Berikut Rekam Jejak Laeli si Pelaku Mutilasi saat Kuliah di UI

0
711
Laeli Atik Supriyatin, perempuan pelaku mutilasi terhadap Rinaldy Harley Wismanu (RHW).
Laeli Atik Supriyatin, perempuan pelaku mutilasi terhadap Rinaldy Harley Wismanu (RHW).

DEPOK, Nawacita – Laeli Atik Supriyatin, perempuan pelaku mutilasi terhadap Rinaldy Harley Wismanu (RHW), dikenal kritis saat kuliah di Universitas Indonesia (UI). Ia kerap mengkritik seputar kampus dan kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

“Kalau dibilang suka mengkritik, memang benar. Makanya dulu motivasinya mau menjadi pemira, karena dia pengen biar pemimpin 2015 itu menurut dia bisa lebih baik daripada saya,” ujar Ivan Riansa, Ketua BEM UI periode 2014, ketika dihubungi, Sabtu (19/9/2020).

Ivan mengenal Laeli ketika menjadi Ketua BEM. Saat itu Laeli sebagai project officer Pemira UI Tahun 2014. “Saya kan Ketua BEM 2014, pas pemilu pertama Pak Jokowi. Nah, Laeli itu saya kenal menjelang pergantian akhir tahun, kan ada transisi kepemimpinan juga di lembaga kemahasiswaan UI. Enggak cuma di BEM, ada di 3 lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, yakni BEM, MPM, dan MWA UI,” bebernya.

Saat itu Laeli menjabat sebagai project officer di triwulan ketiga tahun 2014. Saat itu Ivan adalah salah satu steering commitee. Menurutnya, kritikan yang disampaikan Laeli terhadap BEM relevan dan dia pun menganggap sebagai hal lumrah dalam dunia organisasi.
Baca Juga: Pelaku Penusukan Syekh Ali Jaber Dijerat Kasus Penganiayaan Berat

“Kritikannya standar saja soal politik internal kampus kok, tidak substansial karena Indonesia juga sedang pesta demokrasi ya, sehingga BEM juga fokusnya keluar, aktif untuk mengawal pemilih dengan baik. Karena salah satunya kita juga mengatur lokasi biar anak-anak daerah di UI bisa milih,” katanya.

Ivan menyebut bahwa saat menjabat sebagai project officer, Laeli diberhentikan di tengah jalan sebelum masa jabatannya selesai. “Secara kinerja yang belum banyak publik tahu, dia di tengah jalan saat menjalankan amanah sebagai project officer juga dipecat sama lembaga yudikatif. Tidak perform juga (kinerjanya),” bebernya.

Baca Juga: Soal Kasus Dokter PPDS Bunuh Diri Unair Beri Penjelasan

Pemberhentian itu disinyalir karena Laeli berafiliasi dengan salah satu calon. “Karena dia memiliki keberpihakan sama salah satu calon. Kan harusnya dia lembaga penyelenggara kayak KPU-nya, harusnya tidak boleh berpihak. Makanya akhirnya dihentikan oleh semacam DKPP dan ada saya juga salah satunya,” ucapnya.

Ivan tak heran jika Laeli bermasalah. Sebab, saat di kampus pun Laeli sudah memiliki rekam jejak buruk saat menjadi project officer. “Iya, kalau misalnya dibilang anak sedikit bermasalah dari kuliah memang saya juga cukup tahu track recordnya, tapi secara kinerja tidak profesional karena akhirnya dia dipecat,” tukasnya.

Kendati tidak kenal dekat dengan Laeli namun Ivan sempat kaget mendengar kasus yang melibatkan wanita 27 tahun itu. Karana apa yang dilakukan Laeli dianggap diluar batas kemanusiaan. “Saya jujur kaget karena walaupun saya tahu dia aktif dan secara kinerja juga biasa saja, tapi tidak menyangka sajalah, karena inikan di luar batas kemanusiaan,” pungkasnya.

sdnws.

LEAVE A REPLY