Ketua DPD RI Singgung Rendahnya Jumlah Wirausahawan di Indonesia saat Raker HAPSl

0
139
Ketua DPD RI saat menerima audiensi pengurus HAPSI di Jakarta beberapa waktu lalu.

Muna, Nawacita – Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, tampil sebagai pembicara utama pada Rapat Kerja (Raker) Himpunan Pengusaha Seluruh Indonesi (HAPSI), Jumat (19/11/2021).

LaNyalla yang hadir secara virtual, menyinggung rendahnya jumlah wirausahawan di Indonesia jika dibandingkan negara-negara tetangga.

“Tingkat entrepreneurship kita memang masih rendah, sekitar 3,47 persen
dari total penduduk. Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand,
tingkat kewirausahaanya sudah di angka 4 koma. Singapura yang tertinggi, sudah 8,76 persen,” kata LaNyalla yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Sulawesi Tenggara.

Oleh karena itu, LaNyalla mengapresiasi lahirnya HAPSI. Di mata LaNyalla, artis pengusaha memiliki profil istimewa. Karena, kemampuan seorang artis membangun kemandirian di dunia usaha.

“Artis berarti seniman yang berkiprah di berbagai profesi. Mereka bekerja untuk khalayak ramai agar masyarakat merasa terhibur, merasa senang, merasa bertambah pengetahuannya,” ujarnya.

Ketua Dewan Penasehat KADIN Jatim itu mengakui jika bayaran artis Tanah Air memang menjanjikan. Apalagi jika wajahnya kerap seliweran di layar kaca sebagai bintang sinetron stripping. Terutama, jika sinetronnya merajai prime time. Artis yang sedang naik daun bisa membintangi dua tiga sinetron
secara bersamaan.

Jika bekerja sejak pagi hingga malam, penghasilan bisa fantastis. Maka, stigma hidup glamor dan hedon melekat erat di kehidupan artis untuk mendukung penampilan tetap hits. Rumah, mobil, pakaian dan perhiasan mewah. Aksesoris serba branded melekat di tubuh mereka.

“Namun, roda kehidupan terus berputar. Kenyataannya, tidak semua artis bernasib mujur. Sebagian bernasib pilu di masa tua, sebagian bahkan
mengalami di usia yang masih relatif muda. Tak jarang terdengar kabar
prihatin. Dulu tenar dan kaya raya di masa jaya, kini hidup merana,” ulas Senator asal Jawa Timur itu.

Hal ini karena sejalan dengan waktu, generasi berganti, selera publik
pun berubah. Popularitas yang sempat diraih bisa meredup sekejap, karena artis wajah baru terus berdatangan.

Maka, pilihan hidup yang tepat ialah selagi di masa jaya, seorang artis harus punya investasi di ragam bisnis.

“Berani meninggalkan zona nyaman dalam area flash dan blitz kamera,” ujar LaNyalla.

Oleh karena itu, HAPSI harus menjadi contoh. Karena status selebriti tak selamanya menjamin hidup sukses, rezeki lancar, badan sehat.

“Seperti saya sebut tadi, artis pengusaha memiliki profil istimewa. Praktis jumlah artis pengusaha menambah jumlah pengusaha di Tanah Air,” ujarnya.

Karena itu, LaNyalla menghargai inisiatif para artis mendeklarasikan HAPSI pada tanggal 27 Januari 2017 di Crowne Plaza Jakarta, sekaligus pengukuhan para pengurus.

“Kurang lebih empat tahun, saya mengamati kiprah HAPSI untuk ikut serta menjaga kedaulatan ekonomi kita. Fokus itu memang tepat, karena kita mesti bersungguh-sungguh mewujudkan kedaulatan ekonomi,” tutur dia.

Indonesia, LaNyalla melanjutkan, tidak boleh tergantung kepada pihak eksternal. Kita harus tetap berdiri tegap, tidak bisa ditekan dan dipermainkan begitu saja.

“Untuk mencapai kedaulatan ekonomi, salah satunya dengan memberdayakan dan memperkuat Usaha Kecil dan Menengah. Karena UKM berada di lapisan bawah, sehingga kita bisa membangun struktur ekonomi piramida, bukan kotak atau kubus,” tegasnya.

Dengan begitu, badai ekonomi maupun moneter akan mampu dihadapi dengan struktur ekonomi piramida.

“Saya berharap HAPSI fokus memperkuat bangunan ekonomi piramida tersebut,” pesan LaNyalla.(*)

 

Alma

LEAVE A REPLY