Bondowoso Optimalkan Pembinaan Petani Kopi Terbaik

0
139

Bondowoso, Nawacita – Setelah beberapa tahun program Bondowoso Republik Kopi (BRK) meredup akibat kurang perhatian, kini Pemkab Bondowoso bakal membangkitkan kembali branding tersebut. Tentu upaya tersebut harus dibarengi dengan kegiatan untuk membuat kegiatan pertanian kopi kembali menggeliat. Khususnya dalam memberikan pembinaan kepada para petani kopi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Media, Bondowoso merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Secara geografis, 48 persen areanya adalah perbukitan dengan ketinggian 500 hingga di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Sementara, lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektare dan tersebar di dua kawasan. Yakni kawasan lereng Ijen-Raung yang berbatasan dengan Banyuwangi dan Situbondo, serta area barat di Lereng Argopuro yang berbatasan dengan Jember dan Probolinggo.

Rencana tersebut diucapkan langsung oleh Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rachmat. Menurutnya, branding BRK sangat pas untuk mengorbitkan nama daerah. “Intinya, BRK memang sangat bagus untuk mengenalkan Kabupaten Bondowoso. Baik di nasional maupun internasional,” katanya.

Dijelaskan, langkah awal yang akan dilakukan yakni merumuskan kembali konsep BRK. Dengan tujuan untuk meningkatkan kembali produksi di dua area perkebunan kopi. Yakni Ijen-Raung yang meliputi Sumberwringin, Kecamatan Ijen, dan sekitarnya. Termasuk di lereng Hyang Argopuro yang meliputi Kecamatan Pakem, Maesan, dan Curahdami.

“Jadi, ada dua kawasan Ijen-Raung yang sudah memiliki IG Klaster kopi arabika Java Ijen Raung. Hyang Argopuro kita akan bumikan mulai Kupang, Andungsari, Kecamatan Pakem, dan Kecamatan Maesan. Tentu tidak mengesampingkan Bondowoso Kota Tape,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang petani di lereng Ijen-Raung, Suyitno mengatakan, saat ini ada total 44 kelompok tani. Namun, kuantitas hasil produksi kopi tahun ini menurun drastis. Bahkan, penurunan produksi bisa lebih dari 50 persen. Sebelumnya, paling sedikit dalam satu hektare bisa memperoleh empat ton kopi cherry. Tetapi. saat ini untuk memperoleh satu ton saja sulit.

Oleh karena itu, menurutnya, pendampingan dan pembinaan oleh pemkab menjadi sangat penting. “Karena satu tahun lebih perawatan tidak maksimal. Sehingga hasil produksi tidak banyak. Perawatan tidak maksimal karena kendala modal,” katanya.

Pihaknya tidak memungkiri bahwa pandemi Covid-19 juga menjadi penyebab terjadinya penurunan kuantitas buah kopi. Selain itu, disebabkan pasar yang macet. “Jika penjualan macet, maka otomatis memengaruhi terhadap perawatan dan pemupukan. Karena biaya perawatan dari hasil penjualan kopi,” paparnya.

Pria yang juga merupakan Ketua Koperasi Petani Kopi Rejo Tani tersebut menyebutkan, sudah ada sebanyak 25 kelompok tani yang mempunyai unit pengolahan hasil (UPH) hilir, seperti bubuk kopi dan sebagainya. Dia memastikan bahwa petani terus berusaha agar pengolahan kopi tetap mengikuti standard operating procedure (SOP), baik sebelum maupun pascapanen.

“Mulai dari perawatan tanahnya, pembersihan gulma dan ranting yang tidak produktif. Selain itu, tetap petik merah dan dirawat sesuai SOP yang ada. Semata-mata menjaga kualitas. Karena kalau kualitas menurun, kita juga yang rugi,” bebernya.

Selain pangsa pasar lemah, lanjut dia, harga jual kopi juga menurun. Biasanya dia menjual satu kilogram kopi green bean seharga Rp 85 ribu. Tetapi, saat ini mau mencapai harga Rp 60 ribu saja sulit. “Padahal pengeluaran diambilkan dari penjualan,” jelasnya.

Dikonfirmasi terkait upaya pemkab untuk menghidupkan kembali BRK, dia menegaskan menyambut baik upaya tersebut. Sebab, menurutnya, BRK itulah yang mengantarkan Bondowoso bisa dikenal oleh dunia. Bahkan, ia menilai hal itu sudah merupakan kewajiban bagi Pemkab Bondowoso untuk melakukan pembinaan, sentuhan, atau paling tidak selalu memberikan dukungan moral sehingga para pelaku tetap semangat dan tetap memperhatikan SOP. “Dengan begitu, kualitas kopi yang dihasilkan tetap sesuai yang diharapkan atau sesuai dengan yang diinginkan oleh konsumen. Baik konsumen dari dalam maupun dari luar negeri,” imbuhnya.

Selain itu, dia juga mengaku, sebagai petani kopi, sejauh ini ia mengaku tetap menjalankan amanah untuk mendukung program BRK. “Karena amanah wajib dilaksanakan, dan kalau tidak kita laksanakan, yang rugi kita sendiri,” tegasnya.

Sebagai informasi, brand BRK sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM. Namun, di lapangan, berdasarkan pengakuan petani, selama ini tak ada pembinaan. Khususnya dalam dua tahun terakhir. Hal menjadi PR Pemkab Bondowoso agar tetap terus memberikan pembinaan untuk petani kopi di Bondowoso.

Sumber : Jawa pos

 

LEAVE A REPLY