Kisah Perjuangan Hidup Pengamen Tuna Netra

0
165
Kisah Perjuangan Hidup Pengamen Tuna Netra.
Kisah Perjuangan Hidup Pengamen Tuna Netra.

JAKARTA, Nawacita – “Mungkin Tuhan telah bosan melihat tingkah kita yang selalu bangga akan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang,” demikian lagu yang dibawakan Heru Setiawan (36) di Stasiun Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Suara merdu dari pria berbadan tambun itu terkadang terdengar sayup saat kereta rel listrik (KRL) datang lalu lalang mengantarkan penumpang. Namun, Heru tetap menyanyikan lagunya berharap orang yang lalu lalang di pintu masuk atau keluar Stasiun Gondangdia terhibur. Sesekali tampak para pengguna KRL itu memberikan sedikit rezekinya dalam kantong kresek yang terletak tepat di atas speaker.

Baca Juga: Kisah Suka Duka Manusia Silver

“Ya (penghasilan) kalau cukup sih cukup, buat makan mah cukup,” kata Heru mengawali perbincangannya. Heru setiap harinya juga menumpangi KRL Pasar Minggu dan turun di Stasiun Gondangdia untuk mencari sesuap nasi guna kelanjutan hidupnya. Suara Heru sesekali bergetar saat ditanya bagaimana perjuangannya untuk mencari nafkah. Ia terpaksa mengamen selama minimal 4 jam sehari mulai pukul 16.00 WIB sampai 21.00 WIB.

Baca Juga: Kisah Ketua Geng Motor yang Insyaf Usai Berhaji di Tanah Suci

“Alhamdulillah selama ini tidak pernah iseng. Semua menyambut baik,” ujar dia saat ditanya bagaimana perlakuan pengguna KRL. Heru mengaku beruntung sempat mengenyam pendidikan sampai SMA. Saat SMP ia sekolah umum namun SMA dirinya sekolah bagi warga berkebutuhan khusus di Bandung.

Sekjen Harapan Asosiasi Tuna Netra Indonesia (HATI) itu memastikan bahwa banyak teman-teman disabilitasnya yang mengenyam pendidikan sampai kuliah. “Sejauh ini kami cuma mengenyam pendidikan saja, tapi enggak ada jalan keluarnya buat kerja,” imbuh dia.

Heru memastikan bahwa selama ini pemerintah banyak tak memperhatikan para disabilitas di Indonesia. Bahkan, lanjut dia, untuk profesinya yang biasa mengamen di Stasiun Gondangdia kerap disetarakan dengan pengemis. “Kalau harapan kami, kami cuma perlu diperhatikan, tidak perlu dikasihani. Cuma itu saja,” pungkasnya.

oknws.

LEAVE A REPLY