“Main” Lah ke Babel, Nikmati Keeksotisan Alam

0
117

Bangka Belitung (Babel) | Nawacita – adalah sebuah Provinsi yang baru seumur jagung. Dilahirkan pada tanggal 2o November 2000, Provinsi kepulauan yang memiliki pesona yang eksotis ini terus menggeliat dengan beragam pembangunannya.

Dengan 1 Kotamadya Pangkalpinang dan 6 daerah Kabupaten yakni, Bangka Selatan, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Induk, Belitung dan Belitung Timur, Provinsi yang kini dihuni sekitar satu juta penduduk ini menyimpan beragam keindahan yang maha dahsyat dan  dengan sejuta keunikannya.

Daerah Babel dikenal dengan semboyan sebagai daerah Serumpun Sebalai dimana musyawarah dan mufakat menjadi simbol dalam hidup bermasyarakat.

Setiap daerah Kabupaten/Kota, bahasa lokal yang dipakai kadang berbeda dengan daerah lainnya, baik dari sisi konsonan pengucapannya atau pun makna yang terkandung dalam bahasa lokal babel. di daerah saya Toboali, “Ngayau” atau berkunjung, didaerah lain di Babel bisa diverbalkan dengan frasa ” Natak ” yang artinya sama, berkunjung atau mendatangi.

Sementara tentang keeksotisan alamnya, hampir semua daerah di Babel memiliki pantai yang eksotis dengan hamparan pasir yang putih, berpadu dengan kekokohan bebatuan yang gagah sebagai diorama alam yang menghiasi pantai-pantai di Babel. Sebuah perpaduan yang maha dahsyat karya Sang Maha Agung untuk warga babel dan Indonesia.

Soal kuliner, di Provinsi Babel, makanan khas lokal lempah kuning adalah makanan wajib yang harus ada di meja makan. Makanan yang diracik dari bumbu-bumbu lokal yang memiliki ciri khas rempah berpadu dengan ikan segar  dari hasil tangkapan di laut.

Lempah Kuning kini bukan hanya menjadi rasa lidah para warga lokal dan asli, tapi sudah menjalar menjadi rasa lidah semua warga babel yang kini didiami dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Sebuah aplikasi dari nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika yang nyata.

Pada sisi lain hubungan antar sesama warga sangat baik, bahkan rukun dan damai. Berbagai suku bangsa Indonesia hidup dan berkehidupan di Provinsi yang memiliki keeratan sejarah dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit ini dengan damai. Suku Melayu sebagai suku asli Babel hidup berdampingan dengan etnis lainnya.

Demikian pula dengan etnis China yang menjadi suku kedua terbesar di babel, bisa hidup berdampingan dengan suku-suku lainnya di Babel. Sebuah kerukunan hidup yang telah terpelihara sejak era dahulu, era dimulainya penambangan timah di Babel.

Bahkan saat tradisi Imlek, warga Suku Melayu selalu bersilahturahmi ke rumah kaum Etnis. demikian pula sebaliknya saat Idul Fitri dan Idul Adha, kaum etnis Tionghoa pun bersilahturahmi ke rumah warga babel yang merayakannya. Sebuah potret toleransi yang telah terbina dengan hati sejak ratusan tahun yang lalu. Sebuah potret kebhinnekaan Tunggal Ika bangsa Indonesia.

Babel bukan hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki pantai dengan hamparan pasir yang putih dan bebatuannya serta biji timah, namun daerah ini dikenal sebagai daerah penghasil rempah lada yang menjadi sumber kehidupan para warganya. Daerah ini juga di kenal sebagai daerah pertanian penghasil padi. Gestur tanah Babel amat cocok dengan pertanian.

Jadi bagi para Kompasianer, tunggu apa lagi. Bersegeralah ” Ngayau ” ke Babel. Insya Allah, anda semua akan terkesan dan memiliki kesan yang teramat istimewa dalam hidup. Yo kite (bahasa bangka : kita) ” ngayau ” ke Babel.

Kompasiana

LEAVE A REPLY