Sah! Gedung Senilai 2,4M Ini Jadi Milik IKAPMII Jatim

0
195
Asrorun Niam Sholeh ketua deputi Pemuda dan Olahraga tiga dari kiri sedang menandatangani peresmian gedung IKAPMII. Disaksikan oleh Jazilul Fawaid Wakil Ketua MPR RI 5 dari kiri. (foto Andre Nawacita)

Surabaya, Nawacita– Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) meresmikan gedung Pondok Pemuda di Universitas Sunan Giri Sidoarjo pada Sabtu (8/2). Gedung senilai 2,4 Miliyar ini diresmikan langsung oleh Jazilul Fawaid Wakil Ketua MPR RI dan Asrorun Niam ketua Deputi dua Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Al Muhid Efendi ketua yayasan Khazanah yang juga merupakan IKAPMII mengatakan bahwa pembangunan gedung tersebut sudah diusulkan sejak 2017. Namun baru bisa dimasukan perencanaan pembangunan pada tahun 2018. Namun pembangunan baru bisa dilaksanakan pada tahun 2019. Sebab ada permasalahan dalam pencarian lahan.

“tahun 2017 itu diusulkan, namun baru 2019 bisa terlaksana pembangunannya,” ucapnya.

Di sisi lain Jazilul Fawaid Wakil Ketua MPR RI berharap gedung yang baru saja diresmikan itu menjadi tempat pengaderan organisasi PMII. Ia mencontohkan seperti sarang lebah yang memiliki banyak anggota serta mampu menghasilkan madu. Serta diharapkan tidak menjadi sarang laba-laba yang memiliki sedikit anggota dan tidak menghasilkan apapun.

“Kalau bisa menjadi rumah lebah bisa menghasilkan madu. Tidak menjadi sarang laba-laba. Sudah sedikit, tidak ada manfaatnya,” ungkapnya.

Senada dengan Asrorun Niam Sholeh ketua Deputi 2 Kemenpora meminta pertanggungjawaban dalam pemanfaatan gedung senilai 2,4 Miliyar tersebut. Menurutnya gedung itu harus dipakai secara maksimal.

“Kita minta pertanggungjawabannya agar dipakai untuk pelatihan kader PMII,” terangnya.

Selain itu, laki-laki yang akrab disapa Niam itu menyebutkan tantangan pemuda pada saat ini jauh lebih besar ketimbang era dulu. Dimana pada saat ini tantangannya terletak pada kemampuan yang harus dimiliki. Tidak hanya sekadar memiliki ijazah tamatan pendidikan tertentu. Sebab, menurutnya zaman sekarang cepat sekali situasi berubah. Serta pemuda harus bisa mengejarnya.

“Tantangan sekarang terletak pada skill. Beda pada era 90an, dimana formalitas masih dianggap lebih penting ketimbang skill. Oleh sebab itu dulu banyak ulama NU yang tidak bisa kemanapun, sebab memiliki kompetensi tapi tidak punya ijazah,” terangnya.

Oleh sebab itu, Niam berharap agar gedung tersebut bisa menjadi rumah untuk mengasah kemampuan pemuda. Sehingga nantinya pemuda bisa menjawab perkembangan dunia.

“kita dorong para pemuda agar memiliki kemampuan. Lalu gedung ini menjadi rumahnya,” pungkasnya.

(and)

LEAVE A REPLY