Jelang Lebaran Ketupat, Pemerintah Gagal Hadang Harga Daging Segar Tak Naik

0
442

Surabaya, Nawacita – Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan, (PD RPH) Kota Surabaya tidak mampu menahan laju harga daging segar di pasar tradisional yang ada Surabaya. Faktanya sejak hari Selasa (11/5/2021) lalu harga daging sapi di Surabaya naik Rp10.000 perkilogram, dari yang semula Rp110.000,- menjadi Rp125.000 perkilogram.

Kenaikan harga daging segar di kisaran Rp125.000,-perkilogram ini diyakini sejumlah pedagang yang terkumpul dalam wadah Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur akan bertahan sampai dengan H+7 atau bertepatan dengan lebaran ketupat.

“Setelah H+7, biasanya akan ada ketentuan lagi, apakah akan bertahan di harga Rp125,000,- atau akan kembali ke harga Rp110.000, perkilogram,” kata ketua PPSDS Jatim, Muthowif saat dikonfirmasi Jumat (14/5/2021).

Muthowif juga sangat menyayangkan kenaikan harga daging tersebut tidak ada intervensi dari pemerintah Kota Surabaya maupun pemerintah provinsi Jawa Timur. Padahal pemerintah Kota Surabaya, mempunyai Perusahaan Daerah yang menangani harga yaitu PD RPH.

“Kalau tahun – tahun sebelumnya selalu ambil peran dalam menstabilkan harga daging. Namun saat ini belum kelihatan perannya,” singgung pria asli Madura ini.

Di sisi lain, PPSDS Jatim sebelumnya juga sudah mendesak secara tertulis kepada Dinas Peternakan Jatim untuk menertibkn sapi keluar Jatim untuk antisipasi lonjakan harga jelang lebaran idul fitri maupun idul adha 1442 H.

“Kami melihat ada beberapa daerah provinsi yang tidak punya qouta sapi dari Disnak Jatim, tetep membeli dan membawa sapi dari Jatim sehingga mengakibatkan data jumlah sapi di Jatim wmenjadi kurang terdata dengan baik,” tegas mantan aktivis PMII ini.

Pasca idul Fitri 1442 H, lanjut Muthowif, pihaknya juga melihat akan ada mobilisasi sapi bakalan dan siap potong dari Jatim ke Jakarta, Jateng, Jabar bahkan Lampung dan Banjarmasin.

“Hasil pemetaan atau investigasi kami banyak sapi yang dibawa keluar Jatim tanpa didukung surat-surat atau dokumen yang seharusnya dimiliki oleh orang atau PT dari Disnak JJatim. Sehingga kami rasa perlu ada tindakan penertiban sapi-sapi yang dibawa keluar Jatim sejak dini,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa ada perbedaan kebijakan pemerintah antara idul Fitri dengan idul adha. Kalau idul Fitri pemerintah melalu kementrian atau dinas terkait bisa mengintervensi laju kenaikan harga dengan mendatangkan daging impor. Sedangkan kalau idul adha pemerintah tidak akan menahan laju harga sapi.

“Tapi fakta di lapangan, kebijakan pemerintah tersebut gagal total sebab jelang beberapa hari lebaran sampai sekarang harga daging sapi sudah menembus Rp.125 ribu/kg,” terang Muthowif.

Dampaknya, kata Muthowif para pedagang sapi juga mulai kesulitan mencari sapi bakalan untuk dipotong karena jumlahnya terbatas dan mahal. Konsekwensi lainnya, harga daging segar di pasaran juga melambung karena stok daging berkurang banyak. (pun)

LEAVE A REPLY