Data Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Berbeda, Ini Penjelasan Menteri PPPA

0
188
Bintang dalam acara Rilis Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2021, Jakarta (27/12/21).

Jakarta, Nawacita – Data yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) berbeda dengan versi catatan akhir tahun (Catahu) LBH Apik terkait kasus kekerasan fisik dan seksual pada perempuan.

Berdasarkan survei PPPA kasus kekerasan fisik dan seksual secara umum menurun di 2021, namun menurut laporan catahu LBP Apik kasus kekerasan pada perempuan justru meningkat.

“Sering saya sampaikan bahwa kasus kekerasan ini adalah fenomena gunung es, memang benar dalam laporan kasus kekerasan seksual satu tahun belakangan ini meningkat, tapi secara umum berdasarkan jenis (kekerasan) itu menurun,” kata Bintang dalam acara Rilis Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2021, Jakarta, Senin (27/12/2021).

Lebih lanjut, Bintang pun tak menampik bahwa dalam kurun waktu 12 bulan terakhir kasus kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan mengalami peningkatan. Akan tetapi, secara umum atau prevalensi kasus kekerasan seksual mengalami angka penurunan.

“Belakangan ini kalau kita lihat di medsos, kemudian di Desember ini kalau boleh disebut darurat kekerasan karena tidak ada berita baik di media cetak-elektronik, terus saja kekerasan, kekerasan, dan kekerasan,” ucapnya.

“Tapi perlu digarisbawahi, untuk 12 bulan terakhir, untuk kasus kekerasan fisik memang meningkat. Tapi secara umum menurun baik kekerasan emosioanl, seksual, secara umum menurun,” sambung Bintang.

Bintang menjelaskan, pihaknya mengklasifikasi kasus kekerasan pada perempuan menjadi lima jenis. Pertama, kekerasan seksual, kekerasan fisik, kekerasan seksual oleh selain pasangan, kekerasan psikis atau emosional, dan kekerasan ekonomi.

Menurut jenisnya, prevalensi kekerasan terhadap perempuan oleh pasangan hanya meningkat pada jenis kekerasan fisik di 2021 yakni 2 persen dari tahun 2016 sebesar 1,8 persen. Sementara kekerasan fisik, kekerasan fisik dan atau seksual, kekerasan psikis atau emosional, kekerasan ekonomi, dan kekerasan berupa pembatasan aktivitas diklaim menurun.

Kemudian pada prevalensi kekerasan terhadap perempuan oleh selain pasangan meningkat pada jenis kekerasan seksual 5,2 persen pada 2021 dan 4,7 persen pada 2016, serta kekerasan fisik dan atau seksual 6 persen di 2021 dari 2016 sebesar 5,6 persen.

Sementara menurut catahu 2021 LBH Apik Jakarta, kasus kekerasan seksual meningkat dalam tiga tahun terakhir. Kekerasan berbasis gender online (KBGO) dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan jenis kekerasan tertinggi.

Dari 1.321 kasus kekerasan seksual yang dilaporkan ke LBH APIK Jakarta, sebanyak 489 kasus merupakan KBGO, 374 KDRT, tindak pidana umum 81, kekerasan dalam pacaran (KDP) 73, tindakan kekerasan seksual pada perempuan dewasa sebanyak 66.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris KemenPPPA Pribudiarta Nur Sitepu mengatakan pihaknya menggunakan metode survei dan sampling yang berbeda dengan LBH Apik. Hal itu menurutnya memungkinkan hasil survei yang didapat juga berbeda.

Sitepu menjelaskan, KemenPPPA menggunakan metode survei langsung pada 12.800 rumah tangga di 33 provinsi di Indonesia. Survei dilakukan secara khusus pada perempuan usia 16-64 tahun.

Sementara LBH Apik maupun Komnas Perempuan menggunakan data hasil laporan kekerasan yang masuk atau yang dilaporkan.

“Jadi metodologinya berbeda antara survei dengan laporan. Catahu itu berdasarkan hasil laporan tahunan, bukan menanyakan langsung pada sample, tentu hasilnya akan jelas berbeda,” imbuhnya.

Penulis: Alma Fikhasari

Facebooktwitterlinkedininstagramflickrfoursquaremail

LEAVE A REPLY