Ini 11 Negara yang Lockdown Gegara Covid-19

0
479
Suasana lockdown di Manila, Filipina (AP/Aaron Favila)

Jakarta, Nawacita – Wabah Covid-19 semakin menyebar luas ke banyak negara di luar China. Bahkan, berbagai negara melaporkan kasus infeksi yang sangat tinggi.

Akibatnya, semakin banyak negara yang melakukan karantina massal (lockdown) terhadap kota-kota atau juga secara nasional demi menghambat penyebaran virus yang sudah menjangkiti hampir 170 ribu orang di seluruh dunia itu.

Sebagaimana dilaporkan Johns Hopkins CSSE, per Senin (16/3/2020), sudah ada 169.316 orang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia. Dengan total kematian sebanyak 6.512 dan pasien sembuh 77.257 orang.

Sementara, dalam hal penyebaran, setidaknya telah ada 146 negara dan wilayah yang mengkonfirmasi Covid-19 sejauh ini. Berikut adalah negara yang sudah melakukan lockdownbaik terhadap kota maupun negara secara keseluruhan

China
China telah menerapkan lockdown saat mencoba membatasi penyebaran dari virus yang pertama ditemukan di kota Wuhan, provinsi Hubei, pada Desember lalu. Lockdown pertama dilakukan negara pada awal Januari.

Lockdown itu diberlakukan pemerintah ke setidaknya 16 kota sekitar provinsi Hubei, termasuk Wuhan. Pada puncaknya, Lockdown China diberlakukan di setidaknya 20 provinsi dan wilayah, menurut The Wall Street Journal.

Dalam sebuah analisis oleh CNN pada pertengahan Februari lalu, diketahui bahwa hampir setengah dari populasi China atau sekitar 780 juta orang, berada di dalam karantina.

Beberapa aturan yang diberlakukan saat masa lockdown besar-besaran itu berlangsung di China di antaranya yaitu memutus jalur transportasi ke dan dari kota yang dikarantina, dan menutup banyak tempat umum.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tindakan pencegahan China telah sukses mencegah banyak kasus baru.

“Tidak ada keraguan bahwa pendekatan berani China terhadap penyebaran cepat dari patogen pernapasan baru ini telah mengubah arah dari [virus] yang dengan cepat meningkat dan terus menjadi epidemi yang mematikan,” kata Bruce Aylward, seorang dokter dan ahli epidemiologi Kanada kepada The New York Times, Februari lalu.

Aylward merupakan salah satu anggota tim yang baru-baru ini dikirim ke China oleh WHO untuk memeriksa upaya penanganan di sana.

Sayangnya, pada saat China melakukan upaya lockdown itu, virus telah menyebar ke luar China sehingga penyebaran di banyak negara tidak bisa terhindarkan.

Italia
Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengumumkan lockdown pada awal pekan lalu. Ini setelah Italia melaporkan lonjakan kasus Covid-19. Sebagai bagian dari karantina besar-besaran itu, perjalanan dibatasi, banyak sekolah dan kantor diliburkan, dan larangan pergi ke tempat umum dan acara yang ramai pengunjung juga diberlakukan. Sekitar 60 juta warga terdampak aturan itu.

Saat ini, Italia menjadi negara dengan jumlah kematian akibat virus corona tertinggi di dunia di luar China. Per Senin ini, setidaknya ada 24,747 orang telah terinfeksi dan 1.809 orang meninggal di sana.

Denmark
Denmark menjadi negara Eropa kedua yang memberlakukan lockdown nasional untuk membendung wabah Covid-19. Pemerintah mengumumkan lockdown di seluruh negeri mulai berlaku pada 14 Maret dan akan berlangsung setidaknya hingga 13 April.

“Kami berada di wilayah yang belum dipetakan. Kami berada di tengah-tengah sesuatu yang belum pernah kami hadapi sebelumnya,” kata Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dalam konferensi pers, sebagaimana dilaporkan The Local Denmark.

“Saat ini, saya tahu bahwa tindakan ini secara keseluruhan sangat ekstrem dan akan dipandang sangat ekstrem, tetapi saya yakin itu sepadan,” lanjutnya.

Denmark melaporkan 1.739 kasus sejauh ini dengan dua kematian dan satu sembuh.

Irlandia
Irlandia mengumumkan lockdown nasional pada 12 Maret. Pada Kamis malam, semua sekolah, perguruan tinggi, fasilitas penitipan anak, dan lembaga budaya resmi ditutup. Pertemuan dalam ruangan yang dihadiri lebih dari 100 orang juga dilarang digelar. Pertemuan di luar ruangan yang dihadiri lebih dari 500 orang juga dilarang.

“Kami belum menyaksikan pandemi seperti ini dalam hidup kami,” kata Perdana Menteri Leo Varadkar dari Washington, DC, menurut Irish Times.

“Ini belum pernah terjadi,” katanya lagi. “Bertindak bersama, sebagai suatu bangsa, kita dapat menyelamatkan banyak nyawa,”

Irlandia saat ini melaporkan 129 kasus dan dua kematian.

El Salvador
Presiden El Salvador Nayib Bukele mengumumkan status Alerta Naranja (peringatan oranye) pada hari Rabu lalu. Langkah-langkah Alerta Naranja itu termasuk memberlakukan karantina nasional pada 6,4 juta warga negara, menutup sekolah selama tiga minggu, dan juga memberlakukan karantina 30 hari di Salvador bagi mereka yang baru kembali dari luar negeri.

Langkah itu juga melarang orang asing memasuki negara itu dan melarang pertemuan lebih dari 500 orang digelar, menurut The Washington Post. Hal itu dilakukan negara itu meski kasus Covid-19 belum dilaporkan sama sekali di sana.

“Saya tahu ini akan dikritik, tetapi mari kita menempatkan diri pada posisi Italia. Italia berharap mereka bisa melakukan ini sebelumnya,” kata Nayib Bukele dalam pidato nasional pada hari Rabu. “Sistem kesehatan kita tidak di level Italia. Tidak juga di level Korea Selatan.”

Polandia
Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki mengumumkan karantina nasional pada Jumat lalu. Itu berarti Polandia melarang orang asing memasuki negara itu serta menutup semua restoran, bar dan kasino.

“Negara tidak akan meninggalkan (warganya),” kata Morawiecki seperti dilansir The Daily Mail. “Namun, dalam situasi saat ini kami tidak dapat membiarkan diri kami membiarkan perbatasan terbuka untuk orang asing.”

Orang-orang dari luar negeri yang memasuki negara tersebut akan dikenakan karantina 14 hari wajib. Polandia saat ini mencatat 125 pasien positif Covid-19 dengan 3 meninggal dan 13 sembuh.

Selandia Baru hingga Prancis

Selandia Baru
Selandia Baru mengumumkan karantina 14 hari wajib untuk semua orang yang memasuki negara itu. Semua kapal pesiar juga tidak akan diizinkan untuk berlabuh di negara itu sampai 30 Juni.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya itu pada Sabtu waktu setempat, Reuters melaporkan.

“Di samping Israel, dan sejumlah kecil Kepulauan Pasifik yang telah secara efektif menutup perbatasan mereka, keputusan ini akan berarti Selandia Baru akan memiliki penutupan perbatasan terluas dan terberat dari negara manapun di dunia,” kata Ardern seperti dilansir The Star.

Selandia Baru hanya memiliki enam kasus yang dikonfirmasi saat lockdown. Jumlah itu lantas naik menjadi delapan kasus per Senin. Belum ada kasus kematian terjadi. Tetapi Ardern mengatakan negara melakukan hal itu karena yakin bahwa jumlah kasus akan meningkat.

“Itulah sebabnya pada akhirnya, kami harus bekerja keras dan kami harus melakukannya lebih awal. Kami harus melakukan segala yang kami bisa untuk melindungi kesehatan warga Selandia Baru,” katanya.

Spanyol
Pemerintah Spanyol memberlakukan lockdown terhadap negara yang dihuni 47 juta orang penduduk itu mulai Sabtu (14/3/2020). Langkah yang bertujuan untuk menghambat penyebaran virus corona (Covid-19) yang sudah menjangkiti banyak orang itu akan berlaku hingga 15 hari ke depan.

Langkah itu juga diambil karena Spanyol menjadi negara yang terkena dampak Covid-19 paling parah kedua di Eropa, setelah Italia. Per Senin, negara ini memiliki 7.844 kasus dengan total kematian 292 orang. Sementara pasien sembuh ada 517 orang.

“Kami (pada akhirnya) akan kembali ke pekerjaan rutin kami dan kembali mengunjungi teman-teman dan orang-orang terkasih kami,” kata Perdana Menteri Pedro Sanchez dalam pidato yang disiarkan secara nasional.

“Sampai saat itu tiba, jangan buang energi yang penting sekarang. Jangan sampai salah langkah,” katanya lagi, mengutip Reuters.

Filipina
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan lock down ibu kota Filipina, yaitu Manila, pada 12 Maret. Ini setelah Filipina melaporkan peningkatan tajam kasus Covid-19 di negara itu. Per Senin ini, kasus Covid-19 di Filipina mencapai 140 kasus. Negara melakukan lockdown tersebut pada saat kasus masih di angka 52 kasus.

Selain lockdown, Duterte juga menyetujui resolusi lain soal penanganan wabah. Seperti larangan pertemuan warga dalam skala besar, penutupan sekolah selama satu bulan dan karantina komunitas tertentu di mana kasus ditemukan.

Lebanon
Lebanon pada Minggu mendesak warga untuk tetap tinggal di rumah selama dua minggu ke depan. Negara itu pun berencana membendung wabah virus dengan menutup bandara utama setelah Covid-19 menewaskan tiga orang.

Hal itu ditegaskan Menteri Informasi Manal Abdel Samad setelah total kasus naik menjadi 99. “Warga negara untuk tetap di rumah dan tidak keluar kecuali karena keperluan ekstrem hingga 29 Maret,” katanya dikutip dari AFP.

Bandara Internasional Beirut juga akan ditutup mulai Rabu (18/3/2020). Pelabuhan masuk juga akan ditutup.

Meski demikian, para diplomat PBB, karyawan organisasi internasional dan arus barang masih diizinkan masuk. Begitu pula tenaga medis, toko makanan.

Namun institusi dan bisnis akan ditutup. Sejak awal Maret, negara yang sudah beberapa tahun terjebak dalam krisis ekonomi dan protes tersebut sudah memerintahkan penutupan sekolah, universitas dan restoran.

Prancis
Prancis menerapkan lockdown terhadap seluruh negeri pada Sabtu kemarin. Hal itu menjadikannya negara Eropa terbaru yang melakukan hal tersebut. Langkah ini ditempuh negara pascakasus Covid-19 di Prancis dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 72 jam terakhir.

Per Senin ada 5.437 kasus infeksi virus corona dikonfirmasi di negara ini. Di mana korban meninggal ada sebanyak 127 orang dan 12 sembuh.

cnbc

 

LEAVE A REPLY