Mengenal Fenomena Arab Spring, Yang Kini Tengah Dialami Sri Lanka

0
122
Ilustrasi

JAKARTA, Nawacita – Fenomena Arab Spring merupakan sebuah istilah politik yang menggambarkan gelombang gerakan revolusioner di sejumlah negara Timur Tengah pada sekitar tahun 2011. Rakyat Arab sendiri menyebut Arab Spring sebagai al-Tsaurat al-Arabiyah, yaitu revolusi yang akan mengubah tatanan masyarakat dan pemerintahan Arab menuju ke arah ideal.

Dalam jurnal Agama dan Demokrasi: Munculnya Kekuatan Politik Islam di Tunisia, Mesir dan Libya (2014) karya Muhammad Fakhry Ghafur, kemunculan fenomena Arab Spring disebabkan oleh krisis politik, ekonomi dan pemerintahan di beberapa negara Timur Tengah.

Faktor-faktor yang menjadi latar belakang Arab Spring, yakni: 

-Rezim otoriter yang berlangsung selama puluhan tahun di negara-negara Timur Tengah.

-Tingginya tingkat kesenjangan sosial dan ekonomi di negara-negara Timur Tengah.

-Keinginan masyarakat Arab untuk memperbaiki sistem sosial, politik, ekonomi dan pemerintahan.

-Kemunduran dalam hal hak-hak politik dan kebebasan sipil di beberapa negara Timur Tengah.

Secara umum, gelombang revolusi Arab Spring bertujuan untuk meruntuhkan rezim yang otoriter dan ketidakadilan di beberapa negara Timur Tengah. Selain itu, masyarakat Arab juga berkeinginan untuk menerapkan sistem demokrasi di Timur Tengah.
Baca Juga: Sri Lanka Kejebak Utang China? Pemerintah Desak Warga Rantauan Kirim Uang

Terjadinya Arab Spring 

Peristiwa Arab Spring berawal dari Revolusi Melati di Tunisia pada akhir tahun 2011. Dalam Revolusi Melati, muncul aksi self immolation (bakar diri) seorang pemuda Tunisia bernama Muhammad Bouazizi. Aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi keputusasaan Bouazizi atas sikap represif dan ketidakadilan dari rezim Zainal Abidin Ben Ali.

Aksi bakar diri di Tunisia menarik banyak perhatian dari negara-negara Timur Tengah dan Internasional. Pada tahun 2011, aksi bakar diri mulai digunakan sebagai bentuk protes terhadap rezim otoriter di Mesir, Aljazair, dan negara Timur Tengah lainnya.

Dalam buku Sejarah Timur Tengah jilid 2 (2013) karya Isawati, berbagai aksi bakar diri memunculkan gerakan revolusioner untuk melengserkan rezim otoriter di Mesir, Aljazair, Libya, Yaman, Bahrain, dan negara Timur Tengah lainnya. Meluasnya upaya demokratisasi dan pelengseran rezim otoriter di negara-negara Timur Tengah pada perkembangannya disebut sebagai Arab Spring.

Dampak

Fenomena Arab Spring yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah membawa dampak yang besar bagi kondisi politik, sosial dan ekonomi masyarakat internasional. Berikut dampak Arab Spring:

-Menimbulkan instabilitas harga minyak dunia

-Munculnya krisis ekonomi, sosial dan politik di negara-negara Timur Tengah

-Menguatnya pengaruh politik Islam di Timur Tengah

-Adanya keinginan dari negara-negara Barat untuk menanamkan kepentingan politik di kawasan Timur Tengah

komnws.

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

LEAVE A REPLY