Kratom Akan Usulkan BNN Masuk Daftar Narkotika

0
422
daun kratom
daun kratom

Denpasar Nawacita – Baru-baru ini Badan Narkotika Nasional (BNN) meminta agar Kementerian Kesehatan menetapkan daun kratom atau Mitragyna speciosa sebagai narkotika golongan I. BNN menganggap daun kratom itu memiliki efek psikotropika yang bisa mempengaruhi mental dan perilaku pemakainya.

“Saat ini kami sedang meminta Kemenkes untuk memasukkannya ke golongan I. Bahayanya 10 kali lipat dari kokain atau ganja,” kata Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Yunis Farida Oktoris Triana, di Denpasar, Kamis (25/7).

Baca Juga : Polisi Sebut Tak Ada Profesi Khusus yang Kami Target Soal Narkoba

Lantas, apa itu kratom? Benarkah daun ini lebih berbahaya dari kokain dan ganja? Mari kita mengenal kratom dan membahasnya berdasarkan hasil sejumlah riset.

Kratom adalah tumbuhan asli Asia Tenggara. Ia tumbuh alami di Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Papua Nugini.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia sudah memasukkan kratom sebagai tanaman endemik. Di Kalimantan Barat, kratom membantu menahan abrasi sungai.

Daun pohon ini mengandung psikotropika. Biasanya, daun kratom dikeringkan dan dihaluskan sebelum dikonsumsi. Ada yang mengisapnya seperti rokok, diseduh menjadi teh, atau memasukkannya ke dalam kapsul.

Baca Juga : Daftar Artis Ditangkap Gara-gara Narkoba

Marc Swogger, profesor psikiatri di University of Rochester Medical Center, New York, Amerika Serikat, pernah melakukan riset atas daun kratom. Risetnya telah dipublikasikan di J Psychoactive Drugs pada November 2015. Ia menjelaskan, bahwa alasan utama orang menggunakan daun kratom adalah untuk membantu menghilangkan rasa sakit.

Menurut Swogger, kratom mungkin memiliki kemampuan analgesik dan penghilang rasa sakit yang baik. Ia menambahkan, banyak orang menggunakan kratom untuk membantu mereka berhenti menggunakan obat-obatan terlarang lainnya, terutama opium.

“Ada orang-orang yang mengaku menggunakan kratom untuk meringankan simtom berhenti pakai opium, dan banyak yang mengindikasikan bahwa mereka sukses berhenti memakai opium,” jelas Swogger, seperti dilansir Live Science.

Dalam risetnya, ia menemukan laporan penggunaan kratom untuk menangani post-traumatic stress disorder (PTSD). Ia berpendapat bahwa meski kratom bisa menyebabkan orang merasa giting, tidak banyak yang menggunakannya untuk hal itu.

kmprn

LEAVE A REPLY