Cita Rasa Kopi Khas Trenggalek “Sangunglung”

0
484
Pengelola Kopi Singunglug Marjuki sedang menunjuk­kan piagam saat menjuarai cita rasa kopi Kabupaten Trenggalek.

Trenggalek, Nawacita – Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko, menyimpan potensi hasil perkebunan. Baru-baru ini, potensi kebun kopi itu booming, setelah Marjuki berhasil mengantarkan kopi Sengunglung meraih juara I Cita Rasa Kopi dalam Gebyar Kopi Trenggalek 2020 Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Trenggalek.

Udara sejuk menyelimuti Dusun Krajan, Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko Minggu sore (21/3). Desa itu dikenal sering turun hujan, cuaca berawan menjadi pemandangan keseharian. Sekitar tiga kilometer (km) dari kediaman Marjuki, ada Gunung Sengunglung. Nama gunung itu menjadi asal-muasal produk kopi Sengunglung, asli hasil potensi Desa Sumberbening, Kecamatan Dongko.

Memang, nama kopi Sengunglung baru booming di masyarakat Trenggalek, sekitar akhir Desember 2020 atau pasca meraih juara I cita rasa kopi. Tapi, bagi masyarakat Desa Sumberbening, kopi Sengunglung mulai ditanam sejak era 90-an. Sempat Kopi Sengunglung dijual dalam bentuk kiloan, meski konsumennya hanya lingkup Desa Sumberbening sendiri. “Kebun kopi itu mulai ditanam saat masa-masa ayah saya (Parmin, Red),” ungkapnya saat ditemui di teras rumahnya.

Dulu, kata Marjuki, potensi kebun kopi Sengunglung dipandang sebelah mata. Indikasinya, produktivitas kopi dari sekitar 9 ribu pohon itu tak mampu menghasilkan 1 kwintal kopi per tahun. Padahal, standarnya untuk 2 ribu pohon bisa menghasilkan hingga 2 ton per tahunnya. Minimnya produktivitas kopi karena pekerjaan beternak kambing lebih dominan. “Sebelum mengelola kopi, saya juga ternak kambing, dan sekarang pun masih,” kata pria kelahiran 1988 tersebut.

Persepsi warga akan potensi kopi pun mulai berubah pasca Kopi Sengunglung yang ditanam di Gunung Sengunglung dengan ketinggian 700 – 1000 MDPL itu meraih juara  I cita rasa kopi se Kabupaten Trenggalek. Marjuki mengaku, memang perubahan produktivitas kopi itu belum cukup terlihat, karena baru akhir 2020 para petani kopi lebih giat merawat kebun kopinya. “Produksi per bulan kini sekitar 25 kg,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Tak dimungkiri Marjuki, jangkauan pasar Kopi Sengunglung masih lingkup kabupaten. Sejauh ini, konsumen kopi sebatas warga Trenggalek, meski ada juga dari Kabupaten Tulungagung. Menurut dia, untuk memenuhi permintaan lingkup kabupaten itu masih terasa sulit, karena produksi kopi yang masih minim. Di sisi lain, untuk mengolah kopi itu masih meminta jasa luar desa. “Masih dari mulut ke mulut, belum memasarkan secara online, karena produksinya masih sedikit,” tegasnya.

Dari Marjuki, ciri khas Kopi Sengunglung terletak pada cita rasa keasam-asaman. Cita rasa itu yang menjadi nilai tambah kualitasnya. Menurut dia, kualitas itu muncul ketika petani perlu menunggu tiga kali panen untuk petik merah. “Hanya kopi yang berwarna merah saja yang dipetik,” tegasnya.

Meskipun Marjuki sudah berhasil mengusung produk Kopi Sengunglung, dia masih belum puas ketika warga belum mengoptimalkan potensi kopi desanya. Sebab, keteguhan Marjuki di dunia kopi berawal dari menggali potensi desa. “juga penikmat kopi,” ujarnya.

jp

LEAVE A REPLY