Kemenperin akan Bangun Digital Capability Center

0
269
Kemenperin
Kemenperin

JAKARTA Nawacita – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen memfasilitasi pembangunan Digital Capability Center (DCC). Hal ini sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas industri melalui implementasi industri 4.0. Dalam DCC, akan ada tiga unsur yang ditekankan, yakni device, network dan application (DNA).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, DCC terbuka bagi seluruh sektor, baik industri besar maupun industri kecil dan menengah (IKM) yang ingin belajar banyak mengenai penerapan industri 4.0. “Kami menargetkan, satu atau dua pusat inovasi tersebut telah terbangun sebelum April tahun 2019,” ujarnya.

Di DCC, perusahaan akan disajikan contoh nyata dari perusahaan lain yang sudah mengadopsi teknologi terbaru. Sembari menunggu pembangunan ini, Kemenperin memaksimalkan lembaga atau badan riset yang sudah ada terlebih dahulu. Misalnya, lembaga riset agro di Bogor atau balai logam di Bandung.

Selain itu, Kemenperin telah menunjuk proyek percontohan (lighthouse industry) bagi lima sektor unggulan yang ditetapkan di dalam Making Indonesia 4.0. Beberapa di antaranya sudah mengaplikasikan kecerdasan buatan dan digitalisasi. Diharapkan, mereka dapat membantu kinerja DCC dengan berbagi pengalaman dan pandangan tentang revolusi industri 4.0.

Beberapa perusahaan yang sudah menjadi percontohan dalam implementasi industri 4.0, di antaranya PT Schneider Electric Manufacturing di sektor industri elektronika, PT Chandra Asri Petrochemical di industri kimia, PT Mayora Indah Tbk di industri makanan dan minuman.

Berdasarkan sasaran dari Making Indonesia 4.0, Indonesia akan menjadi lima besar eksportir untuk industri makanan dan minuman di tingkat global pada tahun 2030. Di periode yang sama, Indonesia sebagai produsen tekstil dan pakaian yang masuk dalam jajaran lima besar dunia.

Selanjutnya, industri otomotif di Indonesia ditargetkan sudah memproduksi kendaraan listrik dan melakukan ekspor ke negara berkembang. Kemudian, Indonesia mampu membangun kemampuan industri elektronika lokal untuk manufaktur komponen lanjutan. Di industri kimia, Indonesia dibidik menjadi produsen biofuel dan bioplastic yang masuk lima besar dunia pada tahun 2030.

Namun demikian, menurut Airlangga, pemerintah berkomitmen tidak meninggalkan sektor lain yang saat ini masih menggunakan teknologi di era industri 1.0-3.0. Misalnya industri tenun yang memakai ATBM atau industri batik dengan canting. “Terhadap sektor tersebut, pemerintah berkomitmen untuk memproteksi, seperti investor asing tidak boleh masuk di situ atau masuk daftar negatif investasi,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kemenperin Ngakan Antara menjelaskan, Kemenperin juga tengah menyusun indikator penilaian tingkat kesiapan perusahaan dalam memasuki revolusi industri 4.0 yang disebut Indie 4.0. Penilaian ini sudah mulai berlangsung pada 2018 dan akan semakin masif pada tahun ini.

Terdapat berbagai indikator yang menjadi penilaian, termasuk sumber daya manusia, teknologi dan secara organisasi. Aesor yang terlibat berasal dari Kemenperin dan lembaga independen. Apabila sudah diketahui tingkat kesiapan tiap perusahaan, para asesor dapat memberikan saran. “Kami sudah melatih 40 orang sebagai asesor yang sudah dan akan terjun ke industri,” ucap Ngakan saat ditemui di kantornya pada pertengahan Desember.

Menurut Ngakan, penilaian tidak terbatas pada perusahaan skala besar, juga ke industri kecil dan menengah (IKM). Untuk saat ini, penilaian fokus pada perusahaan yang bergerak di lima sektor manufaktur prioritas Making Indonesia 4.0, yakni makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik serta kimia.

rp

LEAVE A REPLY