BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020 Lebih Baik dari Singapura hingga AS

0
159

Jakarta | Nawacita – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kumulatif di sepanjang 2020 mengalami kontraksi atau tumbuh minus 2,07 persen.

“Pertumbuhan ekonomi kita secara kumulatif pada 2020 mengalami kontraksi 2,07 persen,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dalam sesi teleconference, Jumat (5/2/2021).

Suhariyanto menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kuartalan jauh membaik dibanding triwulan sebelumnya. Dimana pada kuartal II 2020 minus 5,32 persen, pada kuartal III minus 3,49 persen, dan minus 0,42 persen di kuartal IV.

Jika dibandingkan dengan negara lain, ekonomi Indonesia di 2020 yang tumbuh minus 2,07 persen sebenarnya masih lebih baik dibanding beberapa negara lain pada kuartal akhir tahun lalu

Baca Juga : Airlangga Hartarto Sebut Vaksinasi Dorong Capai Target Pertumbuhan 5 Persen

Seperti Amerika Serikat (AS) yang pertumbuhan ekonominya terkontraksi -2,5 persen di sepanjang 2020. Lalu Singapura yang anjlok minus 3,8 persen pada tahun lalu, dan Uni Eropa uang tumbuh negatif -4,8 persen.

Pengecualian diberikan kepada China dan Vietnam, yang secara ekonomi tumbuh positif. China pertumbuhan ekonomi surplus 6,5 persen, dan Vietnam surplus 4,5 persen.

Sejumlah pihak sepakat pertumbuhan ekonomi 2020 bakal terkontraksi akibat pandemi Covid-19 berkepanjangan sejak Maret tahun lalu.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi, ekonomi Indonesia pada 2020 akan tumbuh negatif di kisaran minus 1 persen hingga minus 2 persen.

Angka tersebut mengalami perbaikan, setelah pada kuartal II 2020 ekonomi Indonesia terkontraksi minus 5,32 persen, dan minus 3,49 persen pada kuartal III 2020.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan positif pada triwulan IV 2020, dan akan pada kisaran -1 persen hingga -2 persen pada keseluruhan 2020,” kata Perry, seperti dikutip Jumat (5/2/2021).

Sementara Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2020 pada angka yang lebih rendah, yakni hingga minus 2,2 persen.

“Kalau kami bilang itu (pertumbuhan ekonomi nasional) di sekitar minus 1,7 persen sampai minus 2,2 persen,” ungkap Suahasil.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (Core) Piter Abdullah bahkan meramal pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2020 akan terkontraksi lebih dalam, yakni antara minus 2 persen hingga minus 2,5 persen.

“Perekonomian Indonesia tahun 2020 diperkirakan minus 2 sampai dengan minus 2,5 persen,” ujar Piter.

Namun, Piter menilai ekonomi Indonesia di tahun lalu masih akan tertolong pada kuartal IV 2020, dimana pemerintah mulai menerapkan pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Pertumbuhan ekonomi kuartal IV saya perkirakan di kisaran minus 1 sampai dengan minus 2 persen, membaik dibandingkan kuartal III. Pada kuartal IV pemerintah melonggarkan PSBB, dimana mall dan restoran bahkan bioskop boleh buka,” jelasnya.

Liputan6

LEAVE A REPLY