Presiden Minta Seluruh Menteri Genjot Belanja APBN Rp 2.739 Triliun

0
230
Bahlil dan Sri Mulyani

Jakarta, Nawacita – Pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk mencegah RI masuk jurang resesi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa salah caranya adalah menggenjot belanja negara untuk menggerakkan perekonomian.

Menurut Sri Mulyani, Presiden (Joko Widodo) minta seluruh menteri fokus menggerakkan ekonomi. “Target total belanja tahun ini adalah Rp2.739 Triliun,” papar Sri Mulyani, belum lama ini.

Dengan membelanjakan anggaran sebesar itu, kata Ani – Sapaan akrab Sri Mulyani -, roda ekonomi akan tetap bergerak ditengah kondisi serbasulit seperti sekaran. Pemerintah tidak hanya membelanjakan dana penanganan Covid-19 sebesar Rp 695 triliun, tapi juga harus tetap mengalokasikan anggaran yang lain. termasuk anggaran belanja kementerian danlembaga (K/L) yang jumlahnya mencapai Rp836,4 triliun. Anggaran belanja K/l itu terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.975 triliun melalu transfer daerah dan dana desa Rp 763,92 triliun. Belanja pemerintah pusat terbagi menjadi belanja K/L Rp836,4 triliun dan belanja non K/L Rp 1.138,86 Triliun.

Ani menegaskan, pemulihan ekonomi tidak hanya dimotori oleh pemerintah. Sektor swasta juga berkontribusi untuk pemulihan ekonomi nasional. “Kalau pemerintah melakukan belanja, namun sektor swasta korporasi tidak jalan ya akan percuma,” tutur mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu.

Karena itu, lanjut Ani, pemerintah menjamin kredit modal kerja senilai Rp 100 triliun untuk korporasi yang terdampak pandemi covid-19. Ani berharap program itu bisa membuat para pelaku usaha kembali beraktivitas dengan maksimal. “Nggak mungkin ekonomi bangkit tanpa sektor swasta dan korporasi yang juga bangkit kembali,” tegas Ani. Sebab sekeras apapun upaya pemerintah untuk memulihkan perekonomian, capaiannya tidak akan lebih dari 16 persen total GDP. Sebab, itulah yang tercantum dalam anggaran dan belanja negara (APBN).

Sebelumnya, Kepala BAdan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menegaskan, para pelaku usaha yang menjadi pilar penopang ekonomi. “Pahlawan yang menyelamatkan ekonomi ya cuma pengusaha,” ujarnya, Kamis (30/7) lalu.

Sejauh ini ada 7 juta orang yang belum mendapatkan pekerjaan. Padahal, pertahunnya ada tambahan angkatan kerja baru sebanyak 2,5 juta orang. “Rumus untuk menyelesaikan masalah lapangan pekerjaan adalah incestasi,” kata Bahlil.

Namun, ada banyak yang menjadi kendala percepatan realisasi investasi. Banyaknya aturan yang tumpang-tindih, tingginya harga lahan dan mahalnya upah buruh membuat nilai jual Indonesia kalah jika dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain.

Bahlil berharap iklim investasi bisa lebih baik. Saat ini tidak ada lagi anggapan bahwa BKPM atau K/L yang lebih penting bagi pengusaha. Atau yang mana yang lebih dibutuhkan oleh pengusaha. Sekarang kita itu harus duduk sama rendah, berdiri sama tinggi untuk mencari solusi yang baik,” tutur mantan Ketua Umum Hipmi tersebut. jawapos

LEAVE A REPLY