikal, baterai juga ikut terbebas dalam biaya masuk ekspor ke UEA. Djatmiko menjamin, sebayak 99,6% produk ekspor unggulan Indonesia ke UEA akan bebas dari Biaya masuk.

“Saya bilang 99,6% ekpor kita ke UEA itu dapat fasilitas bebas biaya masuk 0, bahkan di tahun pertama 90% produk kita 0% (biaya masuk), sekian waktu 5% akan 0% ,” jelas dia.

Namun demikian, tambah Djatmiko, para eksportir harus menunggu proses ratifikasi hingga implementasi perjanjian dagang tersebut yang ditargetkan akan diimplementasikan pada 1 Januari 2023.

“Begitu kita implementasi 1 januari 2023 ekspor emas kita diberikan biaya masuk 0%, itu contoh. Sawit kita juga sama 1 januari, maka saat itu juga kita biaya 0%,” pungkas dia. sra

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY