Airlangga Hartarto Sebut Vaksinasi Dorong Capai Target Pertumbuhan 5 Persen

0
127
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

JAKARTA, Nawacita — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan vaksinasi yang akan dilakukan kepada masyarakat merupakan langkah pendorong dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia bisa tumbuh sebesar 5 persen pada tahun ini.

“Kita melihat pada Januari ini atau sepanjang tahun 2021 APBN kita didesain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (5/1).

Airlangga menjelaskan tiga juta vaksin telah dikirimkan ke berbagai daerah dan diharapkan pertengahan Januari 2021 vaksinasi dapat dilakukan secara bertahap sampai kuartal pertama 2022.

Pelaksanaan vaksinasi yang saat ini masih menunggu BPOM mengeluarkan Emergency Use Authorization maupun MUI mengeluarkan sertifikat kehalalan ini akan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat dalam beraktivitas.

Aktivitas yang meningkat tersebut turut mendorong kegiatan konsumsi dan daya beli masyarakat menjadi lebih bergerak sehingga target pertumbuhan 4,5 persen sampai 5 persen untuk tahun ini akan mampu tercapai.

“Masyarakat cukup percaya diri untuk melakukan konsumsi. Saat ini confident level itu sudah meningkat. Konsumsi masyarakat sudah bergerak,” katanya.

Terlebih lagi, Airlangga semakin optimistis pertumbuhan mampu mencapai 5 persen karena melihat Indonesia yang telah melewati rock bottom pada kuartal II-2020 yakni minus 5,32 persen dan membaik pada kuartal III menjadi minus 3,49 persen.

Tak hanya itu, sejumlah lembaga internasional seperti World Bank turut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 4,4 persen, IMF memproyeksikan sebesar 6,1 persen, serta ADB memprediksikan 5,3 persen.

Meski demikian, Airlangga menegaskan pemerintah dan masyarakat harus tetap terus memantau dinamika pandemi Covid-19 seperti munculnya strain baru di Inggris dan pengetatan kembali di Thailand dan Jepang.

“Tentu kita juga harus melihat dinamika dari pandemi Covid-19,” katanya.

repblk

LEAVE A REPLY