New Normal, Apa kabar Pertumbuhan Ekonomi Indonesia?

0
717

“Syarifah Rabiatunnisa
Mahasiswi Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala”

Nawacita – Selama beberapa bulan ini nyaris seluruh kegiatan yang dilakukan masyarakat terbatas dengan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dibeberapa titik wilayah Indonesia akibat pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Istilah new normal atau kehidupan normal yang baru dalam menjalani kehidupan diluar kebiasaan sebelumnya dilakukan. New Normal Menjadi populer seiring rencana pemerintah melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menjalankan kembali aktivitas sosial-ekonomi secara terbatas mulai Juni 2020. Menjadi pertimbangan besar dengan adanya kebijakan ini, apakah akan menjadi sebuah langkah yang tepat atau sebaliknya?

Jika dinilai dari pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tumbuh melambat pada Kuartal 1 (Q1) 2020 yang hanya mencapai 2,97 persen, penurunan konsumsi yang memburuk berada di 2,84 persen jauh berbanding dengan sebelumnya yang mencapai 5 persen. Kontribusi konsumsi menjadi yang paling besar pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencakup hampir 57 persen setara Rp9.000 triliun. Dampak selanjutnya yang akan terjadi pada pertumbuhan Q2/2020 juga mengkhawatirkan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi yang menurun ini. Penerapan work from home (WFH) dan physical distancing atau yang disebut juga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini menjadi faktor utama tentunya terlepas dari berbagai kebijakan ekonomi yang sebelumnya telah dirancangkan oleh Pemerintah yang membuat dampak yang tidak begitu signifikan terhadap gejolak kurs rupiah yang sempat mengejutkan publik. Serta beberapa industri dan nasib para pekerja yang mengalami PHK setidaknya menurut Kamar Dagang dan Industri (KADIN) hampir 15 juta pekerja di Indonesia terkena imbas dari surutnya perekonomian akibat Covid-19 ini.
New Normal menjadi sebuah langkah yang sebenarnya dinilai kurang tepat oleh sejumlah pihak karena sejak agenda settingnya sendiri belum sempurna yakni pelaksanaan protokol yang tengah dirancang dengan sejalannya program peta jalan sebagai fase dari pembuka jalan untuk perekonomian nasional sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional Dalam Rangka Mendukung Kebijakan Keuangan Negara Untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan atau Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional atau Stabilitas Sistem Keuangan Serta Penyelamatan Ekonomi Nasional.

Walaupun sebelumnya salah satu kebijakan ekonomi terkait anggaran yang dilakukan Pemerintah dengan memangkas Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) masih belum efektif dalam penanganan pandemi ini. Oleh sebab itu, Pemerintah kali ini diharapkan kedepannya mampu untuk lebih fokus terhadap penanganan ekonomi nasional yang juga dapat berperan dalam peningkatan pencegahan Covid-19 dibeberapa kondisi, seperti tersedianya bantuan bagi tenaga medis dan juga memperbaiki proses belajar mengajar bagi para peserta didik serta mengembalikan produktivitas masyarakat dengan tetap mematuhi protokol Covid-19. Sebelumnya kebijakan pembatasan sosial terus digencarkan bukan sesuatu yang berlebihan jika banyak keluhan akibat terbatasnya ruang gerak masyarakat karena justru ini menuntun pemerintah untuk proaktif atas desakan dari masyarakat. Desakan tersebut yang menyebabkan gagasan New Normal muncul dan diharapkan menjadi sebuah solusi bersama dalam memperbaiki keadaan perekonomian Indonesia dan masyarakat juga mampu menyiapkan diri dengan beradaptasi dalam menghadapi tantangan baru nantinya setelah memasuki era baru-new normal.

Penulis : Syarifah

LEAVE A REPLY