Daftar Keraton Asli Indonesia dan Serta Sejarahnya

0
722
Ilustrasi Daftar Keraton Asli Indonesia dan Serta Sejarahnya.
Ilustrasi Daftar Keraton Asli Indonesia dan Serta Sejarahnya.

JAKARTA, Nawacita – Sepekan ini masyarakat dihebohkan dengan munculnya sejumlah keraton baru. Ada yang menamakan Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Keraton Djipang di Blora, serta Sunda Empire di Bandung.Tidak dimungkiri Indonesia memang memiliki banyak kesultanan dari berbagai daerah yang telah berdiri sejak masa penjajahan. Ini menjadi kekayaan tersendiri.

Lalu apa saja kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia dan bahkan beberapa masih dipertahankan sebagai nilai budaya? Berikut beragam keraton yang telah dirangkum, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Selasa 21 Januari 2020:

1. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Kesultanan Yogyakarta merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua; Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.Kisah berdirinya Kerajaan Mataram Islam diawali dengan pemberian daerah kekuasaan (Alas Mentaok) dari Kesultanan Pajang (Sultan Hadiwijaya) terhadap Ki Ageng Pemanahan, setelah berhasil mengalahkan musuhnya, Aryo Penangsang. Kemudian pada Tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan membuat sebuah keraton di daerah Kota Gede, Yogyakarta, sebagai pusat pemerintahan, hingga beliau wafat pada Tahun 1584.

Meskipun kesultanan tersebut secara resmi sudah menjadi bagian Republik Indonesia di tahun 1950, namun kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal para sultan dan juga rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga kini. Sebagian dari kompleks keraton merupakan bagian dari museum yang juga menyimpan beragam jenis koleksi milik kesultanan sperti replika pusaka keraton, hingga gamelan.

2. Kadipaten Paku Alaman

Keraton Pakualaman sempat menjadi tempat tinggal resmi para Pangeran Paku Alaman sejak tahun 1813-1950. Keraton ini merupakan sebuah istana kecil apabila dibandingkan dengan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Awal berdirinya keraton ini yaitu saat Sultan Hamengku Buwono II bertemu dengan Letnan Gubernur Jenderal Raffles dan Crawfurd di pendopo keraton yang masih utuh pasca-serangan Inggris.

Dalam pertemuan itu, Raffles mengumumkan aneksasi Kedu dan sepertiga bagian wilayah timur (mancanegara) Yogyakarta sebagai pembayaran ganti rugi atas biaya operasi militer Inggris yang baru dilakukan, termasuk kekayaan keraton yang dijarah oleh tentara.

Baca Juga: Berikut Daftar Julukan Unik Kota-kota di Indonesia

Di samping itu, Raffles menyampaikan pengukuhan Notokusumo sebagai Pangeran Merdeka atau Paku Alam I. Namun, dalam hal tersebut, belum disertai tentang tanah jabatan Paku Alam, karena kesulitan memetakan batas tanah yang akan diberikan dengan tanah milik Sultan.

Alasan lainnya, sebagian besar tanah jabatan Paku Alam sebelumnya, terdapat di wilayah Kedu yang diambil alih oleh Inggris. Penunjukan Notokusumo sebagai Paku Alam merupakan balas jasa Inggris akan ketidakberpihakan dalam peristiwa penyerbuan ke keraton dan sebagai tanda persahabatan antara Raffles dan Notokusumo.

3. Kesultanan Surakarta Hadiningrat

Surakarta atau Solo memiliki satu keraton yang jadi tempat tinggal atau istana resmi Kasunanan Surakarta, yang nama lengkapnya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.Berada di Kota Surakarta, Jawa Tengah, bangunan keraton didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada 1744 sebagai pengganti dari Keraton Kartasura yang hancur akibat geger pecinan di tahun 1743.

Setelah diresmikan, dan istana Kerajaan Mataram pun selesai dibangun, nama desa tersebut akhirnya diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Dimana istana ini menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749.

4. Kadipaten Mangkunegaran

Kadipaten Mangkunegaran adalah sebuah kesultanan yang pernah berkuasa di wilayah Surakarta sejak 1757-1946. Awal berdirinya keraton ini yaitu pada tanggal 17 Maret 1757. Yaitu saat penandatanganan Perjanjian Salatiga antara Sunan Pakubuwana III dengan Raden Mas Said (bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I) di Salatiga disaksikan oleh perwakilan Sultan Hamengkubuwana I dan VOC.

Perjanjian Salatiga menandai berdirinya Mangkunegaran. Berdasarkan perjanjian tersebut, Mangkunegara I memerintah di wilayah Kedaung, Matesih, Hong Bayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu.

5. Kadipaten Sumenep

Kadipaten Sumenep dibangun pada tahun 1781 dan pernah menjadi tempat kediaman resmi para Adipati atau Raja-Raja serta sebagai tempat dalam menjalankan roda pemerintahan. Adapun kerajaan Sumenep sendiri tergolong sebagai kerajaan kecil (setingkat Kadipaten) kala itu. Hal ini karena wilayah Sumenep masih dikuasai oleh VOC.

Baca Juga: 10 Warisan Budaya Indonesia Masuk Daftar UNESCO

Dimana istilah penyebutan keraton jika dikaitkan dengan sistem pemerintahan Jawa saat itu, merasa kurang tepat karena keraton Sumenep mempunyai tingkatan yang lebih kecil dibandingkan dengan bangunan keraton yang ada di Yogyakarta atau pun Surakarta.

6. Kesultanan Banten

Kesultanan Banten adalah salah satu kerajaan Islam yang terletak di wilayah Banten, Jawa Barat. Kesultanan ini didirikan sekira tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin yang dikenal sebagai pendirinya. Sebelum akhirnya pada tahun 1525, Sultan Trenggono mengutus Nurullah atau Syarif Hidayatullah, untuk menaklukan kawasan Banten ini.

Tidak hanya untuk memperluas wilayah Demak tetapi Syarif Hidayatullah juga mempunyai misi untuk penyebaran agama Islam. Setelah Islam berkembang, wilayah banten pada awalnya hanya sebuah kadipaten bagian wilayah bagian Demak. Hingga pada akhirnya menjadi suatu kesultanan setelah Kerajaan Demak runtuh akibat kekalahan dari Kerajaan Pajang.

7. Kesultanan Kanoman Cirebon

Keraton Kanoman adalah salah satu bangunan dari Kesultanan Cirebon. Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M.

Keraton Kanoman masih berpegang teguh dengan adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

8. Kadipaten Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang berlokasi di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Kerajaan ini didirikan pada tahun 721 M oleh Prabu Tajimalela, keturunan dari raja Wretikandayun dari Kerajaan Galuh, di wilayah bekas Kerajaan Tembong Agung. Sebelum bernama Sumedang Larang, kerajaan ini bernama Kerajaan Himbar Buana.

Baca Juga: Deretan Pangkalan Militer Terbesar di Dunia

9. Kasultanan Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati.

10. Kesultanan Kacirebonan Cirebon

Keraton Kacirebonan berlokasi di wilayah kelurahan Pulasaren Kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 kilometer sebelah barat daya dari Keraton Kasepuhan. Keraton ini dibangun pada tahun 1800 M. Sama halnya dengan kerajaan yang lain, Kesultanan Kacirebonan masih melaksanakan tradisi dan upacara adat yang salah satunya adalah Upacara Panjang Jimat.

11. Keraton Surosowan

Keraton Surosowan adalah sebuah keraton di Banten, Jawa Barat. Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin, yang kemudian dikenal sebagai pendiri dari Kesultanan Banten.

Keraton Surosowan mengalami beberapa kali penghancuran. Kehancuran total yang pertama kali pada tahun 1680. Kehancuran kedua kalinya dan ini yang terparah adalah pada tahun 1813 ketika Gubernur Jenderal Belanda yang bernama Herman Daendels memerintahkan penghancuran keraton. Keraton ini kemudian ditinggalkan penghuninya.

oknws.

LEAVE A REPLY