Banjir di Tanah Bumbu Disinyalir Akibat Tambang dan Kebun Sawit

0
362
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Banjarmasin, Nawacita – Bencana  Banjir menenggelamkan puluhan desa di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan setelah hujan deras mengguyur pada Sabtu dan Minggu akhir pekan lalu. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Selatan, Wahyuddin, banjir masih menggenangi sebagin desa di Kecamatan Sungai Loban dan Mantewe, Tanah Bumbu hingga Senin pagi, 10 Juni 2019.

Wahyuddin berkata ada empat pemicu bencana banjir tahunan yang sering menerjang Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. “Resapan tanah enggak ada, karena pemakaian lahan tidak seimbang. Pertambangan, kebun sawit, dan pembukaan perumahaan yang amdalnya apakah sudah benar atau meragukan,” ucap Wahyuddin.

 

Selain itu, kata dia, budaya masyarakat buang sampah sembarangan, tingginya curah hujan, dan pasang surut air laut berkontribusi memicu banjir menahun pada tiga kabupaten tersebut. Data terbaru yang diterima pada Minggu pukul 18.00 WITA, di Kecamatan Satui banjir menggenangi lima desa, 1.331 KK, 4.920 jiwa, dan 221 hektare persawahan. “Tempat pengungsian di SMPN 4 Satui sebanyak 11 KK dan 97 jiwa,” kata Wahyuddin.

Wahyuddin masih menghimpun data korban banjir pada tiga kabupaten tersebut. Menurut dia, Pemerintah Kalimantan Selatan sudah menyalurkan bantuan logistik ke korban banjir di Kotabaru dan Tanah Bumbu.

Kepala BPBD Kabupaten Kotabaru Rusian Ahmadi Jaya menambahkan hujan lebat memicu banjir di sekujur Pulau Laut, dan merobohkan Waduk Tilawang pada Sabtu pekan lalu. Menurut dia, banjir di Kotabaru akibat curah hujan tinggi dan air laut pasang.

Dia masih menghimpun data korban banjir dan kerugian materi. “Hari ini masih terpantau banjir di Bakambit, Kecamatan Pulau Laut Timur karena dataran rendah dan air laut sedang pasang. Tim sudah menuju ke sana. Untuk korban mengungsi cuma satu KK di Desa Gunung Sari karena rumahnya tertimbun longsor,” kata Rusian.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan, Kisworo Dwi Cahyono, pernah mengatakan Kalimantan Selatan menghadapi ancaman penghancuran lingkungan dan ruang hidup akibat tambang batu bara dan perkebunan monokultur. Dari 3,7 juta hektare luas Kalimantan Selatan, Kisworo mengklaim 50 persennya sudah dikuasai izin tambang dan kebun sawit.

“Kalsel darurat ruang dan darurat bencana ekologis, 50 persen wilayah Kalsel dibebani ijin tambang (33 persen) dan sawit (17 persen). Harus ada langkah tegas oleh negara dalam mengurai kejahatan tambang, dan untuk menjamin keselamatan rakyat dan lingkungan di Kalimantan Selatan,” kata Kisworo.

Kepala Dinas Pertanian Tanah Bumbu, Setia Budi, mengatakan Banjir menggenangi 686,5 haktere lahan pertanian dan 5.225 kilogram padi (persemaian) yang tersebar pada delapan kecamatan. “Data sementara yang terendam. Setiap hari ada perubahan yang terkena dampak banjir terhadap lahan pertanian,” kata Setia Budi.

tmpo

LEAVE A REPLY