Cegah Gagal Paham, Ini Tips Moeldoko Ketika Hadir di Kantor GP Ansor

0
329
Moeldoko di Kantor Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Sabtu (2/6/2018)

JAKARTA, nawacita – Relevansi Pancasila dan Agama sangat kuat sebagai tameng penyebaran paham radikalisme. Keduanya dinilai bersinergi membentengi warga negara dari paparan paham berbahaya yang kini menyusup bahkan dalam dunia pendidikan.

Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko menyampaikan hal ini dalam peringatan Nuzulul Quran bersamaan dengan Hari Lahir Pancasila di Jakarta, Sabtu 2 Juni 2018 malam.

“Hubungan antara agama dengan Pancasila adalah hubungan yang saling memperkuat. Bukan saling bertentangan,” kata Moeldoko di Kantor Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Moeldoko menegaskan, peringatan Nuzulul Quran dan Hari Lahir Pancasilan adalah momentum untuk tidak mempertentangkan antara Pancasila dengan ideologi agama. Tapi justru memformulasikan antara agama dengan ideologi Pancasila agar saling memperkuat. “Itu poin sangat penting agar bangsa kita semakin besar dan kuat,” kata Kepala Kantor Staf Presiden itu kepada wartawan.

 

Lebih lanjut, Moeldoko menyinggung tentang maraknya penyebaran paham radikal, yang juga ditengarai sudah masuk sampai ke wilayah institusi pendidikan. “Paham radikal ini memang harus diselesaikan oleh pemerintah,” kata Moeldoko yang lebih menekankan tindakan preventif.

Selain langkah represif dengan pelibatan polisi, TNI, hingga Koopssusgab nanti, yang menurut Moeldoko tidak kalah penting adalah langkah preventif. “Seluruh elemen. Para aktor, pejabat, dan masyarakat memberi contoh dan teladan bagi anak-anak kita,” katanya lagi.

Pernyataanya itu juga ia lontarkan untuk mengomentari penangkapan yang dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri, di Universitas Riau (Unri). Ada tiga orang terduga teroris berinisial MNZ (32), RB alias D (34), dan OS alias K (32) yang merupakan alumnus Unri yang ditangkap.

Terkait penyusupan paham radikalisme, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto menjelaskan alasan Densus 88 melakukan penggeledahan untuk menindaklanjuti pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius, di mana sejumlah kampus terinfeksi virus radikalisme.

Setyo mengatakan, dari tangan para pelaku, Densus 88 telah menyita sejumlah barang bukti yang akan digunakan untuk melancarkan aksi amaliah, berupa bom pipa pesi, bahan jadi peledak TATP, sulfur, arang, gula, pupuk KN03, busur panah, anak panah, granat tangan dan senapan angin.

(qlh/oke)

LEAVE A REPLY