Fenomena Kerajaan Fiktif Menunjukan Bangkitnya Revivalisme

0
283
Fenomena Kerajaan Fiktif.
Fenomena Kerajaan Fiktif.

SURABAYA, Nawacita – Maraknya kemunculan keraton atau kerajaan fiktif di Indonesia, yang membuat heboh masyarakat. Menurut para sejarawan menunjukan bangkitnya revivalisme. Dalam situasi seperti ini, menurut para sejarawan, masyarakat sangat membutuhkan banyak asupan literasi untuk bisa membaca fenomena itu.

Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Adrian Perkasa menuturkan, kondisi ini menunjukan fenomena munculnya kerajaan fiktif dengan perspektif revivalisme. “Saya pikir dan pas sekiranya kita menganalisis fenomena tersebut dengan konsep revivalisme,” kata Adrian, Selasa (28/1/2020).

Ia melanjutkan, revivalisme menurut Henley dan Davidson (2008) merupakan ide akan kebangkitan kejayaan suatu masa keemasan kerajaan pada masa lalu. Munculnya istilah revivalisme berawal dari tradisi kristiani kemudian berkembang hingga kini. “Kemunculan revivalisme di Indonesia akhir-akhir ini sangat berkaitan dengan perkembangan pasca-reformasi,” ucapnya.
Baca juga: Sunda Empire: PBB Ada di Bawah Kekaisaran Sunda

Adrian menambahkan, sebenarnya fenomena itu sudah mengemuka secara masif sejak lunturnya otoritas yang sentralistik. “Pada awalnya, reformasi menunjukkan optimisme terhadap perubahan ke arah yang lebih baik justru menghasilkan tatanan yang dianggap lebih kacau,” imbuhnya.

Bahkan, di tengah derasnya arus modenisme segelintir masyarakat masih meyakini unsur magis dan keinginan membangkitkan kejayaan nusantara seperti dulu. Fenomena itu muncul tak hanya di Jawa. Contohnya di Sumbawa tiba-tiba muncul kerajaan di mana terdapat masyarakat adat. Pendukung kerajaan tersebut bukanlah masyarakat adat, justru perusahaan besar.
Baca Juga: Daftar Keraton Asli Indonesia dan Serta Sejarahnya

“Kita bisa lihat bahwa revivalisme semacam ini rentan ditunggangi oleh tokoh-tokoh yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan orang-orang tertentu,” katanya. Situasi ini, lanjutnya, bisa menjadi kesempatan besar bagi beberapa tokoh tertentu untuk berkuasa, mencari uang, atau menungganginya untuk kepentingan ekonomi dan politik.

Terdapat berbagai faktor masyarakat Indonesia yang rentan percaya terhadap kerajaan fiktif tersebut. Pertama, meyakini kepercayaan dengan sungguh, masih percaya akan adanya unsur magis dari seorang tokoh. Kedua, karena faktor struktural, di mana situasi pasca-reformasi dianggap lebih kacau sehingga banyak orang mencari alternatif.

“Fenomena ini mirip dengan maraknya orang-orang yang berobat di pengobatan tradisional daripada pengobatan mengikuti ilmu medis yang berkembang. Mencari jalur alternatif lain,” ungkapnya. Untuk meminimalisir kejadian serupa, Adrian menyarankan masyarakat untuk meningkatkan literasi. “Sekali lagi sejarawan juga harus sering tampil ke publik, karya-karyanya juga harus dikonsumsi untuk masyarakat,” jelasnya.

sdnws.

LEAVE A REPLY