Lailatur Qadar, Amalan yang Bisa Dilakukan dan Peluang Mendapatkannya

0
257

Surabaya, Nawacita

Salah satu keistimewaan bulan Ramadan adalah malam lailatul qadar. Kaum Muslimin sangat berharap bisa mendapatkan yang lebih baik dari seribu bulan itu. Siapapun yang mendapat lailatul qadar amalan kebajikan di malam itu nilainya melebihi kebajikan selama selama seribu bulan tanpa lailatul qadar.

Ini sebagaimana penjelasan dalam kitab tafsir Bahr al-‘Ulum karya Abu al-Laits an-Naisburi, bahwa:

Firman Allah swt; ‘Lailatul qadr itu lebih baik dari seribu bulan’ maksudnya adalah amal kebajikan yang dilakukan pada lailatul qadar itu lebih baik dibanding amal kebajikan selama seribu bulan yang tidak ada di dalamnya lailatul qadar.” (Lihat, Abu al-Laits as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulum, Bairut-Dar al-Fikr, juz, III, h. 577).

Ustaz Mahbub Maafi Ramdlan Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU sebagaimana dikutip Antara, beberapa waktu lalu mengatakan, ada sejumlah amalan yang bisa dilakukan kaum Muslimin untuk mendapatkan lailatul qadar.

Dia bilang, setidaknya ada tiga amalan yang bisa dilakukan agar dipermudah mendapatkan lailatul qadar. Pertama, menahan diri untuk hubungan badan dengan pasangan pada sepuluh hari akhir Ramadan. Kedua, meningkatkan intensitas beribadah terutama di malam hari. Ketiga, membangun keluarga.

Membangun keluarga, dia menjelaskan, maksudnya adalah mendorong atau meminta keluarga masing-masing untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.

Hal itu sebagaimana dipahami dari hadits berikut.

“Dari Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).

Lailatul qadar bisa didapatkan oleh siapa saja. Bahkan, menunur salah seorang perawi hadits Imam At-Tirmidzi, lailatul qadar bisa didapatkan oleh wanita yang sedang haid, bahkan orang yang sedang tidur.

Hal itu tersirat dari pertanyaan yang pernah disampaikan oleh Juwaibir bin Said al-Balkhi kepada adh-Dhahhak atau At-Tirmidzi.

“Juwaibir berkata; ‘Aku pernah bertanya kepada adh-Dhahhak, bagaimana pendapatmu mengenai wanita yang sedang nifas, haid, orang yang bepergian (musafir), dan orang tidur, apakah mereka bisa memperoleh bagian dari Lailaltul Qadr? Jawabnya, ya, mereka masih bisa memperoleh bagian. Setiap orang yang Allah swt terima amalnya maka Allah swt akan memberikan bagiannya dari Lailatul Qadr’” (Lihat, Ibnu Rajab al-Hanbali, Latha`if al-Ma’arif fima Limawasim al-‘Am min al-Wazha`if, h. 264)

Berpijak dari penjelasan itulah, maka wanita yang haid atau sedang mengalami nifas bisa memperoleh lailatul qadar. Mereka tidak perlu merasa berkecil hati karena dalam kondisi tidak suci (haid atau nifas).

Ustaz Mahbub Maafi Ramdlan Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU pun menyarankan agar semua umat Muslim memperbanyak zikir pada sepuluh hari terakhir bulan puasa Ramadhan.

Amalan itulah, yang paling mungkin dilakukan wanita yang sedang mengalami haid atau nifas, serta dengan meningkatkan intensitas sedekah untuk membantu sesama, terutama kepada orang-orang yang secara langsung ekonominya terdampak pandemi Covid-19.

sumber : Suara Surabaya

LEAVE A REPLY