Perpustakaan di Tengah Kuburan Rangkah Surabaya, Ini FAKTAnya!

0
334

Surabaya | Nawacita – panas yang menyengat jalanan kota metropolis langsung berganti sejuk begitu memasuki Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rangkah kemarin siang (18/2). Angin sepoi-sepoi berembus pelan. Burung-burung yang berkicau terbang rendah dari satu pohon ke pohon lain. Makin menambah adem suasana.

Nun di sisi utara pemakaman itu, berdiri sebuah bangunan terbuka. Tanpa dinding penyekat. Beratap asbes dengan lantai dari papan kayu. Ukurannya 4 x 7 meter. Membujur dari barat ke timur. Di pinggirnya berdiri dua lemari yang tidak terlampau besar.

Tingginya 1,5 meter. Di dalamnya berjejalan buku-buku. Beberapa anak sibuk membolak-balik buku yang ingin dibaca. ’’Nah, ketemu,’’ kata Dinda Rahmawati.

Bocah yang duduk di kelas III sekolah dasar (SD) itu langsung mengatur tempat untuk. Bahunya yang mungil bersandar di tiang bangunan. Menghadap ke deretan batu nisan makam Rangkah. Dia terlihat senyum-senyum sendiri. ’’Lucu, ya,’’ ujar Dinda mengomentari isi bacaannya.

Bocah 9 tahun itu membaca buku cerita anak-anak. Judulnya Si Kancil Hewan Cerdik. Dinda terus khusyuk melanjutkan bacaannya.

Lain lagi Afrisa Wahyu Ramadani. Bocah yang masih duduk di kelas V sekolah dasar (SD) itu terlihat asyik menggores-goreskan pena di atas kertas. Beberapa kalimat sudah ditulis. ’’Lagi belajar bikin cerita pendek,’’ ujar Afrisa saat ditanya koran ini. Bocah berambut panjang itu terus menulis dengan lancar.

Begitulah keseharian anak-anak di TBM Makam Rangkah. Ya, itu adalah perpustakaan sekaligus tempat belajar anak-anak yang tinggal di wilayah tersebut. Khususnya RT 3, RW 4, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Simokerto.

’’Dulu sebelum pandemi, tempat ini enggak pernah sepi. Selalu ramai. Sekarang saja jumlah pengunjung kita batasi,’’ tutur petugas teknis TBM Makam Rangkah Eiva Noer Dwi Ana.

Dulu sebelum pandemi, sambung Eiva, bangunan TBM itu sampai tidak bisa menampung para pengunjung karena saking banyaknya. Mulai anak-anak hingga orang dewasa. Karena ruangan perpustakaan sangat terbatas, beberapa orang rela membaca buku sambil bersandar di batu-batu nisan area pemakaman Rangkah. ’’Baca buku di atas batu nisan ada sensasinya juga. Apalagi yang kita baca novel soal kematian. Rasanya jadi gimana gitu,’’ ujar ibu dua anak itu, lalu tertawa.

Eiva menyampaikan, TBM tersebut punya koleksi 1.020 eksemplar buku. Jenisnya macam-macam. Ada novel, karya ilmiah, buku cerita anak-anak, kesehatan, dan komik. Ada juga buku agama, ensiklopedia, buku tip memasak, hingga biografi pahlawan. ’’Dari buku kebutuhan anak-anak sampai ibu-ibu kita siapkan di sini,’’ kata Eiva.

Lain anak-anak, lain juga ibu-ibu. Menurut perempuan 33 tahun itu, kaum ibu biasanya paling suka membaca buku yang berkaitan dengan tip memasak. Mereka juga gemar membaca buku kiat-kiat berkebun. Nah, kini berkat buku itu hampir semua ibu-ibu di RW 4 memiliki tanaman toga. Tanaman obat-obatam tersebut ditanam di pot-pot depan rumah masing-masing. ’’Biasanya (buku, Red) dipinjam ibu-ibu sampai berminggu-minggu. Kadang sering lupa balikin kalau tidak diingatkan,’’ ucap Eiva, lalu tertawa lepas.

Subkoordinator TBM Kecamatan Simokerto Ambar Kiswinarto menuturkan bahwa TBM itu berdiri sejak 2011. Inisiatornya, lanjut dia, adalah warga sekitar sendiri.

Warga ingin membangun perpustakaan di tengah pemakaman untuk menghilangkan kesan angker di pemakaman itu. Karena warga mengusulkan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Pemkot Surabaya menyetujui. ’’Sekarang enggak angker sama sekali. Malah anak-anak baca-baca di situ,’’ kata Ambar Kiswinarto.

Awal berdirinya TBM itu ditujukan untuk anak-anak pemulung yang tinggal di sekitar TPU Rangkah. Namun lambat laun, perpustakaan tersebut disambut semua kalangan. Bahkan selain buku dari dispusip, banyak warga sekitar yang rela menyumbangkan buku untuk memperbanyak koleksi. Sejumlah mahasiswa yang pernah menjadi relawan juga meninggalkan jejak dengan menyumbang banyak buku. 

Jp

LEAVE A REPLY