Jika Sudah Rampung, Alun-Alun Surabaya Bakal Jadi Ruang Kreativitas

0
732
Desain Alun Alun Surabaya yang kini sedang tahap pembangunan sisi timur

Surabaya, nawacita – Di Surabaya, Jawa Timur kaya bangunan sejarah peninggalan Belanda. Bangunan tersebut ada yang bertahan hingga kini. Salah satunya Balai Pemuda.

Balai Pemuda berada di Jalan Gubernur Suryo No.15, Surabaya, Jawa Timur. Gedung tersebut kini telah menjadi pusat kreativitas budaya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mengupayakan agar gedung tersebut dijadikan pusat kreativitas budaya. Pada zaman penjajahan, gedung ini merupakan ruang publik bagi masyarakat Belanda.

Gedung Balai Pemuda dibangun pada 1907, yaitu pada masa kolonial Hindia-Belanda. Gedung Balai Pemuda ini bergaya ekletisisme, gaya campuran yaitu neo gothicrenaissance dan klasika romanika.

Sebelumnya, gedung ini merupakan pusat tempat rekreasi orang-orang Belanda untuk pesta, berdansa, bowling. Demikian mengutip surabaya.go.id.

Di gedung tersebut, mereka membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang Belanda dengan nama “De Simpangche Societeit”. Orang pribumi bahkan dilarang untuk memasuki tempat tersebut. Hal itulah yang semakin memicu amarah masyarakat Surabaya.

Akhirnya, masyarakat pribumi menganggap gedung ini sebagai simbol diskriminasi sosial yang ada pada saat itu. Selanjutnya, pada masa kekuasaan Jepang, tempat ini menjadi plesiran bagi opsir Jepang setiap malam.

Namun, larangan pribumi masuk ke gedung itu sedikit demi sedikit telah dihapuskan. Jepang mulai melegalkan prostitusi masuk ke gedung tersebut. Banyak pemudi yang dipekerjakan di sini dengan alasan disekolahkan ke Tokyo.

Setelah kemerdekaan, gedung ini pun berubah menjadi pusat kegiatan pemuda pejuang yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI). Terdapat berbagai kegiatan, mulai dari sekedar berkumpul hingga mencari cara agar secepatnya bisa mengusir Belanda dari Surabaya.

Mengutip unair.ac.id, pada 1957, bangunan tersebut berganti nama menjadi ‘Balai Pemuda’ untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. Lalu, pada 1966, Balai Pemuda bergejolak kembali karena dugaan para seniman yang pentas di gedung tersebut memiliki paham berbeda dengan ideologi Pancasila.

Ketika masa Orde Baru, gedung ini digunakan sebagai kantor-kantor pemerintahan dan perkantoran swasta, karena sebagian pengelolaannya diserahkan ke pihak swasta. Balai Pemuda kini dijadikan bangunan cagar budaya yang penuh dengan kisah sejarah di Surabaya.

Pemerintah Kota Surabaya terus menjadikan tempat ini menjadi ruang kreativitas pemuda Surabaya. Inovasi yang terbarunya yaitu dibangun underpass di bawah Balai Pemuda, dengan tujuan agar para pemuda di sana melakukan pementasan budaya.

Langkah awal Pemkot Surabaya dalam mengubah fungsi Balai Pemuda adalah membuat fitur-fitur Rumah Belajar, seperti Rumah Matematika, Rumah Bahasa, dan Perpustakaan.

Rumah Matematika dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Fasilitasnya dibuat senyaman mungkin dengan metode pembelajaran yang dikemas secara menarik, rumah matematika tersebut diperuntukkan bagi pelajar SD dan SMP se-Surabaya.

Rumah Bahasa dibangun untuk memfasilitasi warganya agar mampu berbahasa asing. Salah satu kelas bahasanya yaitu bahasa inggris, kelas bahasa mengalami peningkatan yang cukup signifikan, karena masyarakat yang belajar disini tidak dipungut biaya.

Salah satu kegiatan yang ada di perpustakaan yaitu wisata buku. Wisata buku adalah kegiatan yang mengenalkan dan menginformasi tentang perpustakaan beserta manfaatnya kepada anak-anak.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga membuat plaza yang digunakan untuk pementasan seni dan budaya para pemuda, seperti menari, melukis, dan bermain. Selanjutnya, kawasan ini akan memiliki air mancur seperti yang ada di Balai Kota Surabaya.

Jadwal rutin tampilan kesenian di gedung Balai Pemuda antara lain wayang orang, ludruk, ketoprak, dan srimulat. Selanjutnya, ada pula program beasiswa dan pelatihan kerja bagi anak-anak muda Surabaya.

“Ke depan, revitalisasi Balai Pemuda akan terus jalan sesuai rencana. Setiap langkah dilakukan dalam semangat memberikan layanan terbaik untuk warga kota. Harapan kami warga turut berpartisipasi menghidupkan Balai Pemuda dengan memanfaatkannya untuk pengembangan diri,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dikutip dari humas.surabaya.go.id.

penulis : Wiwin Fitriyani, mahasiswi Universitas Tarumanagara

LEAVE A REPLY