Sri Lanka Kejebak Utang China? Pemerintah Desak Warga Rantauan Kirim Uang

0
130
Terjerat Utang China hingga Pelabuhan Sri Lanka Disandera 99 Tahun, Amerika: China Predator. Pelabuhan Hambantota Sri Lanka

JAKARTA, Nawacita – Sri Lanka sedang dilanda prahara. Krisis ekonomi berubah menjadi krisis sosial-politik. Kenaikan harga komoditas di pasar global menyebabkan harga barang dan jasa naik. Tidak terkecuali di Sri Lanka.

Negara di Asia Selatan ini menggantungkan kebutuhan dalam negeri dari impor. Migas, barang tambang, pangan, kebanyakan didatangkan dari luar negeri karena Sri Lanka hanya punya pariwisata sebagai sektor andalan.

Jadi saat harga komoditas ‘terbang’, biaya impor Sri Lanka pun melonjak. Sri Lanka menghabiskan lebih banyak uang untuk impor. Sampai-sampai tidak bisa membayar kewajiban utang luar negeri.

“Kami harus fokus untuk mengimpor kebutuhan pokok. Bukan membayar utang luar negeri. Kita sudah sampai di titik membayar utang menjadi sangat menantang dan tidak mungkin,” tegas P Nandalal Weesinghe, Gubernur CBSL, seperti dikutip dari Reuters.

Baca Juga: Tangani Masalah Hutang, Erick Bujuk 35 Lessor Garuda Indonesia restrukturisasi Utang

Per Maret 2022, cadangan devisa Sri Lanka tercatat US$ 1,72 miliar, terendah sejak November tahun lalu. Cadangan devisa negara itu terus turun selama tiga bulan beruntun.

 

Utang luar negeri Sri Lanka per akhir 2021 adalah US$ 50,72 miliar. Jumlah ini sudah 60,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ya, kini Sri Lanka adalah negara yang terlilit utang. Sejumlah pihak menilai ini terjadi karena jeratan atau jebakan utang China.

Secara resmi, utang dari China di Sri Lanka memang hanya sekitar 10% dari total utang luar negeri. Namun Times of India menyebut banyak utang ‘siluman’ China yang mencengkeram Sri Lanka. Perusahaan China banyak memberi utang dan tidak masuk di catatan resmi.

Pada tahun fiskal 2021/2022, kewajiban pembayaran utang Sri Lanka ke China mencapai hampir US$ 2 miliar. China juga telah menguasai pelabuhan Hambantota dengan konsesi 99 tahun karena Sri Lanka gagal membayar utang senilai US$ 1,2 miliar.

Mengutip BBC, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa pada awal tahun ini mencoba melobi Beijing untuk restrukturisasi utang. Dalam satu dekade terakhir, China sudah memberi utang kepada Sri Lanka senilai US$ 5 miliar untuk proyek infrastruktur yang menurut berbagai pihak tidak berguna dan tidak memberikan manfaat ekonomi.

Sebagai gantinya, China meminta jatah ekspor produk mereka ke Sri Lanka senilai US$ 3,5 miliar. Sri Lanka juga menjamin wisatawan China untuk datang ke Sri Lanka. Saat Sri Lanka begitu terkekang dengan utang China, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia masih aman?

Mengutip data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Februari 2022, China adalah pemberi utang terbesar keempat buat Indonesia. Hanya kalah dari Singapura, Amerika Serikat (AS), dan Jepang.

Pada Februari 2022, ULN Indonesia dari China tercatat US$ 20,78 miliar. Naik 0,76% dari bulan sebelumnya (month-on-month/mtm). Dalam periode yang sama, ULN dari Singapura turun 0,75%, dari AS turun 0,22%, dan Jepang turun 0,91%.

Dari sisi mata uang, ULN terbanyak masih dalam dolar AS. Per Februari 2022, ULN berdenomisasi dolar AS tercatat US$ 275 miliar.

Di posisi kedua ada euro dengan nilai ekuivalen US$ 25,15 miliar. Yen Jepang menempati peringkat ketiga (US$ 24,82 miliar) dan yuan China berada di posisi empat (US$ 4,31 miliar).

ULN dalam dolar AS tumbuh 0,38% mtm pada Februari 2022. Sementara ULN euro naik 0,17%, yen tumbuh 0,04%, dan yuan turun 0,11%.

Melihat data tersebut, sepertinya ancaman jeratan utang China tidak (atau belum, siapa yang tahu) terjadi di Indonesia. Namun belajar dari pengalaman Sri Lanka dan negara-negara lain, ada baiknya Indonesia juga perlu mawas diri.

cnbnws.

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail
Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmail

LEAVE A REPLY