Risma: Salam Lintas Agama Perlu

0
246
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

JAKARTA, Nawacita Salam lintas agama saat ini tengah menjadi sorotan, setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan imbauan agar umat Muslim tak menggunakan salam lintas agama. Terkait hal ini, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Risma tak ambil pusing dengan imbauan MUI Jatim itu. Menurut Risma, salam lintas agama merupakan bentuk keberagaman untuk masyarakatnya yang berasal dari berbagai agama.

1. Risma menyebut tidak bisa salam dengan satu versi saja

Risma memang kerap menggunakan salam dalam 6 versi dari berbagai agama, hingga salam secara umum setiap kali berbicara di depan publik. Penyampaian salam berbagai agama ini ia lakukan untuk menghormati berbagai agama para pendengarnya.

Baca Juga: Pilkada Surabaya, Akankah Pengganti Risma Pasangan Nasionalis Religius

“Kan gak bisa (kalau cuma satu). Kan paling susah kalau jadi kepala daerah. Assalamualaikum sama yang lainnya,” ujar Risma saat konferensi pers di kediamannya Jalan Sedap Malam, Senin (11/10).

2. Agama masyarakat Surabaya bermacam-macam

Risma menjelaskan, masyarakatnya berasal dari berbagai macam latar belakang dan agama. Untuk menghormati mereka, Risma merasa tidak bisa hanya menyampaikan salam sesuai agama Islam saja.

“Aku kepala daerah, wargaku kan reno-reno (bermacam-macam). Kalau aku ya ngomong selamat pagi, selamat siang, selesai kan? Tapi kalau misalkan itu kan gak bisa. Kalau aku ngomong di gereja terus piye?” tuturnya.

3. Kepala daerah seharusnya menyesuaikan diri dengan rakyat

Ia menerangkan, sebagai kepala daerah, ia harus dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat yang tengah dihadapi. Sebagai contoh, jika ia harus membedakan penyampaian baik dari pembahasan dan bahasa kepada anak-anak dan orang dewasa. Salam lintas agama juga bentuk penyesuaian Risma dengan masyarakatnya.

Baca Juga: Surabaya Bangun Stadion Tempat Latihan Klub Asing

“Aku pernah suatu saat diundang disuruh kampanye di Kalimantan. Aku dijemput sama calon wakil wali kota. Acaranya di gereja. Bayanganku kan gereja. Aku bingung, masuk itu semua kerudungan, berjilbab. Aku tanya, “ini acara apa?” Aku keliru ngomong kan ciloko. Ini kampanye, pengajian. Pengajian di gereja. Aku bingung,” tuturnya disertai gelak tawa.

4. MUI Jatim minta pejabat tak lagi salam lintas agama

Sebelumnya, MUI Jatim mengeluarkan imbauan untuk tidak lagi menggunakan salam lintas agama. Salam dianggap bagian dari ibadah yang bersifat eksklusif dan tak seharusnya dicampuradukkan dengan agama lain.

“Kami menandatangani atau membuat seruan itu karena doa itu adalah ibadah, misalnya saya terangkan salam, Assalamualaikum itu doa, salam itu termasuk doa dan doa itu ibadah,” ujar Ketua Umum DP MUI Jatim, Abdusshomad Buchori , Minggu (10/11).

idnws.

LEAVE A REPLY