Harga Gabah Anjlok, DPRD Jatim Desak Pembinaan Petani Situbondo Ditingkatkan

0
104

Situbondo, Nawacita –

Petani di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur tengah memasuki musim panen. Namun, antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil tak sesuai dengan harapan sehingga terancam merugi. Sebab kelangkaan dan mahalnya pupuk tak sebanding dengan harga gabah yang tak kunjung membaik.

Pernyataan itu disampaikan anggota Komisi B DPRD Jatim dr Agung Mulyono usai mendapat keluhan dari sejumlah petani di Dapil Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso pada Selasa (6/7/2021). “Keluhan ini sudah lama mereka rasakan para petani. Sebab hasil pertanian tidak sesuai dengan biaya produksi, kadang impas. Ini karena pupuk sangat langka dan mahal,” katanya.

Politikus asal Partai Demokrat itu mengaku sudah sempat berkoordinasi dengan Dinas Pertanian (Distan) Jatim setelah mendengar keluhan petani terkait anjloknya harga gabah di Situbondo dan sekitarnya. “Saya tentu berharap kondisi yang tidak menguntungkan petani itu bisa segera ditindaklanjuti oleh Pemprov Jatim,” jelas Agung Mulyono.

Ia menduga anjloknya harga gabah petani akibat para petani memanen gabahnya lebih awal karena terdesak kebutuhan sehingga dibeli tengkulak dengan harga murah. “Dinas pertanian menginformasikan penyebabnya adalah mereka memanen lebih awal karena kebutuhan. Yang kedua mereka panennya kecepatan. Seandainya satu minggu lebih lama panen maka kadar airnya rendah dan harganya jadi naik,” ungkap Agung.

Lebih jauh legislator alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga Surabaya itu mendorong agar Pemprov Jatim melakukan penyuluhan mengenai prosedur panen yang benar, agar para petani dapat memanen gabah tepat waktu. Pasalnya, jika gabah dipanen tepat waktu, maka kadar airnya akan rendah dan harganya juga bisa stabil.

Selain itu, petani didorong untuk menjual gabah mereka ke tengkulak atau pengepul yang kredibel agar harganya sesuai pasar. “Jadi intinya saya sebagai wakil rakyat seperti ini tapi saya sudah koordinasi dengan dinas pertanian untuk pembinaan dan penyuluhan sehingga kalau memang seminggu lagi dipanen maka harganya kemungkinan bisa naik,” dalih pria asli Banyuwangi ini.

Seperti diketahui, kendati sudah melewati masa panen raya, harga gabah di kabupaten Situbondo, Jawa Timur justru mengalami penurunan yang sangat signifikan. Harga gabah ditingkat petani, saat ini berkisar antara Rp 3.800 hingga Rp 4000 per kilogram untuk gabah kualitas super.

Padahal, sewajarnya, harga gabah bisa tembus hingga Rp 4.800 hingga Rp 5.200 untuk kualitas gabah super. Jika harga gabah masih bertahan dibawah Rp 3.900, bisa dipastikan biaya produksi tidak akan mampu tertutupi.

“Kalau harga gabah super itu 4 ribu rupiah mas, kalau kualitas standart ya harganya paling mahal 3.800 rupiah. Itu belum potongan kekeringan gabah, semakin basah gabah maka semakin tinggi potongan beratnya,” jelas Ahmad, salah satu pengepul gabah di Situbondo.

Turunnya harga gabah terjadi di luar panen raya, lanjut Ahmad akibat rendahnya daya jual beras, faktor pandemi COVID-19 salah satu pemicu yang paling dominan. “Kami mengikuti harga dari pasaran, sekarang daya beli gabah memang rendah. Kalau harga gabah tinggi, kami tetap ambil tinggi juga beli dari petani,” pungkasnya. (pun)

LEAVE A REPLY