Kisah “Kartini” di Pedalaman Aceh & Perjuangan Perempuan untuk Bisa Sekolah

0
243
Ilustrasi
Ilustrasi

Aceh, Nawacita – Suasana pagi tengah sejuk. Tanah masih basah bekas guyuran hujan, semalaman. Matahari mulai memuncak. Seorang perempuan keluar dari rumahnya sembari melempar senyum, kepada ibu-ibu yang telah menunggunya di teras rumah berkontruksi kayu.

Di tangannya, perempuan itu memegang spidol dan buku catatan berukuran besar. Kemudian, langsung duduk di tengah sepuluhan ibu-ibu yang menderita buta huruf tersebut, dan langsung memanggil satu persatu untuk absen kehadirian.

Perempuan itu bernama Nurma (35). Dia merupakan guru bagi ibu-ibu tuna aksara itu, di salah satu desa pedalaman Aceh. Setelah mengecek muridnya, Nurma langsung berdiri menuju papan tulis warna putih yang sudah ditempel di dinding rumahnya, berukuran 1×1 meter persegi. “Ibu suka baca, baca buku baru, bagi –beli-gizi,” bubuhi Nurma di papan tulis.

Saat Nurma menulis di depan, para ibu-ibu itu juga ikut menulis. Ada yang lancar, ada juga yang masih belum bisa menulis bentuk huruf yang ada di papan tulis. Setelah menulis, Nurma melihat ke arah para ibu-ibu dan memberi aba-aba untuk membaca secara bersama.

Terlihat ada ibu-ibu yang sudah sedikit lancar dalam membaca, ada juga yang masih terbata-bata. Bahkan untuk membaca mereka harus mengeja kata demi kata. Melihat itu, Nurma langsung menghampiri muridnya untuk mengenali huruf dan mengajari membaca.

Meski begitu, suasana belajar para ibu-ibu buta huruf itu berlangsung santai dan ceria. Bahkan, saat belajar menulis, membaca, dan berhitung di rumah Nurma, para ibu-ibu itu turut membawa anak-anaknya.

“Ibu-ibu di sini ramai yang enggak bisa baca tulis. Ada yang memang belum pernah sekolah sama sekali,” kata Nurma kepada Okezone di Desa Melidi, beberapa waktu lalu.

Desa Melidi merupakan desa yang masih terpencil di Aceh. Letaknnya di Kacamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Sekira 80 persen orang dewasa di desa ini masih mengalami buta huruf, yang tidak bisa membaca, menulis dan berhitung.

Bahkan, untuk kebutuan penerangan sehari-hari, masyarakat desa ini masih belum tersalurkan listrik negara, sama dengan kondisi tiga desa lainnya di Kecamatan Simpang Jernih seperti Tampor Paloh, Tampor Boor, dan HTI Ranto Naro.

Untuk menuju ke Melidi, dari Banda Aceh harus menempuh perjalanan darat delapan jam ke Aceh Timur. Kemudian, dari Aceh Timur, melanjutkan perjalanan melewati dua kabupaten yakni Langsa dan Aceh Tamiang. Tiba di pelabuhan perahu kayu di Aceh Tamiang, selanjutnya harus menumpangi perahu milik warga yang membelah sungai Tamiang dengan jarak tempuh lima jam, baru tiba di Melidi.

Tak ada transportasi lain ketika ingin ke desa ini, bahkan resiko perahu terbalik sangat tinggi ketika air sungai meluap dengan arus yang sangat deras, sedangkan pemilik perahu tak menyediakan pelampung.

“Kalau dari Aceh Timur enggak ada jalan untuk ke Melidi, yang ada jalan harus lewat Aceh Tamiang,’’ kata Koordinator Bidang Pengorganisasian dan Advokasi Yayasan Sheep Indonesia, Husaini kepada Okezone.

Mengajar ibu-ibu buta hurus sudah digelut perempuan yang hanya tamatan sekolah dasar ini sejak 2010. Dirinya ikhlas tanpa memiliki banyaran sedikit pun untuk memberantas buta huruf di daerahnya. Nurma memiliki jadwal dua kali dalam seminggu untuk mengajari muridnya, yakni Jumat dan Minggu. Ibu tiga orang anak ini menginginkan ibu-ibu di desanya bebas dari buta huruf.

“Semangat belajar ibu-ibu di sini cukup baik, waktu pertama sekali saya mengajar memang mereka tidak bisa sama sekali. Bahkan ada seorang ibu jangankan membaca, pegang pulpen saja kaku seperti anak kelas 1 SD,” tambah Nurma.

Nurma menetap di Melidi sejak 2007, ikut suaminya yang merupakan warga asli setempat. Ketika itu daerah tersebut baru saja dilanda banjir bandang sungai Tamiang. Akibat lenyap karena banjir, desa mereka harus pindah ke dataran lebih tinggi. Sejak berdomisili di Melidi, Nurma melihat banyak ibu-ibu di daerah itu tidak bisa menulis. Ketika itu, cerita Nurma saat dirinya mengendalikan kegiatan Posyandu di desanya, dan kemudian dirinya memberi sebuah buku untuk ibu-ibu setempat untuk dibaca, dan ternyata para ibu-ibu tidak bisa membaca.

“Terus saya ajak untuk belajar, mau mereka. Dulu muridnya cuma tiga orang, terus semakin hari makin ramai yang datang bertambah lagi. Sekarang ada yang sudah enggak ikut belajar lagi karena sudah bisa baca, tulis, berhitung, bahkan ada yang sudah berani buka kios (kedai kecil),’’ ujarnya.

Nurma memiliki motivasi agar ibu-ibu di desanya tidak ada lagi yang buta huruf. Jadi ketika anak-anak dari ibu-ibu itu, kata Nurma, mendapatkan tugas sekolah maka orangtuanya mampu membantu mengerjakannya. Lantas, kalau ibunya tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung, bagaimana bisa akan membantu anaknya.

“Biar ibu-ibu ini ke depan biar enggak ada lagi buta huruf. Kalau bisa semua masyarakat di sini bisa baca tulis dan ajarin anaknya dan tanya pada anaknya ada PR (tugas sekolah) enggak. Kalau ibunya enggak bisa baca, hitung, gimana ngajarin anaknya,’’ ungkap Nurma.

Nurkasi (31) salah satu muridnya. Sejak kecil dirinya belum pernah merasakan sekolah formal. Sebelum mendapat kelas belajar dengan Nurma, dirinya sama sekali tidak bisa membaca, menulis, bahkan berhitung. Nurkasih sangat menginginkan dirinya bisa membaca, agar dirinya juga ikut membantu anaknya ketika sekolah.

“Sebelumnya, belum pernah sekolah, karena orang tua saya dulu tidak pernah tinggal di desa. Mereka selalu di ladang. Jadi sekolahnya kan jauh harus nyeberang sungai, anak perempuan tidak dikasih, biar abang-abang saja sekolah,” ungkap Nurkasih.

Setelah beberapa kali mengikuti belajar dengan Nurma, kini Nurkasih sudah bisa mengenali huruf-huruf, menulis, bahkan membaca meskipun masih berbata-bata. Tekad Nurkasih hanya ingin untuk balajar, jadi katanya, tidak ada rasa malu sedikit pun timbul dalam dirinya.

“Saya belajar mulai dari mengenal huruf ABC, sekarang sudah lumayan sikit-sikit bisa belajar membaca, hitung. Tidak ada rasa malu karena sama teman-teman di sini semua jadi rasanya semangat gitu,” ucap Nurkasih.

Nurma penah gagal dalam menempuh pendidikan. Dirinya hanya dapat bisa mengakhiri pendidikannya di akhir sekolah dasar. Nurma berneteskan air mata ketika berberita tentang pendidikan perempuan di daerahnya.

Nurma asal daerah kawasan Johan Aceh Tamiang. Sejak kecil dirinya tidak bisa melanjutkan sekolah, hanya berhenti di sekolah dasar. Karena, katanya, anak perempuan di daerahnya tidak diziinkan sekolah, selain lokasi sekolah jauh dan orang tua juga tidak memiliki biaya untuk sekolah.

“Sedangkan semua adik laki-laki saya tamat SMA,’’ ujar Nurma.

Menurut Nurma, perempuan itu berhak mendapatkan pendidikan sama dengan laki-laki. Sembari menangis, Nurma menyebutkan bahwa perempuan desa tidak bisa dibatas untuk melanjutkan pendidikan, harus berada di dapur selamanya. Dan keadaan yang ia alami, Nurma tidak ingin terjadi kepada tiga anak perempuannya. Dirinya ingin semua anaknya dapat sekolah setinggi-tingginya.

“Jangan mentang-mentang saya anak perempuan tidak disekolahkan. Saya mau buktikan kalau anak perempuan itu butuh pendidikan. Sekarang kesetaraan gender, tidak semua perempuan di dapur, padahal lelaki juga ada koki. Perasaan kecewa sih ada, sempat nangis karena tidak dikasih sekolah tapi ya sudah pasrah aja, karena orang tua tidak punya biaya,” ungkap Nurma.

Putri Nurma yang pertama bernama Dwi, kini sedang menempuh pendidikan di kelas satu SMA Meudang Ara, Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Dan menetap dengan orang tua Nurma di sana. Sedangkan dua putri perempuannya masih kecil, tinggal bersama Nurma dan suaminya, Aji Shah (42).

“Saya tidak mau mimpi mereka (anak saya) terkubur seperti saya. Anak saya ketiganya perempuan, saya ingin mereka sekolah lebih tinggi. Tidak ada batasan, kalau memang jiwanya sekolah, kami orang tua tinggal usahakan cari uang. Saya tidak ingin mereka seperti saya yang dilarang orang tuanya untuk sekolah,” pungkas Nurma.

oke

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY