Target Kemiskinan Turun 2022, Ekonom : Tidak Realistis

0
163
M Faisal Direktur CORE Indonesia

Jakarta, Nawacita – Dalam RAPBN 2022 pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun ke level 8,5% hingga 9%. Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai target tersebut tidak realistis. Sebab, angkanya lebih rendah dari realisasi tingkat kemiskinan sebelum pandemi Covid-19.

“Ini target penurunan kemiskinan yang agak susah mencerna, karena ditargetkannya 8,5% sampai 9%. Bahkan sebelum pandemi pun Indonesia tidak pernah serendah itu,” kata Faisal dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (20/8/2021).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan terendah tercatat pada periode September 2019 sebesar 9,22%. Angka ini masih lebih tinggi dari target pemerintah dalam RABPBN 2022. Bahkan sepanjang 1996 hingga 2017, tingkat kemiskinan tidak pernah berada di bawah 10% sekalipun trennya terus menunjukkan penurunan sejak 2006.

“Artinya apa yang mendasari target penurunan angka kemiskinan jauh lebih rendah daripada sebelum pandemi. Itu target penurunan sampai 1 persen,” ujarnya.

Lebih lanjut, Faisal juga merasa aneh, sebab pemerintah memangkas anggaran perlindungan sosial dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2022. Hal itu menurutnya target tersebut semakin tidak realistis.

Padahal, berbagai bantuan sosial menjadi penggerak dalam menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.

“Dalam kondisi resesi seperti ini, mau tidak mau bansos adalah bagian dari tangga darurat untuk menciptakan penyelamatan, karena tidak mungkin menciptakan lapangan pekerjaan dalam kondisi dimana ekonomi sedang tertekan,” tegas Faisal.

Dalam RAPBN 2022, pemerintah hanya mengalokasikan dana sebesar Rp153,7 triliun untuk perlindungan sosial dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Angka tersebut lebih rendah dari 2021 sebesar Rp187 triliun.

Penulis: Alma Fikhasari

LEAVE A REPLY