Solusi Pemerintah Kembangkan Mobil Listrik di Tengah Minimnya Infrastruktur Pendukung

0
315
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Nawacita – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah saat ini terus berupaya menyediakan infrastruktur pendukung dalam rangka pengembangan mobil listrik. Salah satu ketersediaan charging station atau Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU).

“Infrastruktur yang paling penting charging stadion itu kaitannya dengan tegangan berbeda. Kalau Electric Vehicle itu kan 380 VA kalau yang biasa kan 220 VA,” ungkapnya di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (4/7).

Karena itu, sampai infrastruktur dan komponen pendukung mobil listrik benar-benar siap, Pemerintah mendorong pengembangan dan mobil jenis plug-in hybrid.

“Solusi jangka pendek adalah plug-in hybrid. Plug-in Hybrid sama dengan bensin. Bahan bakarnya hanya untuk menghasilkan listrik. Penggeraknya sudah listrik. Sama dengan ada genset di bawah mobil. Tanpa infrastruktur sudah bisa jalan,” jelas dia.

“Kalau mobil hybrid masih dua. Ada komponen electric vehicle ada komponen yang combustion engine (mesin seperti pada mobil konvensional),” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya akan terus mendorong pengembangan industri baterai mobil dengan bahan dasar Nikel Kobalt. Kedua bahan baku ini, kata Airlangga sudah dimiliki oleh Indonesia.

Dengan ketersediaan dua sumber bahan baku tersebut, Menperin meyakini, teknologi baterai untuk mobil listrik dapat dikuasai terlebih dahulu.

“Indonesia punya sumber bahan baku untuk pembuatan komponen baterai, seperti nikel murni. Selain itu, ada satu bahan baku lainnya, yakni kobalt yang juga dapat mendukung pembuatan baterai. Potensi kobalt ini ada di Bangka,” ujar dia.

mrdk

 

 

LEAVE A REPLY